Kado untuk Yesus: Jawaban Anak Sekolah Minggu yang Menegur Kita di Hari Natal
Pagi 25 Desember 2025 saya bertugas sebagai liturgis pada kebaktian Natal Anak Sekolah Minggu. Kebaktian berlangsung seperti biasanya, ramai, penuh warna, dan dipenuhi canda riang anak-anak. Lagu-lagu Natal dinyanyikan dengan suara polos, drama sederhana dimainkan dengan penuh semangat oleh Guru Sekolah Minggu, dan pada akhirnya seorang Guru Sekolah Minggu menyampaikan kesimpulan berupa renungan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Di tengah renungan, seorang guru mengajukan pertanyaan sederhana kepada anak-anak:
“Apa kado terbaik yang akan kalian berikan kepada Yesus yang berulang tahun?”
Pertanyaan itu terasa ringan. Dalam benak saya, jawaban yang mungkin muncul adalah mainan, permen, cokelat, atau barang-barang yang akrab dengan dunia anak-anak. Namun salah satu anak mengangkat tangan dan menjawab dengan yakin:
“Saya akan rajin belajar supaya menjadi pandai dan juara di sekolah.”
Sejenak, saya terdiam.
Jawaban itu begitu sederhana, tetapi juga mengejutkan. Tidak ada barang. Tidak ada kemasan. Tidak ada pita atau kertas kado. Yang ada hanyalah sebuah tekad, yaitu tentang bagaimana ia sadar akan kewajibannya sebagai anak Sekolah Dasar.
Tanpa disadari, anak itu mengajarkan sesuatu yang sering kali kita lupakan: bahwa kado terbaik bagi Yesus tidak selalu berupa apa yang kita berikan dari tangan kita, melainkan apa yang kita persembahkan melalui hidup kita.
Natal sering kita rayakan dengan persiapan yang meriah. Gereja dihias, lagu-lagu dilatih, hadiah-hadiah disiapkan. Semua itu indah dan bermakna. Namun jawaban polos seorang anak membuat kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah Natal hanya tentang apa yang kita berikan, atau tentang bagaimana kita hidup setelah Natal itu berlalu?
Alkitab menggambarkan Anak yang lahir di Betlehem bukan sekadar bayi yang membawa sukacita, melainkan Pribadi yang mengarahkan hidup manusia:
“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (Yesaya 9:5)
Yesus yang kita rayakan dalam Natal adalah Penasihat Ajaib. Ia menuntun hidup, bukan sekadar menerima hadiah. Ia adalah Raja Damai, yang rindu membentuk cara kita menjalani keseharian.
Ketika seorang anak berkata ingin rajin belajar, sesungguhnya ia sedang menanggapi Yesus sebagai Penasihat hidupnya. Ia belajar bahwa mengasihi Tuhan tidak selalu berarti melakukan hal-hal besar, tetapi setia dalam tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya hari demi hari.
Bukankah Yesus sendiri lahir dalam kesederhanaan?
Bukan di istana, melainkan di palungan. Bukan dengan kemegahan, melainkan dengan kerendahan hati. Natal sejak awal mengajarkan bahwa Tuhan hadir dalam hal-hal yang sederhana, dan berkenan pada hati yang mau dibentuk.
Jawaban anak itu terasa menegur, bukan dengan kata-kata keras, tetapi dengan kepolosan. Ia seperti mengingatkan kita yang sudah dewasa: apa kado kita bagi Yesus selama ini? Barang-barang, atau hidup yang dijalani dengan sungguh-sungguh?
Bagi anak itu, rajin belajar adalah bentuk kasih. Bagi kita, mungkin bentuknya berbeda: bekerja dengan jujur, setia dalam pelayanan, mendidik anak dengan sabar, atau tetap berpengharapan di tengah situasi yang tidak mudah. Semua itu mungkin tidak terlihat istimewa, tetapi itulah kado yang tidak pernah usang di hadapan Tuhan.
Natal mengingatkan kita bahwa Yesus tidak mencari hadiah yang mahal. Ia rindu hidup yang mau dibimbing oleh-Nya. Dan kadang-kadang, justru melalui suara anak-anak, Tuhan menyampaikan nasihat-Nya dengan cara yang paling jujur dan lembut.
Hari Natal ini, saya belajar satu hal sederhana namun mendalam:
kado terbaik bagi Yesus bukan apa yang kita punya, melainkan hidup yang kita jalani di bawah tuntunan Sang Penasihat Ajaib.
_Soli Deo Gloria
Jakarta, 25 Desember 2025
Christofel P. Simanjuntak
