2 Tawarikh 1: 12
Maka kebijaksanaan dan pengertian itu diberikan kepadamu; selain itu Aku berikan kepadamu kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sebagaimana belum pernah ada pada raja-raja sebelum engkau dan tidak akan ada pada raja-raja sesudah engkau.”
Renungan:
“Hikmat yang Dicari, Berkat yang Menyertai”
Ayat ini adalah puncak dari sebuah pilihan rohani yang sangat menentukan. Salomo tidak memulai doanya dengan daftar kebutuhan materi, bukan pula dengan ambisi kuasa atau jaminan masa depan. Ia memulai dengan kesadaran akan keterbatasan dirinya di hadapan tanggung jawab yang besar. Ia meminta hikmat, kemampuan untuk melihat dengan mata Allah, menilai dengan hati yang takut akan Tuhan, dan bertindak dengan keadilan.
Yang tajam dari teks ini adalah urutan ilahinya: hikmat lebih dulu, berkat menyusul. Allah tidak hanya menjawab permintaan Salomo, tetapi melampauinya. Mengapa? Karena apa yang diminta Salomo selaras dengan hati Allah. Hikmat bukan sekadar kecerdasan intelektual, melainkan kemampuan rohani untuk menempatkan Allah sebagai pusat segala keputusan. Ketika pusatnya benar, maka yang lain akan mengikuti dengan benar pula.
Ayat ini juga menyingkapkan prinsip rohani yang sering terbalik dalam hidup manusia. Banyak orang mengejar kekayaan dengan harapan hidupnya menjadi aman; mengejar kehormatan agar merasa bernilai; mengejar kuasa agar hidupnya berarti. Namun firman Tuhan menunjukkan jalan sebaliknya: kejarlah hikmat, maka keamanan, nilai, dan makna hidup akan Tuhan tambahkan menurut kehendak-Nya. Bukan sebagai tujuan utama, melainkan sebagai konsekuensi dari hidup yang berkenan kepada-Nya.
Renungan ini menegur kita dengan keras sekaligus menguatkan. Apa yang selama ini kita doakan? Apakah doa kita lebih dipenuhi keinginan untuk “memiliki”, atau kerinduan untuk “menjadi” pribadi yang berhikmat di hadapan Allah? Hikmat menuntun kita untuk berkata: “Tuhan, ajari aku memahami kehendak-Mu sebelum Engkau mengubah keadaanku.”
Akhirnya, 2 Tawarikh 1:12 mengingatkan bahwa Allah bukan Allah yang pelit. Ketika seseorang menempatkan yang rohani di atas yang materi, Tuhan tidak kehilangan apa pun, justru manusia yang menerima kelimpahan sejati. Hikmat membentuk karakter, dan dari karakter yang takut akan Tuhan, mengalirlah berkat yang tidak hanya banyak, tetapi juga benar, tepat, dan membawa damai.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th

Для успешной работы потребуется корректная xrumer установка, чтобы избежать ошибок.