ROMPI NEON & ROMPI KASIH: Refleksi Santai tentang Musibah, Kepedulian, dan Panggilan Gereja
“Musibah datang tanpa janji, tapi selalu membawa dua hal: kepedihan… dan kesibukan para pemimpin ber-rompi neon.”
Beberapa minggu ini hidup rasanya seperti sedang ikut “kelas uji kesabaran nasional.”
Di Sumatera terjadi musibah, di Jakarta banjir, di tempat lain tanah bergerak entah ke mana.
Dan di antara semua itu, grup WA keluarga kembali aktif seperti call center, semua kirim video yang sama, cuma resolusinya beda-beda.
Tapi ada satu hal yang selalu membuat tersenyum (setidaknya sedikit):
para pejabat kita tiba-tiba bermunculan di lokasi musibah dengan rompi neon super terang.
Entah siapa yang memutuskan bahwa warna kuning stabilo, oranye menyala, dan lengkap dengan logo itu adalah seragam wajib.
Mungkin supaya gampang dicari kalau tersesat.
Atau supaya lebih fotogenik.
Atau ya… memang itu yang tersedia di gudang instansi.
Yang jelas, rompi neon seperti sudah punya “hukum alam”:
kalau rompi neon sudah muncul, berarti sedang ada musibah.
Lalu muncul kebijakan:
“Biaya pengobatan korban ditanggung.”
Nahhh… ini baru kabar yang membuat kita spontan bilang, “Puji Tuhan!”
Karena walaupun kita tidak tahu apa yang terjadi di balik layar, orang-orang yang sedang sakit dan luka pasti sangat tertolong.
Dan saya pribadi percaya,
kebaikan, apapun motivasinya, tetaplah kebaikan. Daido?
Titik.
Rompi Neon: Simbol “Aku datang, siapkan kamera dan mic!”
Jujur saja, rompi neon itu lucu.
Bentuknya sederhana, tapi efek dramatisnya besar.
Begitu dipakai, seseorang langsung terlihat:
• sibuk,
• penting,
• dan entah kenapa… lebih fotogenik.
Kalau ada yang datang tanpa rompi neon, rasanya kok kurang lengkap.
Seperti datang ke pesta Natal tanpa lilin: ya boleh sih, tapi kurang anak komplek.
Dan lucunya lagi, rompi neon itu mengingatkan saya pada diri kita sendiri.
Iya, kita.
Soalnya kalau teman kita mengalami musibah, kita juga kadang punya “rompi neon” versi emosional:
• tiba-tiba muncul dengan nasihat panjang,
• tiba-tiba sok jadi psikolog,
• tiba-tiba paling bijaksana di ruangan.
Padahal biasanya… ya biasa saja.
Dan di titik itulah saya sadar:
manusia memang lucu.
Termasuk saya.
Termasuk kita semua.
Gereja Tidak Butuh Rompi Neon (Walaupun kalau bagus sih boleh)
Gereja tidak dipanggil untuk tampil paling terang secara warna bajunya.
Gereja dipanggil untuk terang dalam kasih-Nya.
Kalau pejabat datang dengan rompi neon,
gereja datang dengan:
• pelukan,
• kunjungan,
• doa,
• tangan yang siap membantu,
• dan telinga yang mau mendengarkan (tanpa langsung memberi ceramah 3 bab).
Kasih itu tidak butuh highlight marker warna stabilo.
Kasih justru bekerja paling kuat ketika tidak berisik.
Kadang kamera tidak menangkapnya.
Kadang orang lain tidak tahu.
Kadang tidak ada rompi neon.
Tapi surga menyaksikan!
Dan bagi orang percaya itu sudah lebih dari cukup.
“Biaya Pengobatan Ditanggung”: Ketika kebijakan mengajarkan sesuatu
Saya suka ketika ada pejabat berkata:
“Biaya pengobatan korban akan kami tanggung.”
Karena itu mengingatkan pada prinsip sederhana dalam Alkitab:
“yang menderita tidak butuh banyak bicara, mereka butuh pertolongan.”
Sementara gereja kadang kebalikannya:
• rapatnya panjang,
• notulen 4 halaman,
• keputusannya ditunda,
• ujung-ujungnya bertanya, “Kita buat panitia dulu atau bagaimana?”
Padahal yang luka itu tidak menunggu panitia.
Yang sakit tidak menunggu SK.
Yang hancur tidak menunggu rapat periode berikutnya.
Kasih itu selalu lari lebih cepat daripada birokrasi.
Minimal itu harapannya.
Akhirnya, Kita Semua Hanya Sesama Pelayan
Kita tidak perlu rompi neon untuk terlihat peduli.
Kadang hal paling kecil yang kita lakukan justru paling berarti:
• mengantar nasi kotak,
• menemani menangis,
• mengambilkan obat,
• atau hanya duduk diam di samping seseorang yang sedang bingung.
Tuhan Yesus tidak pernah memakai rompi neon.
Tapi Ia selalu terlihat, justru karena kasih-Nya.
Dan itu model kasih yang ingin kita ikuti.
Penutup: Musibah Akan Lewat, Kasih Tetap Mengalir
Musibah akan berlalu.
Air surut.
Luka membaik.
Rumah dibangun kembali.
Tapi kasih yang kita berikan hari ini,
cara kita hadir tanpa kamera,
tanpa sorotan,
tanpa rompi neon…
itu akan tinggal lama dalam hati orang-orang yang menerimanya.
Kalau para pemimpin hadir dengan rompi neon,
biarkan gereja hadir dengan rompi kasih.
Karena warna neon mungkin cepat pudar, tapi kasih Kristus tidak pernah pudar.
Seperti ada tertulis: “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”
_Soli Deo Gloria
Jakarta, 12 Desember 2025
Christofel P. Simanjuntak
