Empat Hari di Tepian Toba : Nyanyian Kaum Bapak HKBP Slipi Pulang ke Bona Pasogit

LAPORAN PERJALANAN | BALIGE – BAKKARA – PEMATANG SIANTAR, 24–27 JULI 2026
Oleh: Wiston Manihuruk — Ketua Seksi Ama HKBP Ressort Slipi

BALIGE — Pesawat Citilink lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 06.45 pada Jumat pagi, 24 Juli 2026, membawa rombongan Punguan Koor Ama HKBP Slipi meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta. Sekitar dua jam kemudian, udara sejuk Bandara Internasional Silangit menyambut mereka — dan bersamaan dengan itu, sesuatu yang lebih sulit dijelaskan: perasaan pulang.

Sejak di dalam kabin, suasana perjalanan sudah terasa berbeda dari penerbangan biasa. Rombongan mengisi sebagian besar kursi di badan pesawat. Ada yang mengenakan topi, ada yang membawa jaket tebal untuk menghadapi dinginnya Tapanuli, dan hampir semuanya tersenyum ke arah kamera ketika foto bersama diambil di lorong pesawat. Sebagian besar dari mereka sudah lama tidak menginjak tanah kelahiran.

Meski ini adalah perjalanan Punguan Koor Ama HKBP Slipi, rombongan tidak berangkat sendirian. Turut serta sejumlah ibu yang mendampingi para bapak sekaligus membantu melayani keperluan rombongan sepanjang perjalanan — mengurus konsumsi, perlengkapan, dan berbagai kebutuhan teknis yang membuat agenda empat hari ini berjalan lancar.

Foto 1. Rombongan Grup Koor Kaum Bapak (Ama) HKBP Ressort Slipi di dalam kabin pesawatCitilink dalam penerbangan Jakarta–Silangit, Jumat pagi 24 Juli 2026.
Foto 1. Rombongan Grup Koor Kaum Bapak (Ama) HKBP Ressort Slipi di dalam kabin pesawatCitilink dalam penerbangan Jakarta–Silangit, Jumat pagi 24 Juli 2026.

Selama empat hari ke depan, kelompok paduan suara ini akan menempuh rute yang mempertemukan tiga hal sekaligus — keindahan Danau Toba, kehangatan persaudaraan, dan panggilan pelayanan. Perjalanan ini bukan sekadar wisata. Ia adalah ziarah kecil ke bona pasogit, tanah leluhur, yang ditutup dengan pelayanan koor pada Ibadah Minggu di HKBP Balige.

Hari Pertama: Danau yang Menyambut
Sesi foto bersama di area bandara menjadi ritual pembuka yang tak terhindarkan. Latar perbukitan Silangit dan papan nama bandara menjadi saksi pertama perjalanan ini. Dari sana, rombongan bergerak menuju Balige, ke penginapan Lakeside Haus Balige yang berdiri langsung menghadap perairan Danau Toba.
Selama di Balige, rombongan menginap dua malam di Lakeside Haus Balige — sebuah rumah penginapan yang dikelola oleh keluarga Wiston Manihuruk / Ellen Pangaribuan, yang juga merupakan jemaat HKBP Ressort Slipi. Bagi rombongan, hal ini memberi nuansa tersendiri: mereka tidak sekadar menginap di sebuah hotel, melainkan bermalam di rumah saudara seiman sendiri, di tanah leluhur bersama.

Kedatangan disambut pemandangan yang membuat percakapan mereda sejenak: hamparan air biru yang tenang, garis perbukitan di kejauhan, dan infinity pool hotel yang seolah menyatu dengan permukaan danau. Kopi panas dibagikan di halaman depan, koper-koper ditinggalkan sejenak, dan yang pertama dilakukan hampir semua orang adalah hal yang sama: berfoto bersama.
Rombongan lalu turun ke tepian danau yang berjarak hanya beberapa langkah dari bangunan penginapan. Dari tanggul beton di tepi air, Balige terlihat membentang di seberang teluk, dengan pegunungan Tapanuli sebagai latar. Sebagian duduk santai di tepi pantai dan tepi kolam — mengobrol, tertawa, menikmati waktu yang untuk sementara tidak diburu apa pun.

Foto 2. Foto bersama sesaat setelah rombongan tiba di Lakeside Haus Balige, Jumat 24 Juli 2026. Kopi panas disuguhkan di halaman depan penginapan sebagai sambutan pertama di bona pasogit.
Foto 2. Foto bersama sesaat setelah rombongan tiba di Lakeside Haus Balige, Jumat 24 Juli 2026. Kopi panas disuguhkan di halaman depan penginapan sebagai sambutan pertama di bona pasogit.

 

Foto 3. Sebagian rombongan berfoto di tanggul tepi Danau Toba, tepat di depan Lakeside Haus Balige. Di seberang teluk tampak kota Balige dengan latar pegunungan Tapanuli.
Foto 3. Sebagian rombongan berfoto di tanggul tepi Danau Toba, tepat di depan Lakeside Haus Balige. Di seberang teluk tampak kota Balige dengan latar pegunungan Tapanuli.

 

Namun rombongan ini tidak datang semata-mata untuk berwisata. Pukul 10.30 WIB, ruang utama Lakeside Haus disulap menjadi ruang latihan. Kursi-kursi digeser, partitur dibagikan, dan para bapak — masih mengenakan kaos putih perjalanan mereka — berdiri membentuk kelompok suara. Dirigen Amang Parlis Sinaga mengangkat tangan, dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Jakarta, suara mereka bergema kembali sebagai satu paduan.
Inilah latihan pertama dari tiga sesi yang akan mereka jalani selama perjalanan. Dua lagu disiapkan — Ondihon dan Ro do Au Marsomba tu Jolom. Nada dicari, bagian suara ditata ulang, bagian yang meleset diulang beberapa kali. Di antara meja berisi gelas-gelas kopi dan air mineral, sebuah gereja kecil terbentuk sementara di ruang tamu penginapan.

Foto 4. Latihan koor perdana di ruang utama Lakeside Haus Balige, Jumat 24 Juli 2026 pukul 10.30 WIB, tak lama setelah rombongan tiba dari Bandara Silangit. Dirigen Amang Parlis Sinaga memimpin dari depan sementara para peserta membaca partitur lagu yang akan dibawakan pada Ibadah Minggu di HKBP Balige.
Foto 4. Latihan koor perdana di ruang utama Lakeside Haus Balige, Jumat 24 Juli 2026 pukul 10.30 WIB, tak lama setelah rombongan tiba dari Bandara Silangit. Dirigen Amang Parlis Sinaga memimpin dari depan sementara para peserta membaca partitur lagu yang akan dibawakan pada Ibadah Minggu di HKBP Balige.

Selesai latihan, makan siang digelar di ruang makan penginapan yang menghadap langsung ke danau. Hidangannya masakan khas Batak — sumbangan dari Bapak Jhon CE Nababan, salah seorang anggota rombongan. Inilah santapan sungguhan pertama mereka di bona pasogit setelah menempuh perjalanan sejak subuh.
Suasananya khas: meja-meja diisi rombongan yang duduk berkelompok, wadah-wadah lauk berpindah tangan, dan doa bersama sebelum makan. Nasi dan lauk disajikan prasmanan dari panci besar di sudut ruangan, ditutup dengan potongan nanas segar. Bagi sebagian besar peserta, rasa masakan yang tersaji siang itu adalah rasa yang sudah lama tidak mereka cicipi — bumbu yang sama yang dulu mereka kenal di dapur ibu masing-masing, kali ini dimasak di tanah tempat bumbu itu berasal.

Foto 5. Makan siang di ruang makan Lakeside Haus Balige, Jumat 24 Juli 2026. Jendela besar ruang makan menghadap ke arah pepohonan dan perairan Danau Toba. Tampak pula para ibu pendamping yang membantu melayani konsumsi rombongan sepanjang perjalanan
Foto 5. Makan siang di ruang makan Lakeside Haus Balige, Jumat 24 Juli 2026. Jendela besar ruang makan menghadap ke arah pepohonan dan perairan Danau Toba. Tampak pula para ibu pendamping yang membantu melayani konsumsi rombongan sepanjang perjalanan

 

Tak ada yang terburu-buru. Peserta duduk berkelompok empat sampai enam orang per meja, mengobrol sambil menyendok nasi dari wadah bersama. Di luar jendela, langit siang itu cerah dan pucuk-pucuk pohon bergerak pelan — pemandangan yang sepanjang empat hari ke depan akan terus menemani hampir setiap kegiatan mereka.

Foto 6. Suasana kekeluargaan pada makan siang hari pertama di Lakeside Haus Balige. Lauk disajikan dalam wadah bersama di tengah meja, dilengkapi potongan nanas segar sebagai penutup.
Foto 6. Suasana kekeluargaan pada makan siang hari pertama di Lakeside Haus Balige. Lauk disajikan dalam wadah bersama di tengah meja, dilengkapi potongan nanas segar sebagai penutup.

Petualangan sesungguhnya dimulai siang itu. Rombongan menaiki kapal motor menuju Pantai Meat, kawasan pesisir danau di sebelah utara Balige yang belakangan populer di kalangan wisatawan.

Di tengah perjalanan, kapal merapat sejenak di sebuah penginapan tepi pantai. Bangunannya kayu bertingkat dengan atap seng merah bersusun — mengambil bentuk rumah tradisional Batak — berdiri di atas tanggul batu yang langsung berbatasan dengan air. Sebuah pendopo beratap putih dan taman kecil berbunga melengkapi halamannya.
Sekitar satu jam rombongan bersantai di sana — sebagian berteduh di pendopo, sebagian menyaksikan tim penembak ikan yang sedang menyelam mencari tangkapan segar untuk santapan sore.

Foto 7. Penginapan tepi danau tempat rombongan singgah sekitar satu jam dalam perjalanan menuju Pantai Meat, Jumat 24 Juli 2026. Kapal kayu bersandar tepat di depan tanggul batu penginapan.
Foto 7. Penginapan tepi danau tempat rombongan singgah sekitar satu jam dalam perjalanan menuju Pantai Meat, Jumat 24 Juli 2026. Kapal kayu bersandar tepat di depan tanggul batu penginapan.

Sesampainya di Pantai Meat, rombongan yang serentak mengenakan kaos putih itu langsung menempati kursi-kursi plastik warna-warni yang dijajarkan di bawah rindang pohon, tepat menghadap air danau. Tak ada kemewahan di sini: meja plastik sederhana, warung-warung kecil di belakang, dan penjual kelapa muda yang sibuk melayani pesanan. Justru kesederhanaan itulah yang membuat suasananya terasa lepas.

Foto 8. Rombongan Punguan Koor Ama HKBP Slipi bersantai di tepi Pantai Meat, Balige, Jumat 24 Juli 2026. Kursi-kursi dijajarkan menghadap Danau Toba di bawah rindang pepohonan, dengan warung kelapa muda di sisi kanan.
Foto 8. Rombongan Punguan Koor Ama HKBP Slipi bersantai di tepi Pantai Meat, Balige, Jumat 24 Juli 2026. Kursi-kursi dijajarkan menghadap Danau Toba di bawah rindang pepohonan, dengan warung kelapa muda di sisi kanan.

 

Foto 9. Suasana santai rombongan di kawasan Pantai Meat. Mengenakan kaos putih seragam, para peserta duduk melingkar di sekitar meja-meja plastik sambil menunggu hidangan ikan bakar disiapkan.
Foto 9. Suasana santai rombongan di kawasan Pantai Meat. Mengenakan kaos putih seragam, para peserta duduk melingkar di sekitar meja-meja plastik sambil menunggu hidangan ikan bakar disiapkan.

Sore itu suasana berubah menjadi pesta kecil. Karaoke dinyalakan, lagu-lagu Batak mengalun bergantian dengan lagu pop lawas, ditemani kelapa muda dingin dan ikan bakar yang baru saja diangkat dari bara. Suara ombak kecil dan tawa bercampur menjadi satu.

Pukul 17.00 WIB rombongan kembali ke hotel — dan perjalanan pulang di atas kapal itulah yang justru menjadi salah satu momen paling berkesan sepanjang hari. Kapal kayu bercat kuning, merah, dan hijau itu berubah fungsi begitu meninggalkan Pantai Meat: dari alat transportasi menjadi panggung terapung.
Sebuah speaker portabel diletakkan di atas meja di tengah geladak, mikrofon dinyalakan, dan nyanyian pun dimulai. Para bapak berdiri berjajar di sisi kapal, bernyanyi bergantian sambil berpegangan pada rangka atap — sebagian bahkan sudah bertelanjang kaki dengan sandal jepit. Di sisi lain kapal, para ibu duduk santai di haluan, tertawa dan bertepuk tangan mengiringi. Angin danau, deru mesin, matahari yang mulai condong ke barat, dan suara paduan yang tak sempurna namun penuh sukacita bercampur menjadi satu.

Foto 10. Nyanyian di atas kapal dalam perjalanan pulang dari Pantai Meat menuju Balige, Jumat sore 24 Juli 2026. Sebuah speaker portabel di tengah geladak sudah cukup untuk mengubah perjalanan menjadi pertunjukan bersama.
Foto 10. Nyanyian di atas kapal dalam perjalanan pulang dari Pantai Meat menuju Balige, Jumat sore 24 Juli 2026. Sebuah speaker portabel di tengah geladak sudah cukup untuk mengubah perjalanan menjadi pertunjukan bersama.
Foto 11. Kegembiraan para ibu pendamping di geladak kapal, dengan permukaan Danau Toba yang berkilau memantulkan cahaya matahari sore di latar belakang.
Foto 11. Kegembiraan para ibu pendamping di geladak kapal, dengan permukaan Danau Toba yang berkilau memantulkan cahaya matahari sore di latar belakang.

Tak semua orang ikut bernyanyi. Sebagian memilih duduk di bangku sisi kapal, membiarkan angin danau bekerja sendiri. Dari posisi itu, perbukitan hijau yang mengapit teluk terlihat bergerak perlahan, dan air mancur yang menyembur di tengah danau sesekali menyempurnakan pemandangan.
Malamnya, pukul 19.00 WIB, makan malam bersama digelar di hotel, diiringi penyanyi dan pemain keyboard. Selesai makan, mikrofon berpindah tangan. Satu per satu peserta naik menyanyi, yang lain berjoget. Lagu-lagu Batak klasik bergantian dengan lagu-lagu kenangan; tepuk tangan dan tawa memenuhi ruangan yang berhias ornamen gorga di dindingnya.
Musik terus mengalun hingga jarum jam melewati angka dua belas. Dan justru di situlah acara menemukan penutup yang tak direncanakan: begitu tanggal berganti menjadi 25 Juli 2026, seluruh rombongan serentak menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Amang St. Reynhard Lumban Gaol, yang tepat hari itu berulang tahun. Ucapan selamat, salaman, dan pelukan mengalir — sebuah kejutan sederhana yang menutup hari pertama dengan hangat.

Foto 12. Foto bersama seusai acara hiburan malam di Lakeside Haus Balige, Jumat malam 24 Juli 2026 — yang berakhir melewati tengah malam dan ditutup dengan ucapan selamat ulang tahun kepada Amang St. Reynhard Lumban Gaol. Tampak ornamen gorga Batak menghiasi dinding ruang utama penginapan
Foto 12. Foto bersama seusai acara hiburan malam di Lakeside Haus Balige, Jumat malam 24 Juli 2026 — yang berakhir melewati tengah malam dan ditutup dengan ucapan selamat ulang tahun kepada Amang St. Reynhard Lumban Gaol. Tampak ornamen gorga Batak menghiasi dinding ruang utama penginapan

 

Hari Kedua: Muara, Bakkara, dan Ketinggian Sipinsur
Sabtu pagi, 25 Juli, disiplin kembali ditegakkan. Setelah sarapan pukul 08.00, rombongan menggelar latihan koor kedua pukul 09.00–10.00 — melanjutkan persiapan lagu-lagu yang akan dibawakan pada Ibadah Minggu keesokan harinya. Kali ini latihan digelar di ruang terbuka menghadap danau; suara bass, tenor, dan bariton berpadu, dan akustik alam terbuka memberi warna yang berbeda dari ruang latihan di Slipi.
Pukul 10.00 WIB rombongan berangkat menyusuri jalur barat danau menuju kawasan Muara dan Bakkara — lembah bersejarah yang dikenal sebagai tanah kelahiran Sisingamangaraja.
Makan siang pukul 12.00 WIB berlangsung di Resto Rosa Richvia, sebuah rumah makan tepi Danau Toba di kawasan Bakkara, dengan jamuan dari keluarga Bapak Robert Pakpahan.
Restoran ini dibangun dengan konsep dek kayu yang menjorok langsung ke atas air. Tamu makan hanya berjarak beberapa langkah dari permukaan danau, dengan latar perbukitan hijau yang menjulang di kejauhan dan deretan keramba ikan yang tampak mengapung di kejauhan — pemandangan khas kehidupan masyarakat tepian Toba.
Menu yang tersaji adalah barisan hidangan Batak terbaik: ikan tombur, ikan goreng, ayam goreng, dan ayam napinadar. Ikan tombur — ikan bakar yang disiram bumbu andaliman, cabai, dan bawang — menjadi favorit rombongan, disantap panas-panas bersama nasi putih dan sambal.

Foto 13. Dek kayu Resto Rosa Richvia yang menjorok ke atas Danau Toba, Sabtu 25 Juli 2026. Papan nama restoran dan ornamen bintang menjadi latar foto favorit para tamu.
Foto 13. Dek kayu Resto Rosa Richvia yang menjorok ke atas Danau Toba, Sabtu 25 Juli 2026. Papan nama restoran dan ornamen bintang menjadi latar foto favorit para tamu.

 

Foto 14. Sebagian rombongan Punguan Koor Ama HKBP Slipi berfoto bersama di dek restoran seusai makan siang. Tampak di belakang perbukitan hijau dan keramba ikan di perairan Danau Toba.
Foto 14. Sebagian rombongan Punguan Koor Ama HKBP Slipi berfoto bersama di dek restoran seusai makan siang. Tampak di belakang perbukitan hijau dan keramba ikan di perairan Danau Toba.

Selesai makan, rombongan berpindah ke dek depan yang menjorok ke arah danau — berfoto, menikmati panorama lembah Bakkara, dan kembali bernyanyi bergantian diiringi pemain keyboard.
Sekitar pukul 14.00 WIB perjalanan dilanjutkan ke kawasan Geopark Sipinsur di Kabupaten Humbang Hasundutan. Berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, taman wisata alam ini dikenal sebagai salah satu titik pandang terbaik untuk menyaksikan Danau Toba dari sisi selatan.
Sesampainya di sana, rombongan langsung disambut panorama yang membuat perjalanan berkelok selama dua jam terasa sepadan. Dari balik pagar pembatas dek pandang, Danau Toba terhampar luas dengan Pulau Sibandang — pulau terbesar kedua di Danau Toba, dikenal sebagai penghasil mangga — tampak menjorok di kejauhan, dikelilingi perbukitan hijau kawasan Muara. Udara sejuk khas dataran tinggi dan aroma pohon pinus yang mengelilingi area membuat suasana terasa lapang.

Foto 15. Sebagian rombongan Punguan Koor Ama HKBP Slipi berfoto di dek pandang Geopark Sipinsur, Humbang Hasundutan, Sabtu 25 Juli 2026. Di kejauhan tampak hamparan Danau Toba dengan Pulau Sibandang dan kawasan Muara.
Foto 15. Sebagian rombongan Punguan Koor Ama HKBP Slipi berfoto di dek pandang Geopark Sipinsur, Humbang Hasundutan, Sabtu 25 Juli 2026. Di kejauhan tampak hamparan Danau Toba dengan Pulau Sibandang dan kawasan Muara.

Di bawah rindang pohon pinus, rombongan duduk-duduk, berfoto, dan berbincang santai ditemani tuak dan kacang yang telah disiapkan St. Berti Siregar. Percakapan mengalir tanpa agenda — tentang kampung halaman, tentang anak-anak yang kini tersebar di berbagai kota, tentang masa muda yang terasa baru kemarin. Inilah tradisi marlapo yang bagi kaum bapak Batak merupakan ruang percakapan paling jujur, kali ini digelar dengan latar salah satu pemandangan paling megah di Sumatera Utara.

Pukul 17.00 WIB rombongan meninggalkan Sipinsur menuju Siborong-borong, singgah di kediaman Amang St. Reynhard Lumban Gaol untuk mengikuti acara ulang tahun sekaligus menikmati jamuan makan malam. Bagi rombongan, ini menjadi perayaan kedua dalam satu hari — setelah ucapan spontan yang mereka nyanyikan tepat lewat tengah malam sebelumnya di Lakeside Haus. Sekitar pukul 20.00 WIB, rombongan kembali ke Lakeside Haus untuk beristirahat — mengumpulkan tenaga untuk tugas pelayanan esok pagi.

 

Hari Ketiga: Pelayanan di HKBP Balige
Minggu pagi, 26 Juli, dimulai dengan sarapan pukul 07.00 WIB. Setelah itu, sebelum berangkat ke gereja, rombongan memanfaatkan pagi terakhir mereka di Balige dengan cara yang paling sederhana sekaligus paling menyenangkan: turun ke air.
Sebagian langsung menuju tepian Danau Toba di depan penginapan. Air danau yang dingin dan jernih di pagi hari menyambut mereka. Dengan latar perbukitan yang masih terselimut kabut dan langit mendung yang belum sepenuhnya terbuka, para bapak berenang ke tengah, mengangkat tangan, dan tertawa — sebagian besar dari mereka mengulang kembali apa yang biasa mereka lakukan puluhan tahun silam saat masih kanak-kanak di kampung.

Foto 16. Berenang di Danau Toba pada Minggu pagi, 26 Juli 2026, tepat di depan penginapan Lakeside Haus Balige. Latar belakang memperlihatkan perbukitan di seberang danau yang masih tertutup awan pagi.
Foto 16. Berenang di Danau Toba pada Minggu pagi, 26 Juli 2026, tepat di depan penginapan Lakeside Haus Balige. Latar belakang memperlihatkan perbukitan di seberang danau yang masih tertutup awan pagi.

Selesai dari danau, kegembiraan berlanjut di kolam renang Lakeside Haus Balige yang berada tepat di tepi danau. Dari dalam kolam, pandangan langsung menembus ke arah air Toba — sebuah tata letak yang membuat batas antara kolam dan danau nyaris tak terasa.

Foto 17. Rombongan berpose di kolam renang dengan latar bangunan utama Lakeside Haus Balige. Penginapan ini dikelola oleh keluarga Wiston Manihuruk / Ellen Pangaribuan, jemaat HKBP Ressort Slipi.
Foto 17. Rombongan berpose di kolam renang dengan latar bangunan utama Lakeside Haus Balige. Penginapan ini dikelola oleh keluarga Wiston Manihuruk / Ellen Pangaribuan, jemaat HKBP Ressort Slipi.

Menjelang pukul 09.00 WIB, suasana berubah. Handuk digantung, pakaian ibadah dikenakan, dan latihan koor terakhir digelar. Kali ini dengan konsentrasi penuh: harmonisasi diperiksa ulang, dinamika ditajamkan, formasi ditata. Dalam hitungan jam, tawa di kolam renang berganti menjadi keheningan sebelum masuk ke rumah ibadah.
Perubahan itu terlihat paling jelas pada penampilan mereka. Celana pendek dan handuk basah berganti jas hitam, kemeja putih, dan dasi biru muda. Sebelum berangkat ke gereja, seluruh anggota koor berkumpul di halaman rumput tepi danau di depan penginapan untuk berfoto bersama — dengan Danau Toba dan barisan pegunungan Tapanuli sebagai latar, di bawah langit pagi yang masih berawan tebal.

Foto 18. Punguan Koor Ama HKBP Slipi berpose lengkap dengan seragam ibadah di tepi Danau Toba, di halaman Lakeside Haus Balige, Minggu pagi 26 Juli 2026 — sesaat sebelum berangkat menuju Ibadah Minggu di HKBP Balige.
Foto 18. Punguan Koor Ama HKBP Slipi berpose lengkap dengan seragam ibadah di tepi Danau Toba, di halaman Lakeside Haus Balige, Minggu pagi 26 Juli 2026 — sesaat sebelum berangkat menuju Ibadah Minggu di HKBP Balige.

Pukul 10.30 WIB, rombongan mengikuti Ibadah Minggu di HKBP Balige dan membawakan dua lagu koor di bawah pimpinan dirigen Amang Parlis Sinaga: Ondihon dan Ro do Au Marsomba tu Jolom. Inilah puncak perjalanan — momen ketika liburan berubah menjadi pelayanan. Kaum bapak dari sebuah kota metropolitan berdiri di gereja di tanah leluhur mereka, menyanyikan pujian dalam bahasa yang sama yang dinyanyikan nenek moyang mereka lebih dari satu abad silam.
Penampilan mereka rapi dan seragam: jas hitam, kemeja putih, dan dasi biru muda — warna yang sama, suara yang berpadu. Rombongan menempati beberapa deretan bangku di sisi kanan ruang ibadah, membaur bersama jemaat setempat, mengikuti seluruh rangkaian kebaktian dari awal.
Kebaktian pagi itu dilayani oleh pelayan HKBP Balige. St. Eva Tambunan bertugas maragenda — membacakan liturgi dari depan altar, memimpin jemaat melewati rangkaian ibadah. Di belakangnya, salib altar berdiri di antara deretan jendela kaca patri, dan pada dinding melengkung di atasnya terbaca tulisan “Kristus do Pardameonta” — Kristus adalah damai kita.

Foto 19. St. Eva Tambunan bertugas maragenda — membacakan liturgi ibadah — pada Ibadah Minggu di HKBP Balige, 26 Juli 2026. Di dinding melengkung tampak tulisan "Kristus do Pardameonta".
Foto 19. St. Eva Tambunan bertugas maragenda — membacakan liturgi ibadah — pada Ibadah Minggu di HKBP Balige, 26 Juli 2026. Di dinding melengkung tampak tulisan “Kristus do Pardameonta”.

Khotbah disampaikan Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th dari mimbar kayu berukir yang menjulang tinggi di sisi ruangan — mimbar tinggi khas gereja-gereja HKBP tua, dicapai lewat tangga melingkar berpagar kayu, dengan kain hijau bersalib putih menandai musim liturgi.

Foto 20. Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th menyampaikan khotbah dari mimbar tinggi berukir HKBP Balige pada Ibadah Minggu, 26 Juli 2026.
Foto 20. Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th menyampaikan khotbah dari mimbar tinggi berukir HKBP Balige pada Ibadah Minggu, 26 Juli 2026.

Ketika giliran mereka tiba, papan pengumuman digital di sisi ruangan menampilkan satu baris: Punguan Koor Ama HKBP Slipi. Para bapak berdiri, membuka map partitur berwarna hijau kebiruan, dan mengisi ruang gereja tua itu dengan dua lagu yang telah mereka latih tiga kali sejak Jumat.

Foto 21. Punguan Koor Ama HKBP Slipi membawakan lagu pujian pada Ibadah Minggu di HKBP Balige, 26 Juli 2026. Papan pengumuman di sisi kiri ruangan menampilkan nama kelompok koor yang sedang tampil.
Foto 21. Punguan Koor Ama HKBP Slipi membawakan lagu pujian pada Ibadah Minggu di HKBP Balige, 26 Juli 2026. Papan pengumuman di sisi kiri ruangan menampilkan nama kelompok koor yang sedang tampil.
Foto 22. Rombongan Punguan Koor Ama HKBP Slipi berfoto bersama di halaman depan Gereja HKBP Balige, seusai Ibadah Minggu, 26 Juli 2026. Bangunan gereja kayu bergaya gotik dengan menara menjulang dan jendela kaca patri ini merupakan salah satu penanda sejarah kekristenan di Tanah Batak. Tampak pula pelayan gereja setempat berdiri bersama rombongan.
Foto 22. Rombongan Punguan Koor Ama HKBP Slipi berfoto bersama di halaman depan Gereja HKBP Balige, seusai Ibadah Minggu, 26 Juli 2026. Bangunan gereja kayu bergaya gotik dengan menara menjulang dan jendela kaca patri ini merupakan salah satu penanda sejarah kekristenan di Tanah Batak. Tampak pula pelayan gereja setempat berdiri bersama rombongan.

 

Foto 23. Suasana di dalam Gereja HKBP Balige — interior kayu, langit-langit berkubah, dan deretan jendela kaca patri berwarna kuning-hijau yang membingkai salib altar. Foto bersama diambil seusai pelayanan koor pada Ibadah Minggu, 26 Juli 2026.
Foto 23. Suasana di dalam Gereja HKBP Balige — interior kayu, langit-langit berkubah, dan deretan jendela kaca patri berwarna kuning-hijau yang membingkai salib altar. Foto bersama diambil seusai pelayanan koor pada Ibadah Minggu, 26 Juli 2026.

Selesai ibadah, rombongan menikmati makan siang dan ramah-tamah bersama jemaat di ruang serbaguna HKBP Balige. Di sinilah pelayanan mereka melangkah satu tahap lebih jauh dari nyanyian.

Pada kesempatan itu, Punguan Koor Ama HKBP Slipi menyerahkan tali kasih sebesar Rp 10.000.000 kepada HKBP Balige — terdiri atas Rp 2.000.000 untuk huria (jemaat) dan Rp 8.000.000 untuk pembangunan gereja. Tali kasih diserahkan langsung kepada Pdt. Thomson Sinaga, pelayan HKBP Balige, disaksikan seluruh rombongan dan jemaat yang hadir.

Foto 24. Penyerahan tali kasih Punguan Koor Ama HKBP Slipi sebesar Rp 10.000.000 kepada Pdt. Thomson Sinaga dari HKBP Balige pada acara ramah-tamah di ruang serbaguna, Minggu 26 Juli 2026 — Rp 2.000.000 untuk huria dan Rp 8.000.000 untuk pembangunan gereja.Sebelum melanjutkan perjalanan, rombongan kembali sejenak ke penginapan untuk berkemas. Di halaman depan Lakeside Haus, masih lengkap dengan busana ibadah, sempat diabadikan foto bersama pelayan gereja yang mendampingi kebaktian pagi itu.
Foto 24. Penyerahan tali kasih Punguan Koor Ama HKBP Slipi sebesar Rp 10.000.000 kepada Pdt. Thomson Sinaga dari HKBP Balige pada acara ramah-tamah di ruang serbaguna, Minggu 26 Juli 2026 — Rp 2.000.000 untuk huria dan Rp 8.000.000 untuk pembangunan gereja.

Sebelum melanjutkan perjalanan, rombongan kembali sejenak ke penginapan untuk berkemas. Di halaman depan Lakeside Haus, masih lengkap dengan busana ibadah, sempat diabadikan foto bersama pelayan gereja yang mendampingi kebaktian pagi itu.

Foto 25. Wiston Manihuruk dan istri, Ellen Pangaribuan, bersama Pdt. Tumpal H. Simamora di halaman depan Lakeside Haus Balige, seusai Ibadah Minggu 26 Juli 2026. Perjalanan kemudian berlanjut ke Pematang Siantar, di mana rombongan bermalam di kediaman Bapak Robert Pakpahan. Pukul 19.30 WIB, tuan rumah menjamu makan malam bersama, kembali diiringi musik dan pemain keyboard.
Foto 25. Wiston Manihuruk dan istri, Ellen Pangaribuan, bersama Pdt. Tumpal H. Simamora di halaman depan Lakeside Haus Balige, seusai Ibadah Minggu 26 Juli 2026.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Pematang Siantar, di mana rombongan bermalam di kediaman Bapak Robert Pakpahan. Pukul 19.30 WIB, tuan rumah menjamu makan malam bersama, kembali diiringi musik dan pemain keyboard.

Namun malam itu tidak berhenti pada jamuan. Di tengah acara, rombongan mendengar kabar musibah yang menimpa HKBP Ressort Marihat, yang dipimpin Pdt. Colan Pakpahan, M.Th: atap gereja rusak diterjang angin puting beliung. Kabar itu langsung mengubah suasana meja makan menjadi forum penggalangan dana.
Satu per satu peserta menyampaikan komitmen bantuan. Hingga malam itu berakhir, dana yang berhasil dihimpun mencapai sekitar Rp 41.000.000 — angka yang jauh melampaui perkiraan awal, terkumpul dalam hitungan jam dari sebuah rombongan yang datang ke Tapanuli untuk bernyanyi.
Selesai urusan itu, suasana sukacita pecah lagi — nyanyian dan joget berlangsung hingga pukul 23.30 WIB sebelum rombongan beristirahat.

 

Hari Keempat: Perpisahan di Siantar
Senin, 27 Juli, rombongan sarapan pukul 08.00 WIB di kediaman Bapak Robert Pakpahan. Pukul 10.00 WIB, Pdt. Eldarton Simbolon, D.Min — Kepala Departemen Diakonia HKBP — berkenan hadir dan bertemu langsung dengan rombongan.
Perjumpaan itu bukan hanya bersifat rohani. Pada kesempatan tersebut, Punguan Koor Ama HKBP Slipi menyerahkan tali kasih sebesar Rp 5.000.000 kepada Panti Asuhan Elim HKBP di Pematangsiantar. Dengan demikian, perjalanan yang bermula sebagai pelayanan pujian ditutup dengan pelayanan diakonia — sebuah lingkaran yang lengkap.

Panti Asuhan Elim HKBP kemudian menyampaikan piagam apresiasi dan ucapan terima kasih, ditandatangani oleh Pdt. Eldarton Simbolon, D.Min dan Pimpinan Panti Asuhan Elim HKBP, Pdt. Evelin Sihombing, M.Th. Piagam itu mengutip Matius 25:40 — pengingat bahwa apa yang dilakukan bagi mereka yang paling kecil, dilakukan juga bagi Tuhan sendiri.

Foto 26. Piagam apresiasi dan ucapan terima kasih dari Panti Asuhan Elim HKBP kepada Punguan Koor Ama HKBP Slipi atas tali kasih sebesar Rp 5.000.000, diterbitkan di Pematangsiantar, 27 Juli 2026.
Foto 26. Piagam apresiasi dan ucapan terima kasih dari Panti Asuhan Elim HKBP kepada Punguan Koor Ama HKBP Slipi atas tali kasih sebesar Rp 5.000.000, diterbitkan di Pematangsiantar, 27 Juli 2026.

Foto 26. Piagam apresiasi dan ucapan terima kasih dari Panti Asuhan Elim HKBP kepada Punguan Koor Ama HKBP Slipi atas tali kasih sebesar Rp 5.000.000, diterbitkan di Pematangsiantar, 27 Juli 2026.
Acara terakhir digelar pukul 12.00 WIB: makan bersama seluruh rombongan di Restoran Sehat, Jalan Bandung, Pematang Siantar, dengan jamuan dari Bapak Anggiat Tambunan dan keluarga.
Selesai makan, tibalah saat berpisah. Sebagian rombongan langsung bertolak ke Jakarta melalui Bandara Kualanamu; sebagian lagi memilih tinggal beberapa waktu di Medan dan baru kembali ke Jakarta pada hari berikutnya.

Lebih dari Sekadar Perjalanan
Empat hari, tiga malam, ratusan kilometer jalan berkelok, dan entah berapa lagu yang dinyanyikan. Namun yang paling melekat dari perjalanan Punguan Koor Ama HKBP Slipi ini barangkali bukan pemandangannya — melainkan kemurahan hati yang mengalir di sepanjang rute.
Hampir setiap jamuan dalam perjalanan ini adalah pemberian: dari Bapak Jhon CE Nababan di Balige, keluarga Bapak Robert Pakpahan di Bakkara dan Siantar, St. Berti Siregar di Sipinsur, Amang St. Reynhard Lumban Gaol di Siborong-borong, hingga Bapak Anggiat Tambunan di Pematang Siantar — termasuk keramahan keluarga Wiston Manihuruk / Ellen Pangaribuan yang menerima rombongan selama dua malam di Lakeside Haus Balige. Di balik itu semua, para ibu pendamping bekerja tanpa banyak terlihat, memastikan setiap keperluan rombongan terlayani dari hari pertama hingga hari terakhir. Inilah wujud nyata dalihan na tolu — sistem kekerabatan Batak yang menempatkan kehormatan pada kesediaan menerima dan melayani sesama.
Namun kemurahan hati itu tidak hanya mengalir satu arah. Sepanjang empat hari, Punguan Koor Ama HKBP Slipi menyalurkan bantuan dengan total sekitar Rp 56.000.000:
• Rp 10.000.000 tali kasih kepada HKBP Balige — Rp 2.000.000 untuk huria dan Rp 8.000.000 untuk pembangunan gereja
• ± Rp 41.000.000 komitmen bantuan untuk perbaikan atap HKBP Ressort Marihat yang rusak diterjang puting beliung
• Rp 5.000.000 tali kasih kepada Panti Asuhan Elim HKBP di Pematangsiantar
Angka-angka itu berbicara sendiri. Yang mereka bawa pulang bukan sekadar kenangan, dan yang mereka tinggalkan bukan sekadar nyanyian.
Rombongan pulang ke Jakarta membawa oleh-oleh yang tidak muat di koper: persaudaraan yang lebih erat, harmoni suara yang lebih padu, dan pengingat bahwa akar mereka tetap tertanam di tepian danau vulkanik terbesar di dunia itu.
Horas!

Disusun oleh Wiston Manihuruk, Ketua Seksi Ama HKBP Ressort Slipi, berdasarkan catatan perjalanan rombongan Punguan Koor Ama HKBP Slipi, Jakarta Barat, 24–27 Juli 2026. Foto-foto merupakan dokumentasi rombongan.