Renungan Harian Kamis 20 Agustus 2026

Renungan Harian

Kamis 20 Agustus 2026

 

Mazmur 18: 3

Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!

 

Renungan: “Berlindung di Celah Batu”

 

Ada satu hal menarik dalam sejarah Kekristenan: sering kali lagu-lagu pujian yang paling menyentuh justru lahir bukan dari ruang kerja yang nyaman, melainkan dari momen paling genting dalam hidup penulisnya. Mereka menulis bukan dari teori, tapi dari pengalaman nyata membutuhkan pertolongan Tuhan saat itu juga.

 

Raja Daud mengalaminya bertahun-tahun. Dikejar-kejar Saul yang ingin membunuhnya, ia berkali-kali bersembunyi di gua-gua dan celah bebatuan padang gurun Yudea. Dari pengalaman nyata itulah lahir seruannya yang penuh perasaan: “Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!” (Mazmur 18:3)

 

Menariknya, ribuan tahun kemudian, di negeri yang jauh berbeda, seorang pendeta muda bernama Augustus Toplady mengalami sesuatu yang mirip. Menurut kisah yang selama ini diceritakan turun-temurun, suatu hari ia sedang dalam perjalanan melewati sebuah jurang di Inggris bernama Burrington Combe. Tiba-tiba badai hebat datang. Dalam keadaan terdesak, ia berlindung di sebuah celah batu besar di jurang itu. Sambil menunggu badai reda, di tengah rasa syukur karena diselamatkan dari badai itu, ia menuliskan lirik yang kelak menjadi salah satu himne paling dikasihi sepanjang sejarah gereja: “Batu Karang yang teguh, Kau tempatku berteduh…” Kita kenal himne itu hari ini dengan judul “Batu Karang yang Teguh,” tercantum di Kidung Jemaat nomor 37. Sama seperti Daud, Toplady tidak menulis dari teori tentang perlindungan Tuhan. Ia menulis setelah benar-benar merasakannya, badai nyata di luar, dan perlindungan nyata dari batu yang menaunginya.

 

Tapi di sinilah letak kedalaman yang luar biasa dari lirik Toplady. Ia tidak berhenti hanya bersyukur karena diselamatkan dari badai fisik. Dalam liriknya, ia mengarahkan gambaran batu itu kepada sesuatu yang jauh lebih dalam: bukan hanya perlindungan dari badai di luar, melainkan perlindungan dari badai yang jauh lebih menakutkan: dosa dan penghakiman. Baginya, batu sungguhan yang menaunginya hari itu menjadi gambaran nyata tentang Kristus, satu-satunya tempat berlindung sejati bagi jiwa yang berdosa.

 

Di sinilah Daud dan Toplady, meski dipisahkan ribuan tahun dan ribuan kilometer, sesungguhnya sedang berbicara tentang kebenaran yang sama. Keduanya pernah merasakan bahaya nyata. Keduanya pernah merasakan perlindungan nyata dari sebongkah batu di tengah ancaman. Dan keduanya, lewat pengalaman itu, sampai pada pengakuan yang sama: bahwa batu fisik yang menaungi mereka hanyalah bayangan kecil dari Batu Karang sesungguhnya, yaitu Tuhan sendiri, yang jauh lebih kokoh dan tidak pernah gagal melindungi umat-Nya.

 

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, mungkin kita tidak pernah bersembunyi di gua-gua dari kejaran musuh seperti Daud, atau berlindung dari badai di celah jurang seperti Toplady. Tapi kita punya badai kita masing-masing: masalah keluarga, kesehatan, pekerjaan, atau ketakutan yang datang tiba-tiba. Pertanyaannya sama seperti yang dihadapi Daud dan Toplady: ke mana kita berlari saat badai itu datang?

 

Mari kita jadikan Mazmur 18:3 bukan sekadar ayat hafalan, tetapi seruan hati yang sungguh-sungguh kita ucapkan, sama seperti Daud dan Toplady mengucapkannya dari pengalaman nyata mereka. Dan mungkin, minggu ini, tidak ada salahnya kita menyanyikan kembali “Batu Karang yang Teguh” bukan sekadar sebagai lagu, tapi sebagai doa pribadi, bahwa hanya di dalam Kristuslah kita benar-benar aman, berteduh dari segala badai kehidupan.

 

Jadikanlah Tuhan gunung batumu hari ini. Sebab Dialah satu-satunya tempat perlindungan yang tidak akan pernah runtuh, baik dahulu, kini, maupun selama-lamanya.

 

Tuhan Yesus memberkati.

Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh