Renungan Harian
Rabu 1 Juli 2026
1 Tesalonika 3: 12
Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu.
Renungan: “Kasih yang Melimpah Melampaui Layar Kaca”
Setiap pagi, jari kita refleks membuka media sosial, menggulir story, melihat siapa yang sudah membalas chat, menghitung siapa yang “read” tapi tidak membalas. Ironisnya, di tengah ribuan “koneksi” digital, banyak orang justru merasa semakin terasing. Kita terhubung dengan dunia, tapi sering kehilangan kehangatan kasih yang sesungguhnya kepada orang-orang di sekitar kita, bahkan kepada saudara seiman yang duduk di bangku gereja yang sama.
Paulus menulis kepada jemaat Tesalonika: “Dan kiranya Tuhan menumbuhkan dan melimpahkan kasihmu seorang kepada yang lain dan kepada semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu” (1 Tes. 3:12). Kata Yunani yang dipakai untuk “menumbuhkan dan melimpahkan” adalah “pleonasai” dan “perisseusai”, dua kata yang sama-sama berbicara tentang kelimpahan yang melampaui ukuran normal, seperti air yang tumpah ruah dari wadahnya. Ini bukan kasih yang pas-pasan atau sekadar cukup untuk basa-basi sosial, melainkan kasih yang meluap, yang Paulus sendiri tidak bisa hasilkan, karena itu ia berdoa, “kiranya Tuhan” yang melakukannya.
Teolog Gordon Fee, dalam tafsirnya atas surat-surat Tesalonika, menekankan bahwa kasih di sini bukan emosi yang pasif, melainkan tindakan aktif yang berakar dalam karya Roh Kudus, sesuatu yang “ditumbuhkan” (auxēsai) seperti tanaman yang terus bertumbuh tanpa henti. Fee mencatat bahwa pertumbuhan kasih ini ditujukan bukan hanya ke dalam (sesama jemaat) tetapi juga keluar (“kepada semua orang”), sebuah kasih yang tidak membatasi dirinya pada lingkaran nyaman kita sendiri.
Dalam konteks budaya Batak, prinsip “dalihan na tolu” mengajarkan relasi yang saling menghormati dan menjaga keseimbangan dalam komunitas. Tetapi kasih yang dimaksud Paulus melangkah lebih jauh dari sekadar menjaga harmoni sosial, ia memanggil kita kepada kasih yang berinisiatif, yang melimpah keluar dari hati yang telah disentuh Tuhan terlebih dahulu.
Secara praktis, kasih yang melimpah ini bisa dimulai dari hal kecil: menelepon, bukan sekadar mengirim emoji; mengunjungi, bukan sekadar mengomentari unggahan; mendoakan dengan menyebut nama, bukan sekadar “doain ya” yang lewat begitu saja. Kasih sejati membutuhkan kehadiran nyata, bukan kehadiran maya.
“Kasih yang sejati tidak pernah berhenti pada ucapan, ia selalu mencari jalan untuk menjadi tindakan yang nyata.”
Mari berdoa seperti Paulus berdoa: bukan agar kita mampu mengasihi dengan kekuatan sendiri, tetapi agar Tuhan sendiri yang menumbuhkan dan melimpahkan kasih itu di dalam kita, hingga melimpah keluar kepada semua orang.
Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh
