Renungan Harian Senin 21 September 2026

Renungan Harian

Senin 21 September 2026

 

Roma 8: 28

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

 

Renungan: “Benang yang Tampak Kusut”

 

Di sebuah rumah tenun tua, seorang penenun perempuan duduk membelakangi kain yang sedang ia kerjakan. Dari sisi tempat kita berdiri, yang terlihat hanyalah benang-benang kusut, simpul yang berantakan, warna-warna yang tampak asal ditumpuk tanpa pola. Kalau seseorang baru pertama kali melihatnya dari sisi ini, ia akan berkata: “Ini kacau. Ini tidak masuk akal. Kenapa dibiarkan seburuk ini?”

 

Tapi si penenun tahu sesuatu yang tidak diketahui orang yang berdiri di belakangnya. Ia tahu, di sisi lain kain itu, sedang terbentuk sebuah pola yang indah, dan setiap benang yang tampak salah tempat dari sisi belakang, ternyata punya posisinya sendiri yang tepat di sisi depan.

 

Begitulah kira-kira gambaran yang ingin disampaikan Paulus ketika ia menulis kepada jemaat di Roma, yang sedang menghadapi penganiayaan, ketidakpastian, dan penderitaan yang nyata: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Rm. 8:28)

 

Kita ini, kebanyakan waktu, berdiri di sisi belakang kain itu. Kita melihat benang kusut bernama kehilangan. Kita melihat simpul kasar bernama kegagalan. Kita melihat warna yang tampak salah tempat bernama kekecewaan yang tidak pernah kita minta. Dan dari sudut pandang kita, wajar sekali kalau hati bertanya: Tuhan, apa maksud dari semua kekacauan ini?

 

Yusuf pernah berdiri di sisi belakang kain itu, bertahun-tahun lamanya. Dibuang saudaranya sendiri ke dalam sumur. Dijual sebagai budak. Difitnah, dipenjarakan atas kejahatan yang tidak pernah ia lakukan. Bertahun-tahun ia hanya melihat benang kusut, tidak ada yang masuk akal, tidak ada pola yang terlihat.

 

Tapi Sang Penenun sedang bekerja, meski Yusuf tidak melihatnya. Dan bertahun-tahun kemudian, ketika kain itu akhirnya dibalik, Yusuf sendiri yang berkata kepada saudara-saudaranya yang dulu membuangnya: “Kamu bermaksud jahat terhadapku, tetapi Allah bermaksud baik.” Ia tidak tahu itu selama prosesnya berlangsung. Ia hanya tahu setelah polanya selesai ditenun.

 

Di sinilah pentingnya kita memperhatikan siapa yang dibicarakan Paulus. Bukan janji ini berlaku otomatis untuk semua orang, dalam situasi apa pun, tanpa syarat. Ayat ini adalah pengharapan bagi mereka yang mengasihi Allah, yang hidupnya sudah terjalin di dalam rencana-Nya. Sebab, seorang yang menenun kain hanya bisa menenun benang yang sudah diserahkan kepadanya. Jika benang itu ditarik lepas, dibawa pergi ke tempat lain, sang penenun tidak bisa memaksakan pola apa pun atasnya. Mengasihi Allah berarti membiarkan benang kehidupan kita tetap berada di tangan-Nya, bahkan ketika bagian yang sedang ditenun terasa gelap, kusut, dan tidak masuk akal.

 

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, mungkin ada di antara kita yang sedang berdiri tepat di sisi belakang kain itu sekarang. Melihat benang yang kusut. Simpul yang tampak salah. Warna yang tidak kita mengerti kenapa harus ada di sana. Dan hati kita bertanya, sama seperti yang mungkin dulu ditanyakan Yusuf di dasar sumur: Tuhan, di mana Engkau dalam semua ini?

 

Firman hari ini tidak menjanjikan kita akan segera melihat sisi depan kain itu. Tapi ia menjanjikan sesuatu yang lebih berharga: bahwa Sang Penenun tidak pernah berhenti bekerja, bahkan pada benang yang paling kusut sekalipun, selama kita membiarkannya tetap ada di tangan-Nya.

 

Kita mungkin belum melihat pola itu hari ini. Tapi Sang Penenun sedang bekerja. Dan kelak, kain itu akan dibalik, dan kita akan mengerti, bahwa segala sesuatu, sungguh, telah dianyam menjadi kebaikan.

 

Tuhan Yesus memberkati.

Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh