Renungan Harian
Rabu 20 Mei 2026
Mazmur 37: 5
Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak
Renungan: “Serahkan Kemudi: Di Tengah Cemasnya ‘Rimba Beton’”
Pernahkah saudara panik saat sinyal GPS tiba-tiba hilang di tengah jalanan kota yang kusut? Kita lebih mempercayai peta digital di genggaman untuk memandu setiap tikungan, namun anehnya, untuk perjalanan hidup yang jauh lebih rumit, kita bersikeras memegang kemudi sendirian. Kita stres saat rencana karier, bisnis, atau jodoh tidak berjalan sesuai “rute” yang telah kita hitung. Firman Tuhan dalam Mazmur 37:5 memberikan instruksi navigasi yang radikal: “Serahkanlah jalanmu kepada TUHAN, percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.”
Kata serahkan dalam bahasa Ibrani adalah galal, yang secara harfiah berarti menggulingkan atau melemparkan beban. Ini bukan sekadar sikap pasif “menunggu nasib”, melainkan sebuah tindakan iman yang proaktif. Kita melemparkan segala beban ekspektasi, kekhawatiran akan masa depan, dan obsesi terhadap hasil, dari pundak kita ke pundak Tuhan. Uniknya, saat kita “melepas”, justru di situlah Tuhan berjanji “akan bertindak”.
Teolog A.W. Tozer pernah mengingatkan, “Alasan banyak orang percaya terus gelisah adalah karena mereka mencoba memikul beban yang seharusnya ditanggung oleh Tuhan.” Hal ini sejalan dengan konsep Illusion of Control dalam psikologi modern; sebuah ilusi bahwa kita bisa dan harus mengendalikan segalanya. Riset menunjukkan bahwa kebutuhan obsesif untuk mengontrol justru memicu hormon stres kortisol. Ketika kita belajar berserah dan melepaskan apa yang di luar kendali kita, otak kita secara harfiah beristirahat dan kecemasan mereda. Iman bukan hanya menyelamatkan jiwa, tetapi juga memulihkan kesehatan mental kita.
Lantas, bagaimana praktiknya di tengah sibuknya kaum urban? Mulailah dengan disiplin “melepas kemudi” secara sadar. Saat dikejar deadline dan ekspektasi atasan, lakukan tanggung jawab kita dengan maksimal. Ketika terjebak kemacetan yang membuat janji temu terancam meleset, jadikan itu alarm doa: serahkan ulang jadwal hari itu ke dalam agenda Tuhan. Hidup di era serba cepat tidak mengharuskan jiwa kita ikut-ikutan kusut. Bekerja keraslah, gunakan akal budi, tetapi jangan genggam hasilnya terlalu erat.
“Serahkan jalannya, maka Sang Jalan itu akan bertindak. Biarkan Tuhan menjadi GPS dalam rimba beton yang tak pasti; lengan-Nya tak pernah kehilangan sinyal.”
Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh
