Renungan Harian
Senin 20 Juli 2026
Wahyu 21: 4
Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”
Renungan: “Air Mata yang Akan Dihapus: Pengharapan di Tengah Dunia yang Penuh Duka”
Coba perhatikan linimasa media sosial kita hari ini. Di sela-sela foto liburan dan pencapaian karier, terselip juga kabar duka: seorang teman kehilangan orang tuanya, seorang kenalan berjuang melawan kanker stadium akhir, seorang sahabat lama bercerai setelah bertahun-tahun menikah. Dunia kita adalah dunia yang penuh air mata, entah karena kehilangan orang terkasih, penyakit yang tak kunjung sembuh, atau kekecewaan yang datang bertubi-tubi. Bahkan berita global terus dipenuhi perang, bencana, dan penderitaan yang seolah tak pernah berhenti. Wajar jika hati kita kadang bertanya: apakah air mata ini akan terus ada selamanya? Adakah akhir dari semua penderitaan ini?
Di tengah pertanyaan itulah Kitab Wahyu menghadirkan gambaran yang begitu menghibur: sebuah masa depan di mana Allah sendiri akan menghapus segala air mata dari mata umat-Nya, dan maut, perkabungan, ratap tangis, dan dukacita tidak akan ada lagi, karena segala sesuatu yang lama telah berlalu (Why. 21:4). Ini bukan sekadar penghiburan puitis, melainkan janji nyata dari Allah yang berkuasa mengakhiri seluruh sejarah penderitaan manusia.
Bayangkan gambaran ini: seorang ibu yang dengan lembut menyeka air mata anaknya yang terjatuh, bukan hanya menyekanya, tetapi memastikan lukanya benar-benar sembuh dan tidak akan terjadi lagi. Begitulah Allah digambarkan dalam ayat ini, bukan Allah yang jauh dan dingin, melainkan Allah yang turun tangan sendiri, secara pribadi, menghapus air mata umat-Nya satu per satu.
Kisah nyata yang menggambarkan pengharapan ini datang dari kesaksian Corrie ten Boom, seorang perempuan Belanda yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi setelah kehilangan ayah dan kakaknya di sana. Meski menyaksikan penderitaan luar biasa, ia terus bersaksi bahwa “tidak ada lubang begitu dalam sehingga kasih Allah tidak lebih dalam lagi.” Bagi Corrie, pengharapan akan dunia baru tanpa air mata bukanlah pelarian dari kenyataan pahit, melainkan kekuatan yang justru memampukannya terus berjalan dan mengampuni bahkan mantan penjaga kamp yang pernah menyiksanya.
Relevansinya bagi kita hari ini sangat nyata. Ketika kita duduk di samping ranjang rumah sakit orang yang kita kasihi, ketika kita menghadapi kegagalan yang menghancurkan harapan, ketika kita merasa lelah berjuang melawan masalah yang seolah tak berkesudahan, pengharapan akan hari di mana Allah sendiri menghapus air mata kita bukanlah dongeng penghibur semata, melainkan jangkar yang menahan kita agar tidak tenggelam dalam keputusasaan.
Pengharapan ini juga mengubah cara kita memperlakukan orang lain yang sedang berduka. Alih-alih buru-buru menyuruh mereka “tegar” atau “ikhlas”, kita dipanggil untuk hadir bersama mereka dalam air mata itu, sama seperti Allah yang tidak menjauh dari duka manusia, melainkan mendekat dan menyekanya sendiri.
Pertanyaan renungan hari ini: di tengah air mata apa yang sedang kita alami saat ini, kehilangan, kekecewaan, atau kelelahan yang panjang, percayakah kita bahwa Allah sedang menuju saat di mana Ia sendiri akan menghapusnya? Berpeganglah pada pengharapan ini, sebab Ia yang menjanjikannya, setia. Amin.
Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh
