Renungan Harian Jumat 10 Juli 2026

Renungan Harian

Jumat 10 Juli 2026

 

Ibrani 10: 23

Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.

 

Renungan: “Berpegang Teguh di Tengah Dunia yang Mudah Berubah”

 

Kita hidup di zaman di mana janji terasa murah. Seseorang bisa mengumumkan komitmen besar di media sosial hari ini, lalu menghapusnya minggu depan. Kontrak bisa dibatalkan sepihak, hubungan bisa berakhir lewat satu pesan singkat, dan bahkan kepercayaan pada institusi: pemerintah, gereja, tokoh publik, terus tergerus karena begitu banyak yang berubah pikiran atau mengingkari kata-katanya sendiri. Dalam dunia yang serba cair ini, wajar jika hati kita diam-diam bertanya: adakah sesuatu yang benar-benar bisa dipegang teguh?

 

Penulis Kitab Ibrani menulis kepada jemaat yang sedang goyah, yang lelah dianiaya, dan tergoda untuk mundur dari iman mereka. Kepada mereka ia berkata: “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, oleh karena Ia, yang menjanjikannya, setia” (Ibr. 10:23). Ayat ini bukan seruan untuk sekadar berpegang pada ide atau semangat yang menguap, tetapi pada Pribadi yang menjanjikannya: Allah sendiri, yang karakternya tidak pernah berubah.

 

Kata “setia” di sini, dalam bahasa Yunani ‘pistos’, menunjuk pada kesetiaan yang teruji, yang dapat diandalkan seperti fondasi batu. Ini bukan optimisme kosong, melainkan keyakinan yang berakar pada rekam jejak Allah yang tidak pernah mengingkari janji-Nya sepanjang sejarah keselamatan, dari Abraham, bangsa Israel, hingga kematian dan kebangkitan Kristus.

 

Teolog Dietrich Bonhoeffer, yang menulis dari penjara Nazi sambil menghadapi ancaman kematian, memahami betul makna berpegang teguh di tengah dunia yang runtuh. Baginya, iman sejati bukan soal perasaan yang stabil, melainkan ketaatan yang terus dipegang meski segala sesuatu di sekeliling goyah, karena dasarnya bukan diri sendiri, melainkan kesetiaan Allah.

 

Bayangkan seperti tiang pancang sebuah jembatan Batak tradisional di atas sungai deras: jembatan itu bisa bergoyang saat dilewati, tetapi tidak runtuh, karena tiangnya tertanam dalam pada dasar yang kokoh. Begitu pula hidup kita, boleh saja bergoyang oleh masalah pekerjaan, kesehatan, atau hubungan yang retak, tetapi pengharapan kita tidak boleh goyah, karena berpijak pada karakter Allah yang setia.

 

Maka pergumulan kita hari ini menjadi nyata: ketika pekerjaan tak menentu, ketika kesehatan menurun, ketika orang-orang yang kita percaya justru mengecewakan kita, Ibrani 10:23 mengingatkan bahwa pengharapan kita bukan bergantung pada stabilnya keadaan, tetapi pada kesetiaan Allah yang tak pernah berubah. Maka patutlah kita bertanya dalam hati: pada apa sebenarnya kita berpegang hari ini, pada keadaan yang naik turun, atau pada Allah yang setia? Berpeganglah teguh, sebab Ia yang menjanjikan, setia. Amin.

 

Tuhan Yesus memberkati.

Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh