Renungan Harian
Nahum 1: 12
Beginilah firman Tuhan: ”Sekalipun mereka utuh dan begitu banyak jumlahnya, tetapi mereka akan hilang terbabat dan mati binasa; sekalipun Aku telah merendahkan engkau, tetapi Aku tidak akan merendahkan engkau lagi.
Renungan: “Ditindas Sekali, Tidak untuk Selamanya”
Ada orang yang mengalami penindasan begitu lama, sampai mereka mulai percaya bahwa itu memang nasib mereka selamanya. Anak yang dibesarkan dalam rumah tangga yang keras, tumbuh dewasa dengan keyakinan diam-diam bahwa dirinya memang pantas diperlakukan buruk. Pekerja yang bertahun-tahun ditindas atasan yang semena-mena, mulai berpikir bahwa memang begitulah hidup, selalu di bawah, selalu tertekan, tanpa harapan berubah. Bangsa yang berkali-kali dijajah dan ditindas, kadang mewariskan trauma itu turun-temurun, seolah penindasan adalah takdir yang tidak bisa diputus.
Bangsa Yehuda mengalami sesuatu yang mirip. Selama bertahun-tahun mereka hidup dalam bayang-bayang kekuatan Asyur, kerajaan adidaya yang kejam dan menindas siapa saja yang melawan. Niniwe, ibu kota Asyur, menjadi simbol teror yang begitu nyata bagi bangsa-bangsa kecil di sekitarnya. Yehuda pun pernah merasakan tindasan itu langsung dari tangan Tuhan sendiri, sebagai bentuk didikan atas ketidaksetiaan mereka. Wajar jika mereka mulai bertanya-tanya: apakah penindasan ini akan terus berlanjut selamanya?
Di tengah situasi itulah datang firman Tuhan lewat Nabi Nahum, sebuah nubuat penghakiman atas Niniwe sekaligus penghiburan bagi Yehuda: “Beginilah firman TUHAN: ‘Sekalipun mereka itu penuh tenaga dan berjumlah besar, namun mereka akan digunting dan lenyaplah mereka. Sekalipun engkau telah Kutindas, tetapi Aku tidak akan menindas engkau lagi.’” (Nahum 1:12)
Perhatikan dua bagian penting dalam ayat ini. Pertama, tentang Asyur, kekuatan yang tampak begitu perkasa, “penuh tenaga dan berjumlah besar,” ternyata punya batas waktu di tangan Tuhan. Sehebat apa pun kekuatan yang menindas umat Tuhan, ia tidak akan bertahan selamanya.
Kedua, dan ini bagian yang paling menyentuh, Tuhan berbicara langsung kepada Yehuda tentang penindasan yang mereka alami dari tangan-Nya sendiri: “Sekalipun engkau telah Kutindas, tetapi Aku tidak akan menindas engkau lagi.” Ini bukan kekejaman sewenang-wenang. Ini disiplin dari tangan Bapa yang mengasihi, yang punya batas waktu dan tujuan yang jelas, bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk memurnikan. Dan yang paling penting, Tuhan menjanjikan: itu tidak akan berulang selamanya.
Ratusan tahun setelah nubuat Nahum, kebenaran yang sama dialami seorang pengacara sukses di Chicago bernama Horatio Spafford. Dalam kurun waktu singkat, hidupnya diterjang tragedi bertubi-tubi: kebakaran besar Chicago tahun 1871 menghancurkan seluruh investasi propertinya, lalu tahun 1873 keempat putrinya meninggal tenggelam dalam kecelakaan kapal yang menyeberangi Samudra Atlantik, hanya istrinya yang selamat. Ketika Spafford berlayar menyusul istrinya yang sedang berduka, kapten kapal memberi tahu saat mereka melewati lokasi kira-kira di mana kapal anak-anaknya tenggelam. Di titik itulah, di tengah lautan yang menjadi kuburan keempat putrinya, Spafford menuliskan lirik yang kelak dikenal luas di seluruh dunia, termasuk di tanah Batak.
Bapak, Ibu, Saudara sekalian mungkin lebih mengenalnya lewat versi Buku Ende HKBP Nomor 213: “Dung Sonang Rohangku”, terjemahan dari himne “It Is Well with My Soul”. Liriknya berbunyi: “Dung sonang rohangku dibaen Jesus i, porsuk pe hutaon dison. Na pos do rohangku di Tuhanta i, dipasonang tongtong rohangkon.” Sudah tenang hatiku oleh Yesus, sekalipun penderitaan masih kualami di dunia ini, sebab hatiku percaya penuh kepada Tuhan, yang terus-menerus menenangkan hatiku.
Spafford tidak menulis lagu itu setelah badainya berlalu. Ia menulisnya di tengah-tengah badai itu sendiri, persis di atas air yang merenggut anak-anaknya. Namun ia berpegang pada kebenaran yang sama seperti yang dijanjikan Tuhan kepada Yehuda: penderitaan ini, sekeras apa pun terasa, tidak akan menjadi identitas permanennya. Ada tangan Tuhan yang menopang, bahkan ketika penindasan hidup terasa begitu berat.
Itulah sebabnya lagu ini terus dinyanyikan turun-temurun oleh jemaat Batak hingga hari ini, bukan sekadar lagu indah, tetapi pengakuan iman bahwa sesungguhnya di tengah “porsuk” (penderitaan) yang kita alami di dunia ini, hati tetap bisa sonang, tenang, karena percaya penuh kepada Tuhan yang menopang.
Bapak, Ibu, Saudara sekalian, mungkin kita sedang mengalami sesuatu yang terasa seperti “tindasan” dalam hidup kita, entah tekanan dari luar yang terasa begitu besar dan tak terkalahkan, atau masa sulit yang kita yakini adalah didikan Tuhan atas kesalahan kita sendiri. Ada kalanya masa sulit itu terasa begitu panjang, sampai kita mulai berpikir, mungkin inilah nasib kita selamanya.
Firman Tuhan hari ini, dan kesaksian hidup Spafford yang terus bergema lewat “Dung Sonang Rohangku,” berkata sebaliknya. Kekuatan yang menindasmu, sehebat apa pun ia tampak, punya batas waktu di tangan Tuhan. Dan didikan yang kau alami dari tangan-Nya, sekeras apa pun terasa, bukan untuk selamanya, ia punya tujuan, dan ia punya akhir.
Pertanyaan renungan hari ini: masa sulit apa yang sedang kita jalani sekarang, yang membuat kita hampir percaya bahwa ini akan berlangsung selamanya? Percayalah, Tuhan yang mengizinkan masa itu terjadi adalah Tuhan yang sama yang sudah menentukan kapan itu akan berakhir, dan Ia berjanji, tidak akan menindas untuk selamanya.
Sekalipun kau pernah ditindas, itu tidak untuk selama-lamanya. Sebab Tuhan yang mengizinkan masa sukar itu, adalah Tuhan yang juga menyediakan akhirnya. Dung sonang rohangku, dibaen Tuhanta Jesus i. Amin.
Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh
