Renungan Harian
Rabu 27 Mei 2026
3 Yohanes 1: 11
Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah.
Renungan: “Tiruan yang Menyelamatkan: Copy-Paste dari Sumber yang Benar”
Di era media sosial, kita hidup dalam budaya “copy-paste”. Tren dansa, gaya berpakaian, bahkan cara berpikir mudah sekali kita tiru dari figur yang kita ikuti. Tanpa sadar, algoritma membentuk selera, opini, dan akhirnya karakter kita. Masalahnya, tidak semua yang viral itu baik. Banyak standar yang ditawarkan dunia justru menjauhkan kita dari kebenaran.
Rasul Yohanes, dalam suratnya yang singkat kepada Gayus, memberikan peringatan yang tajam dan sederhana: “Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Siapa yang berbuat baik, ia berasal dari Allah; tetapi siapa yang berbuat jahat, ia tidak melihat Allah” (3 Yohanes 1:11). Ayat ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan sebuah ujian rohani yang mendalam. Kata kuncinya adalah “meniru” (Yunani: mimeomai), yang berarti meneladani atau mengikuti suatu pola dengan sengaja. Yohanes tahu bahwa hidup manusia pada dasarnya adalah sebuah peniruan: kita menjadi seperti apa yang kita sembah dan kita perhatikan terus-menerus.
Yang menarik, Yohanes langsung menghubungkan perbuatan dengan asal-usul rohani seseorang. Berbuat baik adalah bukti bahwa seseorang “berasal dari Allah”, buah dari kehidupan yang bersumber pada-Nya. Sebaliknya, mereka yang berbuat jahat “tidak melihat Allah”. Ini tidak berarti mereka atheis, tetapi mata rohani mereka begitu gelap sehingga tidak mengenali hadirat dan karakter Tuhan, meskipun mulut mereka mengaku percaya. Diakon Demetrius, yang disebut Yohanes sesudahnya (ayat 12), menjadi contoh hidup dari seorang yang meniru kebaikan dan karena itu menerima kesaksian baik dari semua orang.
Dalam kehidupan jemaat sehari-hari, meniru yang baik berarti menjalani proses pembentukan yang lambat dan sering kali tidak terlihat. Itu terjadi ketika seorang suami memilih untuk tidak membalas kata-kata kasar istrinya, bukan karena ia lemah, melainkan karena ia telah lama merenungkan kelembutan Yesus. Seorang karyawan yang menolak ikut serta dalam gosip kantor sedang meneladani cara Sang Kebenaran berbicara, penuh rahmat dan kebenaran. Meniru yang baik bukanlah sekadar daftar aturan yang ditaati, melainkan buah dari kedekatan yang terus-menerus dengan Allah. Semakin kita memandang Kristus melalui doa, firman, dan persekutuan yang sehat, semakin karakter kita diselaraskan dengan-Nya tanpa paksaan. Maka, ketika godaan untuk membalas dendam, iri hati, atau mencari pengakuan datang, batin kita telah dilatih untuk secara alami memilih yang baik, karena kita mengenali dari siapa kita berasal. Amin.
“Jangan biarkan algoritma dunia memilihkan siapa yang kau tiru. Pilihlah dengan sengaja: tirulah Kristus, maka hidupmu akan menjadi salinan kasih yang terlihat oleh dunia.”
Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh
