Renungan Harian Kamis 13 Agustus 2026

Renungan Harian

Kamis 13 Agustus 2026

 

Nehemia 8: 9

Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-orang Lewi yang mengajar orang-orang itu, berkata kepada mereka semuanya: “Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!”, karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu.

 

Renungan: “Jangan Menangis, Sebab Hari Ini Kudus”

 

Coba kita bayangkan sebuah keadaan ini. Ada orang yang baru sadar, ia sudah lama salah. Ia sudah lama jauh dari Tuhan. Begitu ia sadar, ia menangis. Ia menyesal. Air matanya tidak bisa ditahan lagi. Begitulah yang terjadi pada bangsa Israel waktu itu. Mereka berkumpul di halaman kota. Ezra membacakan Kitab Taurat. Orang-orang Lewi menjelaskan artinya. Dan begitu mereka mendengar, mereka sadar, selama ini mereka sudah jauh melanggar firman Tuhan. Mereka pun menangis. Bukan menangis pura-pura. Tapi menangis sungguh-sungguh, sebab hati mereka hancur menyadari dosa mereka.

 

Tapi lihat apa yang terjadi selanjutnya: “Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-orang Lewi yang mengajar orang-orang itu, berkata kepada mereka semuanya: ‘Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!’” (Nehemia 8:9)

 

Menarik sekali, bukan? Nehemia dan Ezra tidak menyuruh mereka terus menangis lebih lama lagi. Padahal tangisan itu tangisan yang benar, tangisan orang yang sadar akan dosa. Tapi mereka menyuruh: “Berhentilah menangis. Sebab hari ini adalah hari kudus bagi Tuhan.”

 

Kenapa begitu? Sebab menyadari dosa itu penting. Menyesal itu penting. Tapi kalau kita terus-menerus terpuruk dalam penyesalan, kita bisa lupa satu hal yang lebih besar: Tuhan sudah mengampuni. Tuhan sedang memulihkan umat-Nya hari itu. Air mata boleh datang sebentar. Tapi jangan sampai air mata itu menutup mata kita dari sukacita, bahwa Tuhan sedang bekerja dan memulihkan umat-Nya.

 

Saudara/ i sekalian. Ada kalanya kita juga begitu. Kita sadar kita sudah berbuat salah. Kita menyesal. Kita menangis. Itu baik. Tapi ada bahayanya juga, kita bisa terus-menerus menghukum diri sendiri. Terus merasa tidak layak. Terus larut dalam rasa bersalah, sampai lupa bahwa Tuhan sudah lebih dulu mengulurkan tangan pengampunan-Nya.

 

Coba kita pikirkan. Seorang anak yang sudah minta maaf kepada orang tuanya, dan sudah dimaafkan, apakah baik kalau ia terus-menerus menangis dan menyalahkan diri sendiri berhari-hari? Tentu tidak. Orang tua yang baik akan berkata, “Sudahlah, Bapak/Ibu sudah maafkan. Sekarang mari kita jalani hari ini dengan baik.”

 

Begitulah Tuhan kepada kita. Ia tahu kita berdosa. Ia tahu kita menyesal. Tapi Ia juga mau kita berhenti terpuruk, dan mulai berjalan lagi bersama Dia, dengan hati yang tenang, bukan hati yang terus menghukum diri sendiri.

 

Mari kita bertanya pada diri sendiri hari ini: apakah kita masih terus memikul rasa bersalah yang sebenarnya sudah Tuhan ampuni? Ataukah kita berani percaya, hari ini adalah hari kudus bagi Tuhan, hari untuk berhenti menangisi masa lalu, dan mulai berjalan dengan hati yang baru? Jangan berdukacita dan menangis. Sebab hari ini kudus bagi Tuhan. Amin.

 

Tuhan Yesus memberkati.

Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh