Renungan Harian Senin 20 April 2026

Renungan Harian
Senin 20 April 2026

Mazmur 40: 17
Biarlah bergembira dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu tetap berkata: “TUHAN itu besar!”

Renungan: “Bersukacita di Tengah Pencarian”

Hidup sering kali tidak berjalan sesuai dengan harapan. Ada masa di mana kita merasa sedang mencari: mencari jalan keluar, mencari jawaban, mencari pertolongan Tuhan, namun yang kita temukan justru ketidakpastian. Dalam keadaan seperti itu, sukacita sering kali terasa jauh. Sukacita seolah hanya milik mereka yang hidupnya tenang dan tanpa masalah.

Namun Mazmur ini memberikan perspektif yang berbeda. Pemazmur tidak berkata bahwa orang bersukacita adalah mereka yang sudah selesai dengan pergumulannya, tetapi justru mereka yang sedang mencari Tuhan. Ini sangat penting. Artinya, sukacita dalam iman bukanlah hasil dari keadaan yang ideal, melainkan lahir dari relasi yang hidup dengan Tuhan. Orang yang mencari Tuhan tetap bisa bersukacita, bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena ia tahu ke mana ia harus datang.

Di sinilah kita melihat bahwa iman bukan sekadar menunggu jawaban, tetapi menikmati kehadiran Tuhan dalam proses pencarian itu sendiri. Ketika seseorang terus mencari Tuhan, ia sedang menempatkan dirinya dalam arah yang benar. Dan di dalam arah itulah sukacita mulai bertumbuh, bukan sukacita yang dangkal, tetapi sukacita yang berakar dalam pengharapan.

Pemikiran ini sejalan dengan apa yang pernah ditekankan oleh John Calvin, bahwa sukacita sejati orang percaya tidak bergantung pada keadaan luar, melainkan pada keyakinan bahwa Allah memelihara hidupnya. Bahkan di tengah pergumulan, orang percaya tetap memiliki alasan untuk bersukacita, karena hidupnya berada dalam tangan Tuhan yang setia.

Mazmur ini juga menyebutkan tentang mereka yang “mencintai keselamatan dari pada-Mu.” Ini menunjuk pada hati yang menghargai karya Tuhan, yang merindukan pertolongan-Nya, dan yang menggantungkan harapannya kepada-Nya. Dari hati seperti inilah lahir pengakuan iman: “TUHAN itu besar!” Ini bukan sekadar ucapan liturgis, tetapi sebuah deklarasi iman di tengah realitas hidup. Mengatakan “Tuhan itu besar” bukan berarti hidup kita bebas dari masalah, tetapi berarti kita percaya bahwa Tuhan lebih besar dari masalah kita.

C. S. Lewis pernah menulis bahwa sukacita adalah urusan yang serius di surga. Ia ingin menunjukkan bahwa sukacita dalam iman bukanlah sesuatu yang ringan atau dangkal, melainkan sesuatu yang dalam dan kokoh, yang lahir dari hubungan dengan Tuhan. Sukacita seperti ini tidak mudah diguncangkan, karena dasarnya bukan situasi, melainkan Tuhan sendiri.

Dalam konsep meaning-making (pemberian makna), seseorang mampu bertahan dan bahkan bertumbuh di tengah kesulitan ketika ia memiliki makna yang lebih besar dalam hidupnya. Dalam iman Kristen, makna itu ditemukan dalam relasi dengan Tuhan. Ketika seseorang mencari Tuhan dan menemukan makna dalam kehadiran-Nya, ia dapat mengalami sukacita bahkan di tengah pergumulan.

Karena itu, Mazmur ini mengajak kita untuk mengubah cara pandang kita. Sukacita bukanlah tujuan akhir setelah semua masalah selesai, tetapi bagian dari perjalanan iman ketika kita terus mencari Tuhan. Di tengah ketidakpastian, kita tetap bisa bersukacita. Di tengah pergumulan, kita tetap bisa berkata: “TUHAN itu besar!”

Hari ini, mungkin kita masih dalam proses mencari. Mencari jawaban, mencari pertolongan, mencari jalan keluar. Mazmur ini mengingatkan bahwa selama kita mencari Tuhan, kita tidak sedang berjalan sia-sia. Justru di sanalah sukacita mulai tumbuh. Sebab pada akhirnya, iman bukan tentang seberapa cepat kita menemukan jawaban, tetapi tentang seberapa setia kita tetap mencari Tuhan. Dan di dalam pencarian itu, kita belajar untuk terus berkata dengan penuh keyakinan: “TUHAN itu besar!” Amin.

Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *