Renungan Harian
5 Juni 2026
Markus 8: 43
Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
Renungan: “Salib yang Tidak Bisa Difoto: Memikul Sesuatu yang Tidak Menarik”
Media sosial membentuk kita untuk hanya menampilkan sisi terbaik: foto makanan cantik, liburan eksotis, senyum keluarga sempurna. Penderitaan, perjuangan diam-diam, dan pengorbanan tersembunyi tidak mendapat tempat di linimasa. Kita bahkan tergoda untuk “memoles” perjalanan iman kita agar terlihat menang dan penuh mujizat setiap hari. Tetapi Yesus tidak pernah menjual iman dengan filter demikian.
Setelah Petrus menegur Yesus karena berbicara tentang penderitaan-Nya, Yesus memanggil orang banyak dan para murid, lalu berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku” (Markus 8:34). Kalimat ini bukanlah kiasan puitis tentang menerima kesulitan hidup biasa. Di abad pertama, salib adalah lambang kematian yang paling memalukan, alat eksekusi Romawi yang mengerikan. Ketika seseorang memikul balok salib dan berjalan menuju tempat penyaliban, ia tidak akan pernah kembali. Semua orang tahu itu adalah jalan satu arah menuju kematian.
Jadi, “memikul salib” berarti mati terhadap diri sendiri: terhadap ambisi egois, terhadap kebutuhan untuk dipuji, terhadap hak untuk membalas dendam, terhadap zona nyaman yang kita idolakan. “Menyangkal diri” bukan berarti membenci diri sendiri, melainkan berkata “tidak” pada kendali diri dan berkata “ya” pada kendali Kristus. Dan “mengikut Aku” adalah panggilan untuk melangkah di belakang-Nya, bukan di depan sambil memberi arahan. Paradoks Injil yang agung adalah: siapa yang berusaha menyelamatkan nyawanya sendiri justru akan kehilangan, tetapi siapa yang rela kehilangan karena Yesus akan menemukan kehidupan sejati.
Dalam kehidupan jemaat, panggilan ini berarti berhenti membandingkan “salib” kita dengan orang lain. Memikul salib mungkin berarti tetap setia melayani tanpa diakui, mengampuni pasangan yang tidak meminta maaf, atau berkata jujur dalam bisnis meskipun berpotensi rugi. Itu terjadi dalam ruang-ruang doa yang hanya diketahui Bapa, bukan sorotan kamera. Hari ini, tanyakanlah pada diri sendiri: apa “salib” yang sedang Tuhan panggil untuk aku pikul, dan apakah aku bersedia memikulnya tanpa perlu ada yang tahu selain Dia?
“Salib tidak akan viral di media sosial. Ia dipikul dalam sunyi, tanpa tepuk tangan, hanya di bawah tatapan Dia yang telah lebih dulu memikulnya bagimu.”
Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh
