Renungan Harian
Lukas 9:23
Kata-Nya kepada mereka semua: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
Renungan: “Menyangkal Diri: Keputusan yang Diambil Setiap Hari, Bukan Sekali Seumur Hidup”
Ada satu kesalahpahaman umum tentang mengikut Yesus: banyak orang mengira itu adalah keputusan sekali jadi. Sekali berjanji, sekali dibaptis, sekali menyatakan iman di depan jemaat, lalu selesai, tinggal menjalani sisa hidup dengan status “sudah percaya”. Tapi coba dengar baik-baik apa yang Yesus katakan sendiri: “Kata-Nya kepada mereka semua: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.’” (Luk. 9:23)
Perhatikan tiga frasa dalam ayat ini, dan urutannya. Menyangkal diri. Memikul salib. Setiap hari. Bukan sekali seumur hidup. Setiap hari.
Kata “menyangkal diri” dalam bahasa Yunani, aparneomai, adalah kata yang sama dipakai untuk menggambarkan Petrus yang menyangkal mengenal Yesus tiga kali. Menariknya, di sini kata itu dipakai sebaliknya, bukan menyangkal Kristus, melainkan menyangkal diri sendiri. Setiap hari kita dipanggil untuk menempatkan kehendak Kristus di atas kehendak kita sendiri.
Lalu “memikul salib setiap hari”. Bagi pendengar Yesus saat itu, salib bukan simbol perhiasan atau lambang gereja yang indah. Salib adalah alat eksekusi paling mengerikan pada zaman itu. Ketika Yesus berkata “pikullah salibmu”, pendengar-Nya membayangkan seorang terpidana yang berjalan menuju kematiannya sendiri. Yesus sedang berkata: mengikut Aku berarti siap kehilangan hidup lama kita sepenuhnya, setiap hari, bukan sekali saja.
Ada sebuah kisah yang selama ini beredar luas di kalangan gereja, tentang asal mula sebuah lagu yang sering kita nyanyikan.
Menurut kisah yang diceritakan turun-temurun, pada abad ke-19, seorang pria dari suku Garo di Assam, India Timur Laut, bernama Nokseng, menerima Kristus bersama keluarganya di tengah desa yang belum mengenal Injil. Kepala suku murka. Ia menangkap Nokseng dan keluarganya, mengancam akan membunuh mereka satu per satu jika tidak mau menyangkal iman mereka. Setiap kali diberi kesempatan untuk menyangkal Kristus, Nokseng tetap menjawab dengan kalimat yang sama: “I have decided to follow Jesus, no turning back.”
Ketika gilirannya sendiri tiba, ia mengucapkan kalimat terakhirnya sebelum dieksekusi: “Salib di depanku, dunia di belakangku. Tidak ingkar, tidak ingkar.” Menurut kisah ini, kesaksian imannya yang teguh justru menggerakkan hati sang kepala suku sendiri untuk percaya kepada Kristus, dan menyusul seluruh penduduk desa itu.
Bertahun-tahun kemudian, kata-kata terakhir Nokseng itu digubah menjadi himne yang kini kita kenal dalam Buku Ende nomor 690, “Hibul Rohangku”: Hibul rohangku tu Tuhan Jesus,
sude ngolungku di Tuhan Jesus, ihuthononku do Tuhan Jesus, ndang olo au sumurut be.
Lalu bait keduanya menggemakan persis apa yang Yesus maksud dengan “menyangkal diri”: Sai hutundalhon haportibion, Silang ni Kristus ma hudapothon, sai hutundalhon haportibion,
ndang olo au sumurut be.
Dan bait ketiga, yang menggambarkan kesetiaan meski harus sendirian menanggung akibatnya: Tung so adong pe na olo dohot, alai rohangku sai marsihohot, tung so adong pe na olo dohot,
ndang olo au sumurut be.
Coba kita rasakan, lagu yang mungkin sering kita nyanyikan begitu saja di ibadah, ternyata lahir dari darah seorang yang benar-benar mempraktikkan Lukas 9:23 sampai ke titik terakhir hidupnya. Ia menyangkal dirinya sendiri. Ia memikul salibnya. Bukan sekali, tapi setiap kali diberi kesempatan untuk mundur, ia memilih tetap maju.
Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita mungkin tidak pernah dihadapkan pada pilihan seekstrem yang dihadapi Nokseng. Tapi “menyangkal diri dan memikul salib setiap hari” tetap nyata dalam bentuk yang lebih halus, dalam keseharian kita: memilih jujur ketika kebohongan lebih menguntungkan, memilih mengampuni ketika dendam terasa lebih pantas, memilih menyediakan waktu untuk Tuhan ketika kesibukan berteriak lebih dulu.
Yang menjadi tantangan sesungguhnya bukanlah soal seberapa besar pengorbanan yang mungkin dituntut dari kita, melainkan soal konsistensi: maukah kita mengambil keputusan itu lagi hari ini, dan besok, dan lusa?
Pertanyaan renungan hari ini: adakah bagian dari diri kita yang masih kita pertahankan, yang sebenarnya perlu kita “sangkal” hari ini demi mengikut Kristus dengan sungguh? Sebab mengikut Yesus bukan keputusan sekali seumur hidup, melainkan keputusan yang harus kita ambil ulang setiap pagi kita bangun, seperti yang digemakan “Hibul Rohangku”: ndang olo au sumurut be, aku tidak akan mundur lagi.
Menyangkal diri, memikul salib, setiap hari, dan mengikut Dia. Itulah keputusan kita, hari ini, dan tidak akan ingkar. Amin.
Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh
