Renungan Harian
Senin 18 Mei 2026
Ayub 19: 25
Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu.
Renungan: “Saat Semua Runtuh, Penebusku Tetap Berdiri”
Pernahkah saudara merasa ditinggalkan sendirian di tengah reruntuhan hidup? Seorang ayah tiba-tiba kehilangan pekerjaan, lalu sakit parah, dan sahabat-sahabatnya malah menyalahkan dia. Ia berteriak dalam hati, “Tuhan, mengapa semua ini terjadi? Di mana Engkau?” Ia seperti berdiri di tepi jurang keputusasaan. Namun di tengah gelap itu, sebuah keyakinan aneh justru muncul, bukan karena keadaan membaik, melainkan karena ia ingat satu kebenaran: “Penebusku hidup.”
Itulah yang dialami Ayub. Setelah kehilangan harta, anak-anak, dan kesehatannya, serta dituduh oleh sahabat-sahabatnya sendiri, Ayub tidak menyerah pada kepahitan. Dari dalam penderitaannya yang terdalam, ia berseru dengan iman yang mengejutkan: “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu” (Ayub 19:25). Kata Penebus (dalam bahasa Ibrani: go’el) merujuk pada kerabat yang bertindak sebagai pembela, penolong, dan pemulih hak. Ayub sadar, ketika semua pembela manusia pergi, Allah sendirilah yang menjadi Pembela dan Penebusnya, bukan sekadar konsep, tetapi Pribadi yang hidup.
Yang luar biasa, Ayub mengucapkan pengakuan ini sebelum ia melihat pemulihan apa pun. Iman yang sejati tidak menuntut jawaban langsung; ia percaya bahwa pada akhirnya Sang Penebus akan “bangkit di atas debu”, berdiri dengan penuh otoritas atas seluruh bumi yang fana ini, menyatakan kemenangan dan keadilan. Dalam terang Perjanjian Baru, kita tahu bahwa Yesus Kristus adalah Penggenapan Go’el itu: Dia yang menebus kita dari dosa, bangkit dari kematian, dan suatu hari akan kembali sebagai Raja yang berdiri di atas segalanya.
Bagi saudara yang hari ini terus berseru dalam doa, tetapi seolah langit diam saja, ingatlah: seruan saudara tidak pernah hilang ditelan sunyi. Penebusmu hidup. Dia mendengar setiap jerit hati dan menghitung setiap air mata. Mungkin pemulihan belum terlihat, tetapi letakkan keyakinan kita bukan pada apa yang tampak, melainkan pada Pribadi yang telah bangkit. Setiap kali putus asa mendera, ingatlah: “Aku tahu Penebusku hidup.” Dialah yang setia berdiri bagi kita, bahkan saat semua yang lain runtuh.
“Di tengah puing-puing harapan, ingatlah: Penebusmu hidup. Ia tidak tunduk pada debu, tetapi berdiri di atasnya; dan suatu hari nanti, Ia akan membangkitkanmu bersama-Nya.”
Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh
