WARTA KEGIATAN | HKBP SLIPI Kamis, 5 Maret 2026
- IMAN YANG DEWASA DI TENGAH TEKANAN HIDUP DAN EKONOMI
Laporan Kegiatan Penelaahan Alkitab (PA) Punguan Ama HKBP Slipi

IMAN YANG DEWASA DI TENGAH TEKANAN HIDUP DAN EKONOM
Hari / Tanggal
Kamis, 5 Maret 2026
Tempat
Gedung Gereja HKBP Slipi, Jakarta Barat
Kegiatan
Penelaahan Alkitab (PA) Punguan Ama HKBP Slipi
Pembicara
Pdt. STP Siahaan
Ayat Bacaan
Mazmur 37:5
“Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.” — Mazmur 37:5
Pembukaan Kegiatan
Pada hari Kamis, 5 Maret 2026, Punguan Ama HKBP Slipi mengadakan kegiatan Penelaahan Alkitab (PA) yang dipimpin oleh Pdt. STP Siahaan. Kegiatan rutin yang menjadi wadah pembinaan rohani bagi kaum bapak jemaat HKBP Slipi ini berlangsung dengan penuh hikmat dan khidmat. Para peserta, yang merupakan kaum bapak dari berbagai latar belakang profesi dan usia, berkumpul dengan satu tujuan: memperdalam iman dan memperoleh kekuatan rohani dari Firman Tuhan untuk menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari.
Topik yang diangkat dalam PA kali ini sangat relevan dan menyentuh kebutuhan nyata kaum bapak masa kini: “Iman yang Dewasa di Tengah Tekanan Hidup dan Ekonomi.” Dengan berlandaskan Mazmur 37:5, Pendeta membawa perenungan mendalam tentang bagaimana seorang pria Kristen sejati mampu berdiri teguh di tengah gelombang tekanan hidup yang tak henti-hentinya.
Latar Belakang dan Konteks Tekanan Hidup Kaum Bapak
Pdt. STP Siahaan membuka PA dengan sebuah penegasan yang langsung mengetuk hati para peserta: bahwa setiap orang yang hadir pada malam itu pasti membawa beban masing-masing. Tekanan hidup, beliau sampaikan, memang terasa lebih berat bagi kaum bapak, karena di pundak merekalah tanggung jawab keluarga bertumpu. Tidak sedikit yang bergumul dengan penghasilan yang pas-pasan sementara kebutuhan hidup terus bertambah, apalagi ketika isteri dan anak-anak pun terpapar gaya hidup flexing dari media sosial.
Dampak pandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya pulih turut mewarnai perjuangan banyak keluarga, dengan bisnis yang belum sepenuhnya bangkit kembali. Di sisi lain, tekanan rumah tangga — mulai dari keretakan hubungan suami-isteri, perilaku anak yang mengkhawatirkan, hingga tekanan di dunia kerja menyangkut integritas, diskriminasi, dan budaya kerja yang tidak sesuai nurani — semakin menambah beban yang harus ditanggung kaum bapak secara diam-diam.
Semua tekanan ini, kata beliau, membuat tidak sedikit kaum bapak yang harus memendam perasaan, hidup dalam stres, kecemasan, dan kekhawatiran akan masa depan. Di sinilah Firman Tuhan hadir memberi jawaban dan jalan keluar.
Mengenal Mazmur 37: Nasihat Hikmat bagi Orang Percaya
Pdt. Siahaan kemudian menjelaskan konteks Mazmur 37 secara utuh. Mazmur ini adalah mazmur pengajaran yang ditulis oleh Raja Daud pada masa tuanya (ayat 25). Berbeda dari mazmur ratapan, Mazmur 37 adalah nasihat hikmat bagi orang percaya yang sedang gelisah melihat orang fasik tampak lebih berhasil. Situasi pada zaman Daud tersebut, beliau tekankan, tidak berbeda jauh dari realita yang kita hadapi hari ini: orang jahat tampak berhasil, sementara orang benar sering tertindas.
Dari segi sastra, mazmur ini ditulis dalam bentuk akrostik, di mana setiap bait mengikuti urutan abjad Ibrani. Hal ini dirancang agar mudah dihafalkan dan sekaligus menegaskan bahwa pengajaran di dalamnya adalah pengajaran yang teratur, lengkap, dan mendalam — dari A sampai Z tentang prinsip hidup orang benar.
Isi Mazmur 37, seperti amsal, berisikan nasihat praktis: jangan iri pada orang fasik, percayalah kepada Tuhan, bersabarlah menunggu keadilan-Nya. Sebab semua kehebatan orang fasik hanyalah sementara — seperti rumput yang layu (ay. 2) — dan mereka tidak memiliki masa depan (ay. 38). Iri terhadap kejahatan lalu mengikutinya, ditegaskan Pendeta, adalah perbuatan bunuh diri rohani.
Telaah Mendalam Mazmur 37:5
1. “Serahkanlah” — Galal: Menggulingkan Beban kepada Tuhan
Kata “serahkan” berasal dari kata Ibrani galal, yang secara harfiah berarti menggelindingkan atau memindahkan beban besar dengan cara digulingkan, seperti batu besar yang digeser dari diri sendiri ke tempat lain. Ini bukan tindakan pasif, melainkan tindakan aktif memindahkan beban dari diri sendiri kepada Tuhan.
Pdt. Siahaan menegaskan: Tuhan tidak berkata “Semakin kuatlah kamu memikul!” Tuhan justru berkata: “Gulingkan kepadaKu agar engkau menjadi ringan.” Iman yang dewasa, beliau tegaskan, bukan iman yang memikul beban sendirian, melainkan iman yang tahu kepada siapa beban itu harus digulingkan. Hal ini selaras dengan undangan Yesus di Matius 11:28: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
2. “Jalanmu” — Derek: Seluruh Arah Hidup
Yang diserahkan kepada Tuhan adalah “jalanmu” — dalam bahasa Ibrani disebut derek, yang berarti cara hidup, arah hidup, dan masa depan. Ayat ini tidak hanya berbicara soal satu persoalan, melainkan tentang penyerahan seluruh arah dan tujuan hidup kita kepada Tuhan.
3. “Percayalah” — Batach: Bersandar Penuh Tanpa Cemas
Kata “percaya” dalam bahasa Ibrani adalah batach, yang menggambarkan seseorang yang bersandar pada sesuatu yang kokoh tanpa rasa cemas. Ini bukan sekadar to believe (mempercayai), tetapi to trust — mempercayakan diri sepenuhnya, membiarkan Tuhan mengatur seluruh hidup, dengan keyakinan bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik.
Ilustrasi: Seperti naik pesawat terbang. Selama penerbangan, banyak potensi bahaya yang tidak bisa kita kendalikan. Namun penumpang tetap tenang, bahkan menikmati perjalanan. Mengapa? Karena mereka sepenuhnya mempercayakan keselamatan mereka kepada sang pilot yang terlatih dan mampu. Demikianlah iman yang dewasa — mempercayakan hidup sepenuhnya ke tangan Allah yang jauh lebih mampu dari siapa pun.
4. “Ia Akan Bertindak” — Tuhan Aktif Bekerja
Setelah kita menyerahkan dan mempercayakan, Tuhan tidak tinggal diam. Frasa “Ia akan bertindak” dari bahasa aslinya bermakna: Dia yang melakukan, mengerjakan, membuatnya nyata dan selesai secara sempurna. Hal ini selaras dengan pernyataan Rasul Paulus di Roma 8:28: “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Tuhan bekerja di balik layar kehidupan kita, tersembunyi namun nyata, dan semuanya diarahkan untuk kebaikan kita.
Dan hasilnya? Mazmur 37:6 mencatat: “Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.” Lebih jauh di ayat 9b dan 11: orang yang rendah hati akan mewarisi tanah dan menikmati kemakmuran yang berlimpah. Mereka akan mengalami shalom — damai sejahtera yang sejati dan berlimpah.
Iman Aktif: Bukan Pasif, Melainkan Bergerak dan Menyerahkan
Pdt. Siahaan menggarisbawahi bahwa penyerahan kepada Tuhan bukan berarti berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa. Iman yang dewasa justru adalah iman yang aktif bekerja dan kemudian menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Beliau mengutip pesan inspiratif dari Oprah Winfrey dalam bukunya: “Bergeraklah ke arah tujuan Anda dengan segala kekuatan dan keberanian — lalu serahkan rencana Anda kepada Sang Kuasa yang lebih besar dari diri Anda.”
Pendeta menutup inti pengajaran dengan sebuah seruan: “Buatlah rencanamu sebaik-baiknya, dan bekerjalah sekeras-kerasnya. Tetapi sesudah itu, serahkan seluruhnya ke tangan Allah. Biarkan Dia yang membantumu, membuat semuanya menjadi sempurna.”
Langkah-Langkah Praktis Membangun Iman yang Dewasa
Pdt. Siahaan menutup pengajaran dengan empat langkah praktis yang dapat diterapkan setiap hari:
a) Mulailah setiap hari dengan menyerahkan diri kepada Tuhan secara spesifik. Orang kota sering memulai pagi dengan kecemasan soal kemacetan, target, dan beban kerja. Gantikanlah kebiasaan itu dengan menyerahkan beban-beban spesifik kepada Tuhan. Penyerahan bukan teori, melainkan keputusan harian.
b) Jangan andalkan diri sendiri semata. Dunia besar mengajarkan: siapa kuat dia menang. Tetapi iman Kristen mengajarkan: “Tuhanlah sumber pertolonganku; segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Fil. 4:13). Hal ini akan menjaga integritas dan mencegah kita mengambil jalan pintas.
c) Jadikan rumah sebagai gereja pertama dan utama. Bila rumah penuh damai, pikiran tenang, ide cemerlang terus memancar, dan semangat tidak padam. Jadikanlah rumahmu istanamu.
d) Kelola stres dan tekanan dalam iman. Biasakan berdoa tanpa putus (1 Tes. 5:17) dan aktif dalam komunitas rohani — gereja, kantor, lingkungan RT, marga, dan sebagainya. Bergaul dengan Tuhan dalam komunitas memperluas ruang hati untuk menanggung beban hidup.
Penutup dan Refleksi
Pdt. STP Siahaan menutup PA Punguan Ama HKBP Slipi dengan sebuah penegasan yang menggugah: hidup ini memang penuh tantangan dan tekanan dari berbagai sisi. Tetapi sebagai anak-anak Tuhan yang sudah diselamatkan oleh Yesus Kristus, kita tidak harus berjuang sendirian dan tenggelam dalam tekanan. Seperti seorang peselancar yang tidak tenggelam oleh ombak melainkan menggunakan ombak untuk melaju, demikianlah orang yang beriman dewasa mampu mengubah tekanan menjadi tangga untuk naik.
Kunci utamanya satu: percaya dan serahkan semuanya kepada Tuhan. Dalam iman, kita bisa berkata dengan yakin: Tuhan pasti bertindak. Dan pada akhirnya, orang benarlah yang akan memperoleh shalom — damai sejahtera dan kebahagiaan yang berlimpah — sebagai upah dari Tuhan.

IMAN YANG DEWASA DI TENGAH TEKANAN HIDUP DAN EKONOM
Dokumentasi: Punguan Ama HKBP Slipi · Kamis, 5 Maret 2026
Pembicara: Pdt. STP Siahaan · Mazmur 37:5
Punguan Ama HKBP Slipi | Penelaahan Alkitab Maret 2026
