Renungan Harian Jumat 12 Juni 2026

Renungan Harian

Jumat 12 Juni 2026

 

Kisah Para Rasul 5: 29

Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.

 

Renungan: “Suara yang Lebih Tinggi: Ketika Iman Bertabrakan dengan Aturan”

 

Di dunia profesional modern, kita akrab dengan istilah “benturan kepentingan” dan “standar operasional prosedur.” Ada aturan perusahaan, kebijakan pemerintah, dan ekspektasi sosial yang membentuk batas-batas perilaku kita. Namun, apa yang terjadi ketika aturan manusia bertabrakan secara langsung dengan suara hati yang dibentuk oleh iman? Seorang perawat yang diminta membantu prosedur yang melanggar nuraninya, seorang akuntan yang ditekan memanipulasi laporan, seorang pelajar yang diolok-olok karena keyakinannya, semua menghadapi momen keputusan yang menentukan.

 

Para rasul pernah berdiri di persimpangan yang jauh lebih berbahaya. Setelah dipenjarakan dan diperingatkan oleh Mahkamah Agama Yahudi untuk berhenti mengajar dalam nama Yesus, Petrus dan rasul-rasul lain menjawab dengan keberanian yang mengguncang: “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (Kisah Para Rasul 5:29). Perhatikan kata “harus” (Yunani: dei), ini bukan pilihan atau preferensi, melainkan keharusan ilahi yang tak dapat ditawar. Otoritas manusia, setinggi apa pun, memiliki batas. Ketika perintahnya bertentangan dengan perintah Allah, maka hierarki ketaatan menjadi sangat jelas: Allah di atas segalanya.

 

Namun, perlu dipahami bahwa ini bukanlah lisensi untuk memberontak terhadap semua otoritas. Konteksnya spesifik: para rasul dilarang mewartakan kebenaran yang Allah sendiri perintahkan untuk mereka sampaikan. Ini adalah konflik antara dua otoritas yang tidak bisa dikompromikan. Mereka tidak melawan dengan kekerasan; mereka menyatakan kebenaran dan siap menanggung konsekuensinya (yang kemudian berupa cambukan). Ketaatan kepada Allah bukanlah arogansi rohani, melainkan pengakuan bahwa ada Takhta yang lebih tinggi dari segala takhta duniawi.

 

Secara praktis, latihlah kepekaan untuk mengenali kapan sebuah aturan mulai menuntut kita mengkhianati iman. Itu mungkin dimulai dari hal kecil: diam saat seharusnya bersuara, atau ikut tertawa saat iman kita diejek. Mintalah hikmat Allah setiap hari agar dapat membedakan antara pemberontakan egois dan ketaatan sejati kepada-Nya. Dan ketika kita harus berdiri sendirian, ingatlah: para rasul tidak sendirian. Roh Kudus yang sama yang memenuhi mereka, tinggal di dalam kita, memberikan keberanian untuk berkata lembut namun teguh: “Aku harus lebih taat kepada Allah.”

 

“Ketika suara dunia menyuruhmu tunduk dengan iming-iming keamanan, ingatlah: ada Takhta yang lebih tinggi. Ketaatan kepada Allah mungkin membuatmu kehilangan kursi duniawi, tetapi mengamankan tempatmu di hati-Nya.”

 

Tuhan Yesus memberkati.

Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh