Renungan Harian Senin 29 Juni 2026

Renungan Harian

Senin 29 Juni 2026

 

Renungan: “Apa yang kamu tatap, itulah yang membentukmu”

 

Pernahkah saudara mengetik tujuan yang salah di Google Maps? Saudara berkendara dengan percaya diri selama satu jam, mengikuti setiap petunjuk dengan taat, hanya untuk tiba di tempat yang sama sekali bukan yang saudara maksud. Masalahnya bukan pada jalannya. Bukan pada mobilnya. Masalahnya ada di titik tujuan yang dimasukkan sejak awal. Begitulah banyak orang Kristen menjalani hidup: aktif bergerak, rajin beribadah, tekun berdoa, tetapi tujuan yang tertanam dalam pikiran tetap adalah hal-hal duniawi. Kita bergerak, tetapi ke arah yang keliru.

 

Paulus membuka Kolose 3 dengan kata “karena itu”, sebuah jembatan teologis yang sangat penting. Ia sedang menyambungkan identitas baru orang percaya (dibangkitkan bersama Kristus, pasal 2) dengan tanggung jawab hidup sehari-hari.

 

Kata Yunani untuk “carilah” adalah ζητεῖτε (zēteite), bentuk imperatif present, artinya: ‘teruslah mencari, jadikan ini kebiasaan aktif yang tidak berhenti.’ Ini bukan pencarian satu kali, melainkan orientasi hidup yang berkelanjutan. Sedangkan “pikirkanlah” berasal dari φρονεῖτε (phroneite), yang lebih dalam dari sekadar berpikir. Ini menyangkut seluruh orientasi batin: nilai-nilai, prioritas, afeksi, dan apa yang kita anggap berharga. Ini adalah Weltanschauung, cara pandang dunia yang menyeluruh.

 

Paulus tidak menyuruh kita meninggalkan bumi secara fisik. Ia menyerukan sesuatu yang jauh lebih radikal: mengubah pusat gravitasi seluruh kehidupan batin kita, dari yang sementara kepada yang kekal, dari yang terlihat kepada yang tidak terlihat, dari yang fana kepada yang abadi.

 

Di era notifikasi tanpa henti, konten yang membanjiri layar, dan tekanan performa yang konstan, pikiran kita adalah medan perang yang paling sering diabaikan. Kolose 3:1-2 memanggil kita untuk: menyeleksi apa yang mengisi pikiran pagi hari, apakah firman Tuhan atau media sosial yang pertama kali membentuk suasana hati kita? Mengevaluasi ulang ambisi, apakah yang kita kejar hari ini memiliki nilai kekal, atau hanya nilai sosial sesaat? Melatih pikiran seperti melatih otot, secara disiplin membawa setiap pikiran ke dalam ketaatan kepada Kristus (2 Korintus 10:5). Pikiran yang diarahkan ke atas bukan berarti pikiran yang tidak realistis. Justru sebaliknya, pikiran yang paling jernih adalah pikiran yang sudah diselaraskan dengan perspektif kekal.

 

“Orang yang pikirannya tertuju ke surga bukan orang yang lari dari bumi, ia justru adalah orang yang paling tahu bagaimana hidup di bumi dengan benar, karena ia melihat segala sesuatu dari ketinggian yang tepat.”

 

Tuhan Yesus memberkati.

Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh