Renungan Harian HKBP Slipi Jumat 15 Mei 2026

Renungan Harian – HKBP Slipi

 

Ester 2: 17

Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti.

 

Renungan: “Ketika Diam Adalah Jawaban: Mahkota dari Tangan yang Tersembunyi”

 

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, bayangkan sejenak posisi seorang perempuan muda bernama Ester. Ia adalah seorang yatim piatu, seorang tawanan dari bangsa yang terbuang, yang tiba-tiba diambil dan dimasukkan ke dalam harem raja Persia. Di sana ia bukanlah siapa-siapa, hanya satu di antara puluhan gadis yang dipersiapkan untuk menarik hati raja. Ia tidak memiliki kuasa, ia tidak dapat mengendalikan nasibnya, bahkan identitas aslinya sebagai orang Yahudi harus ia sembunyikan. Dalam situasi yang seluruhnya gelap dan asing ini, tiba-tiba Alkitab mencatat sebuah titik balik yang mengejutkan, yaitu Ester 2:17, “Maka raja mencintai Ester lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia mendapat kasih sayang dan belas kasihan dari padanya lebih dari pada semua anak dara yang lain, sehingga raja mengenakan mahkota kerajaan pada kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu, menggantikan Wasti.” Dalam satu momen, seorang yatim piatu tak dikenal dinobatkan menjadi ratu penguasa Persia.

 

Jika kita mendalami bahasa asli dari ayat ini, kita akan menemukan dua kata kunci yang menjadi fondasi dari seluruh kisah ini. Ketika dikatakan bahwa Ester mendapat “kasih sayang dan belas kasihan”, di dalam bahasa Ibrani tertulis khen wa’khesed. Khen berarti anugerah atau kemurahan yang diberikan tanpa syarat, seperti yang diterima Nuh di hadapan Tuhan. Tetapi kata keduanya jauh lebih dahsyat: khesed. Khesed adalah kasih setia, loyalitas perjanjian, kata yang paling sering dipakai untuk menggambarkan sifat Allah sendiri. Dan luar biasanya, kata ini justru dipakai untuk menggambarkan raja Ahasyweros, seorang kafir, kepada Ester. Ini adalah isyarat teologis yang sangat dalam: di balik cinta seorang raja manusia yang labil, sesungguhnya sedang mengalir khesed Allah yang kekal. Tangan yang tak terlihat sedang bekerja, dan mahkota yang diletakkan di atas kepala Ester sesungguhnya adalah mahkota yang dipasang oleh Allah yang tidak pernah absen, meskipun nama-Nya tidak disebut satu kali pun dalam kitab ini.

 

Dari sudut pandang ilmu psikologi, situasi Ester sungguh rawan menimbulkan apa yang disebut learned helplessness, keadaan di mana seseorang merasa begitu tidak berdaya sehingga menyerah pada keadaan. Namun Ester tidak hancur. Ia justru menunjukkan ketenangan dan daya tahan yang luar biasa. Psikologi positif menyebut fenomena ini sebagai unmerited favor atau anugerah yang tak layak diterima, yang menjadi fondasi dari resiliensi sejati. Ester tetap berpegang pada jati dirinya dan nasihat Mordekhai, sebuah jangkar identitas yang membuatnya tidak kehilangan arah. Sementara itu, dari perspektif sosiologi, naiknya Ester ke takhta adalah sebuah anomali kuasa. Seorang perempuan minoritas tanpa modal budaya dan tanpa koneksi istana tiba-tiba menempati posisi struktural tertinggi. Pierre Bourdieu, seorang sosiolog ternama, berbicara tentang modal simbolik yang menentukan posisi seseorang dalam masyarakat; Ester tidak memiliki itu semua, namun ia menerima karisma ilahi yang menembus semua batas struktur sosial. Inilah bukti bahwa anugerah Tuhan sanggup membalikkan keadaan yang paling mustahil sekalipun.

 

Jemaat yang terkasih, mungkin hari-hari ini Saudara merasa seperti Ester sebelum ia dimahkotai. Mungkin saudara ditempatkan di lingkungan kerja yang menekan, di tengah keluarga yang penuh konflik, atau di dalam pergumulan kesehatan dan kesendirian yang panjang. Kita berdoa, tetapi langit tampak diam, dan kita bertanya-tanya di manakah Tuhan. Melalui Ester 2:17, Tuhan ingin membisikkan kebenaran ini kepada kita: di dalam diam-Nya, justru di situlah Ia bekerja dengan paling kuat. Perkenanan kecil dari atasan, pertolongan yang tiba-tiba muncul, pintu yang terbuka tanpa disangka: hal-hal itu adalah khen dan khesed Tuhan yang sedang mengalir dalam hidup kita. Ia memegang hati para raja, dan Ia sanggup memasang mahkota di atas kepala kita, bukan untuk kesombongan diri, melainkan untuk rencana penyelamatan yang jauh lebih besar.

 

Namun ingatlah, mahkota Ester tidak membuatnya langsung aman dan nyaman. Justru mahkota itulah yang kelak membawanya pada panggilan untuk mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan bangsanya. Anugerah yang ia terima harus menjadi saluran bagi keselamatan orang lain. Demikian pula dengan kita. Berkat, posisi, atau kemampuan yang Tuhan percayakan kepada Saudara hari ini adalah sebuah amanat ilahi. Kita dimahkotai bukan untuk beristirahat di atas takhta, melainkan untuk melayani, membela, dan menjadi perpanjangan kasih setia Tuhan bagi mereka yang tertindas dan terluka.

 

Saudara, pandanglah salib Kristus. Di sana kita melihat Ester yang sesungguhnya. Yesus dimahkotai, bukan dengan emas, melainkan dengan duri, supaya kita yang percaya kepada-Nya menerima mahkota kehidupan yang kekal. Di dalam setiap diam-Nya yang terasa dalam hidup kita, Dia sesungguhnya sedang merajut keselamatan. Jangan meremehkan “kebetulan-kebetulan” kecil yang kita alami, karena di sanalah jari Tuhan yang tersembunyi sedang melukiskan sejarah. Tetaplah percaya, tetaplah taat dalam langkah-langkah kecil, sebab Ia yang memegang hati raja adalah Allah yang memegang hidup Saudara, dan pada waktu-Nya yang tepat, Ia akan meninggikan kita untuk menjadi berkat bagi dunia ini. Amin.

 

Tuhan Yesus memberkati.

Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh