LAPORAN PERJALANAN | BALIGE – BAKKARA – PEMATANG SIANTAR, 24–27JULI 2026
Oleh: Wiston Manihuruk — Ketua Seksi Ama HKBP Ressort Slipi
BALIGE — Pesawat Citilink lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 06.45 pada Jumat pagi, 24 Juli 2026, membawa rombongan Grup Koor Kaum Bapak (Ama) HKBP Ressort Slipi meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta. Sekitar dua jam kemudian, udara sejuk Bandara Internasional Silangit menyambut mereka — dan bersamaan dengan itu, sesuatu yang lebih sulit dijelaskan: perasaan pulang.
Sejak di dalam kabin, suasana perjalanan sudah terasa berbeda dari penerbangan biasa. Rombongan mengisi sebagian besar kursi di badan pesawat. Ada yang mengenakan topi,ada yang membawa jaket tebal untuk menghadapi dinginnya Tapanuli, dan hampir semuanya tersenyum ke arah kamera ketika foto bersama diambil di lorong pesawat. Sebagian besar dari mereka sudah lama tidak menginjak tanah kelahiran.
Meski ini adalah perjalanan Grup Koor Kaum Bapak, rombongan tidak berangkat sendirian. Turut serta sejumlah ibu yang mendampingi para bapak sekaligus membantu melayani keperluan rombongan sepanjang perjalanan — mengurus konsumsi,perlengkapan, dan berbagai kebutuhan teknis yang membuat agenda empat hari iniberjalan lancar.

Selama empat hari ke depan, kelompok paduan suara ini akan menempuh rute yangmempertemukan tiga hal sekaligus — keindahan Danau Toba, kehangatan persaudaraan,dan panggilan pelayanan. Perjalanan ini bukan sekadar wisata. Ia adalah ziarah kecil kebona pasogit, tanah leluhur, yang ditutup dengan pelayanan koor pada Ibadah Minggu diHKBP Balige.
Hari Pertama: Danau yang Menyambut
Sesi foto bersama di area bandara menjadi ritual pembuka yang tak terhindarkan. Latar perbukitan Silangit dan papan nama bandara menjadi saksi pertama perjalanan ini. Dari sana, rombongan bergerak menuju Balige, ke penginapan Lakeside Haus Balige yang berdiri langsung menghadap perairan Danau Toba. Selama di Balige, rombongan menginap dua malam di Lakeside Haus Balige — sebuah rumah penginapan yang dikelola oleh keluarga Wiston Manihuruk / EllenPangaribuan, yang juga merupakan jemaat HKBP Ressort Slipi. Bagi rombongan, hal ini memberi nuansa tersendiri: mereka tidak sekadar menginap di sebuah hotel, melainkan bermalam di rumah saudara seiman sendiri, di tanah leluhur bersama. Kedatangan disambut pemandangan yang membuat percakapan mereda sejenak : hamparan air biru yang tenang, garis perbukitan di kejauhan, dan infinity pool hotel yang seolah menyatu dengan permukaan danau. Kopi panas dibagikan di halaman depan, koperkoper ditinggalkan sejenak, dan yang pertama dilakukan hampir semua orang adalah hal yang sama: berfoto bersama.
Rombongan lalu turun ke tepian danau yang berjarak hanya beberapa langkah dari bangunan penginapan. Dari tanggul beton di tepi air, Balige terlihat membentang di seberang teluk, dengan pegunungan Tapanuli sebagai latar. Sebagian duduk santai di tepi pantai dan tepi kolam — mengobrol, tertawa, menikmati waktu yang untuk sementara tidak diburu apa pun.


Namun rombongan ini tidak datang semata-mata untuk berwisata. Pukul 10.30 WIB,ruang utama Lakeside Haus disulap menjadi ruang latihan. Kursi-kursi digeser, partitur dibagikan, dan para bapak — masih mengenakan kaos putih perjalanan mereka — berdirimembentuk kelompok suara. Dirigen Amang Parlis Sinaga mengangkat tangan, danuntuk pertama kalinya sejak meninggalkan Jakarta, suara mereka bergema kembali sebagai satu paduan.
Inilah latihan pertama dari tiga sesi yang akan mereka jalani selama perjalanan. Dua lagu disiapkan — Ondihon dan Ro do Au Marsomba tu Jolom. Nada dicari, bagian suara ditata ulang, bagian yang meleset diulang beberapa kali. Di antara meja berisi gelas-gelas kopi danair mineral, sebuah gereja kecil terbentuk sementara di ruang tamu penginapan.

Selesai latihan, makan siang digelar di ruang makan penginapan yang menghadap langsung ke danau. Hidangannya masakan khas Batak — sumbangan dari Bapak Jhon CE Nababan, salah seorang anggota rombongan. Inilah santapan sungguhan pertama mereka di bona pasogit setelah menempuh perjalanan sejak subuh.
Suasananya khas: meja-meja diisi rombongan yang duduk berkelompok, wadah-wadah lauk berpindah tangan, dan doa bersama sebelum makan. Nasi dan lauk disajikan prasmanan dari panci besar di sudut ruangan, ditutup dengan potongan nanas segar. Bagisebagian besar peserta, rasa masakan yang tersaji siang itu adalah rasa yang sudah lama tidak mereka cicipi — bumbu yang sama yang dulu mereka kenal di dapur ibu masingmasing, kali ini dimasak di tanah tempat bumbu itu berasal.

Petualangan sesungguhnya dimulai siang itu. Rombongan menaiki kapal motor menuju Pantai Meat, kawasan pesisir danau di sebelah utara Balige yang belakangan populer dikalangan wisatawan. Kapal kayu bercat kuning, merah, dan hijau itu segera berubah fungsi begitu meninggalkan dermaga: dari alat transportasi menjadi panggung terapung. Sebuah speaker portabel diletakkan di atas meja di tengah geladak, mikrofon dinyalakan,dan nyanyian pun dimulai. Para bapak berdiri berjajar di sisi kapal, bernyanyi bergantian sambil berpegangan pada rangka atap — sebagian bahkan sudah bertelanjang kaki dengan sandal jepit. Di sisi lain kapal, para ibu duduk santai di haluan, tertawa dan bertepuk tangan mengiringi. Angin danau, deru mesin, dan suara paduan yang tak sempurna namunpenuh sukacita bercampur menjadi satu.


Tak semua orang ikut bernyanyi. Sebagian memilih duduk di bangku sisi kapal, membiarkan angin danau bekerja sendiri. Dari posisi itu, perbukitan hijau yang mengapit teluk terlihat bergerak perlahan, dan air mancur yang menyembur di tengah danau sesekali menyempurnakan pemandangan.

Foto 8. Menikmati perjalanan di atas kapal dengan latar perbukitan Danau Toba dan semburan air mancur di tengah danau, Jumat 24 Juli 2026.
Di tengah perjalanan, kapal merapat sejenak di sebuah penginapan tepi pantai. Bangunannya kayu bertingkat dengan atap seng merah bersusun — mengambil bentukrumah tradisional Batak — berdiri di atas tanggul batu yang langsung berbatasan dengan air. Sebuah pendopo beratap putih dan taman kecil berbunga melengkapi halamannya.Sekitar satu jam rombongan bersantai di sana — sebagian berteduh di pendopo, sebagian menyaksikan tim penembak ikan yang sedang menyelam mencari tangkapan segar untuk santapan sore.

Sesampainya di Pantai Meat, rombongan yang serentak mengenakan kaos putih itu langsung menempati kursi-kursi plastik warna-warni yang dijajarkan di bawah rindang pohon, tepat menghadap air danau. Tak ada kemewahan di sini: meja plastik sederhana,warung-warung kecil di belakang, dan penjual kelapa muda yang sibuk melayani pesanan.Justru kesederhanaan itulah yang membuat suasananya terasa lepas.


Sore itu suasana berubah menjadi pesta kecil. Karaoke dinyalakan, lagu-lagu Batak mengalun bergantian dengan lagu pop lawas, ditemani kelapa muda dingin dan ikan bakar yang baru saja diangkat dari bara. Suara ombak kecil dan tawa bercampur menjadi satu.
Pukul 17.00 WIB rombongan kembali ke hotel. Perjalanan pulang di atas kapal justrumenjadi salah satu momen paling berkesan: angin danau menerpa wajah, matahari mulaicondong ke barat, dan para bapak — sebagian sudah berusia di atas lima puluh — bernyanyidan berjoget di atas geladak seperti anak muda.
Malamnya, pukul 19.00 WIB, makan malam bersama digelar di hotel, diiringi penyanyi dan pemain keyboard. Selesai makan, mikrofon berpindah tangan. Satu per satu peserta naik menyanyi, yang lain berjoget. Lagu-lagu Batak klasik bergantian dengan lagu-lagu kenangan; tepuk tangan dan tawa memenuhi ruangan yang berhias ornamen gorga didindingnya.
Musik terus mengalun hingga jarum jam melewati angka dua belas. Dan justru di situlah acara menemukan penutup yang tak direncanakan: begitu tanggal berganti menjadi 25Juli 2026, seluruh rombongan serentak menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Amang St. Reynhard Lumban Gaol, yang tepat hari itu berulang tahun. Ucapan selamat, salaman, dan pelukan mengalir — sebuah kejutan sederhana yang menutup haripertama dengan hangat.

Hari Kedua: Muara, Bakkara, dan Ketinggian Sipinsur
Sabtu pagi, 25 Juli, disiplin kembali ditegakkan. Setelah sarapan pukul 08.00, rombongan menggelar latihan koor kedua pukul 09.00–10.00 — melanjutkan persiapan lagu lagu yang akan dibawakan pada Ibadah Minggu keesokan harinya. Kali ini latihan digelar diruang terbuka menghadap danau; suara bass, tenor, dan bariton berpadu, dan akustik alamterbuka memberi warna yang berbeda dari ruang latihan di Slipi.
Pukul 10.00 WIB rombongan berangkat menyusuri jalur barat danau menuju kawasan Muara dan Bakkara — lembah bersejarah yang dikenal sebagai tanah kelahiran Sisingamangaraja.
Makan siang pukul 12.00 WIB berlangsung di Resto Rosa Richvia, sebuah rumah makan tepi Danau Toba di kawasan Bakkara, dengan jamuan dari keluarga Bapak Robert Pakpahan. Restoran ini dibangun dengan konsep dek kayu yang menjorok langsung ke atas air. Tamu makan hanya berjarak beberapa langkah dari permukaan danau, dengan latar perbukitan hijau yang menjulang di kejauhan dan deretan keramba ikan yang tampak mengapung dikejauhan — pemandangan khas kehidupan masyarakat tepian Toba.
Menu yang tersaji adalah barisan hidangan Batak terbaik: ikan tombur, ikan goreng,ayam goreng, dan ayam napinadar. Ikan tombur — ikan bakar yang disiram bumbu andaliman, cabai, dan bawang — menjadi favorit rombongan, disantap panas-panas bersama nasi putih dan sambal.


Selesai makan, rombongan berpindah ke dek depan yang menjorok ke arah danau —berfoto, menikmati panorama lembah Bakkara, dan kembali bernyanyi bergantian diiringi pemain keyboard. Sekitar pukul 14.00 WIB perjalanan dilanjutkan ke kawasan Geopark Sipinsur diKabupaten Humbang Hasundutan. Berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, taman wisata alam ini dikenal sebagai salah satu titik pandang terbaik untuk menyaksikan Danau Toba dari sisi selatan.
Sesampainya di sana, rombongan langsung disambut panorama yang membuat perjalananberkelok selama dua jam terasa sepadan. Dari balik pagar pembatas dek pandang, Danau Toba terhampar luas dengan Pulau Sibandang — pulau terbesar kedua di Danau Toba, dikenal sebagai penghasil mangga — tampak menjorok di kejauhan, dikelilingi perbukitan hijau kawasan Muara. Udara sejuk khas dataran tinggi dan aroma pohon pinus yang mengelilingi area membuat suasana terasa lapang.

Di bawah rindang pohon pinus, rombongan duduk-duduk, berfoto, dan berbincang santaiditemani tuak dan kacang yang telah disiapkan St. Berti Siregar. Percakapan mengalir tanpa agenda — tentang kampung halaman, tentang anak-anak yang kini tersebar diberbagai kota, tentang masa muda yang terasa baru kemarin. Inilah tradisi marlapo yangbagi kaum bapak Batak merupakan ruang percakapan paling jujur, kali ini digelar denganlatar salah satu pemandangan paling megah di Sumatera Utara.
Pukul 17.00 WIB rombongan meninggalkan Sipinsur menuju Siborong-borong, singgah di kediaman Amang St. Reynhard Lumban Gaol untuk mengikuti acara ulang tahun sekaligus menikmati jamuan makan malam. Bagi rombongan, ini menjadi perayaan kedua dalam satu hari — setelah ucapan spontan yang mereka nyanyikan tepat lewat tengah malam sebelumnya di Lakeside Haus. Sekitar pukul 20.00 WIB, rombongan kembali keLakeside Haus untuk beristirahat — mengumpulkan tenaga untuk tugas pelayanan esok pagi.
Hari Ketiga: Pelayanan di HKBP Balige
Minggu pagi, 26 Juli, dimulai dengan sarapan pukul 07.00 WIB. Setelah itu, sebelum berangkat ke gereja, rombongan memanfaatkan pagi terakhir mereka di Balige dengan cara yang paling sederhana sekaligus paling menyenangkan: turun ke air.
Sebagian langsung menuju tepian Danau Toba di depan penginapan. Air danau yang dingindan jernih di pagi hari menyambut mereka. Dengan latar perbukitan yang masih terselimut kabut dan langit mendung yang belum sepenuhnya terbuka, para bapak berenang ketengah, mengangkat tangan, dan tertawa — sebagian besar dari mereka mengulang kembaliapa yang biasa mereka lakukan puluhan tahun silam saat masih kanak-kanak di kampung.

Selesai dari danau, kegembiraan berlanjut di kolam renang Lakeside Haus Balige yang berada tepat di tepi danau. Dari dalam kolam, pandangan langsung menembus kearah air Toba — sebuah tata letak yang membuat batas antara kolam dan danau nyaris tak terasa.

Foto 17. Suasana ceria di kolam renang Lakeside Haus Balige, Minggu pagi, 26 Juli 2026,sebelum rombongan bersiap menuju Ibadah Minggu di HKBP Balige.

Foto 18. Rombongan berpose di kolam renang dengan latar bangunan utama Lakeside HausBalige. Penginapan ini dikelola oleh keluarga Wiston Manihuruk / Ellen Pangaribuan, jemaatHKBP Ressort Slipi.
Menjelang pukul 09.00 WIB, suasana berubah. Handuk digantung, pakaian ibadah dikenakan, dan latihan koor terakhir digelar. Kali ini dengan konsentrasi penuh:harmonisasi diperiksa ulang, dinamika ditajamkan, formasi ditata. Dalam hitungan jam,tawa di kolam renang berganti menjadi keheningan sebelum masuk ke rumah ibadah.Pukul 10.30 WIB, rombongan mengikuti Ibadah Minggu di HKBP Balige dan membawakan dua lagu koor di bawah pimpinan dirigen Amang Parlis Sinaga: Ondihondan Ro do Au Marsomba tu Jolom. Inilah puncak perjalanan — momen ketika liburanberubah menjadi pelayanan. Kaum bapak dari sebuah kota metropolitan berdiri di gereja ditanah leluhur mereka, menyanyikan pujian dalam bahasa yang sama yang dinyanyikan nenek moyang mereka lebih dari satu abad silam.Penampilan mereka rapi dan seragam: jas hitam, kemeja putih, dan dasi biru muda —warna yang sama, suara yang berpadu.


Selesai ibadah, rombongan menikmati makan siang dan ramah-tamah bersama jemaat diruang serbaguna HKBP Balige.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Pematang Siantar, di mana rombongan bermalam di kediaman Bapak Robert Pakpahan. Pukul 19.30 WIB, tuan rumah menjamu makan malam bersama, kembali diiringi musik dan pemain keyboard. Selesai makan, suasana sukacita pecah lagi — nyanyian dan joget berlangsung hingga pukul 23.30 WIB sebelum rombongan beristirahat.
Hari Keempat: Perpisahan di Siantar Senin, 27 Juli, rombongan sarapan pukul 08.00 WIB di kediaman Bapak Robert Pakpahan.Pukul 10.00 WIB, Pdt. Eldarton Simbolon berkenan hadir dan bertemu langsung dengan rombongan — sebuah perjumpaan yang memberi bobot rohani pada penutup perjalanan.
Acara terakhir digelar pukul 12.00 WIB: makan bersama seluruh rombongan di Restoran Sehat, Jalan Bandung, Pematang Siantar, dengan jamuan dari Bapak Anggiat Tambunan dan keluarga. Selesai makan, tibalah saat berpisah. Sebagian rombongan langsung bertolak ke Jakartamelalui Bandara Kualanamu; sebagian lagi memilih tinggal beberapa waktu di Medan danbaru kembali ke Jakarta pada hari berikutnya.Lebih dari Sekadar Perjalanan Empat hari, tiga malam, ratusan kilometer jalan berkelok, dan entah berapa lagu yang dinyanyikan. Namun yang paling melekat dari perjalanan Grup Koor Kaum Bapak HKBPSlipi ini barangkali bukan pemandangannya — melainkan kemurahan hati yang mengalir di sepanjang rute.Hampir setiap jamuan dalam perjalanan ini adalah pemberian: dari Bapak Jhon CENababan di Balige, keluarga Bapak Robert Pakpahan di Bakkara dan Siantar, St. BertiSiregar di Sipinsur, Amang St. Reynhard Lumban Gaol di Siborong-borong, hingga Bapak Anggiat Tambunan di Pematang Siantar — termasuk keramahan keluarga Wiston Manihuruk / Ellen Pangaribuan yang menerima rombongan selama dua malam di LakesideHaus Balige. Di balik itu semua, para ibu pendamping bekerja tanpa banyak terlihat,memastikan setiap keperluan rombongan terlayani dari hari pertama hingga hari terakhir.Inilah wujud nyata dalihan na tolu — sistem kekerabatan Batak yang menempatkankehormatan pada kesediaan menerima dan melayani sesama.Rombongan pulang ke Jakarta membawa oleh-oleh yang tidak muat di koper:persaudaraan yang lebih erat, harmoni suara yang lebih padu, dan pengingat bahwa akarmereka tetap tertanam di tepian danau vulkanik terbesar di dunia itu.
