Hari Ibu di Tengah Bencana: Belajar Menenangkan Negeri yang Cemas

Hari Ibu di Tengah Bencana: Belajar Menenangkan Negeri yang Cemas

Tanggal 22 Desember kita peringati sebagai Hari Ibu. Bagi kita, hari ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga saat untuk bersyukur atas kasih, ketekunan, dan pengorbanan seorang ibu dalam keluarga dan jemaat.

Namun Hari Ibu tahun ini kita jalani di tengah suasana yang tidak mudah. Di berbagai daerah, bencana alam terjadi silih berganti: banjir, longsor, dan kebakaran. Banyak keluarga harus menghadapi kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan orang-orang yang mereka kasihi. Tidak sedikit hati yang menjadi gelisah dan penuh kekhawatiran akan masa depan.

Dalam situasi seperti ini, kita diingatkan bahwa iman Kristen tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah. Tetapi iman mengajarkan bahwa di tengah kesesakan, Tuhan tetap hadir dan menyertai. Pemazmur bersaksi:

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” (Mazmur 46:2)

Alkitab juga menggambarkan penghiburan Tuhan dengan bahasa yang sangat dekat dengan kehidupan seorang ibu. Tuhan berfirman:

“Seperti seorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku akan menghibur kamu.” (Yesaya 66:13)

Kasih dan penghiburan seorang ibu adalah gambaran nyata dari kasih Allah yang menenangkan. Ibu tidak selalu mampu mengubah keadaan, tetapi ia tahu bagaimana menguatkan hati.

Dalam ketidakpastian, ibu hadir.

Dalam ketakutan, ibu menenangkan.

Dalam keterbatasan, ibu tetap berusaha menjaga harapan.

Di tengah bencana, kita sering melihat keteguhan para ibu. Di pengungsian, di rumah-rumah yang rusak, di tengah kesederhanaan, mereka tetap berjuang untuk keluarganya.

Mereka mungkin lelah, mungkin takut, tetapi tidak berhenti mengasihi. Dalam kesetiaan itulah iman bekerja, iman yang tidak banyak bicara, tetapi nyata dalam perbuatan.

Rasul Paulus mengingatkan kita:

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Korintus 13:13)

Hari Ibu mengajak kita untuk kembali melihat bahwa kasih adalah kekuatan yang menopang kehidupan. Kasih yang sabar, yang setia, dan yang tidak menyerah meski keadaan sulit.

Sebagai jemaat Tuhan, kita juga dipanggil untuk menghadirkan kasih itu. Gereja bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga tempat penghiburan.

Di tengah kecemasan dan duka, kita dipanggil untuk saling menguatkan, saling menopang, dan berjalan bersama. Kadang yang paling dibutuhkan bukanlah kata-kata panjang, tetapi kehadiran yang tulus dan doa yang dinaikkan dengan iman.

Yesus sendiri berkata:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28)

Undangan ini menjadi pengharapan bagi kita semua. Dan sebagai tubuh Kristus, kita dipanggil untuk menjadi saluran kelegaan itu bagi sesama.

Hari Ibu tahun ini mengingatkan kita bahwa di tengah negeri yang cemas, kita dipanggil untuk menjadi penenang, seperti seorang ibu yang menghadirkan kehangatan di tengah badai. Dengan kasih, kesabaran, dan iman, kita percaya Tuhan tetap bekerja dan menyertai umat-Nya.

Penutup

Kiranya Tuhan menguatkan setiap keluarga yang terdampak bencana. Kiranya Ia menenangkan hati yang gelisah dan meneguhkan iman yang sedang diuji. Dan kiranya melalui kasih yang hidup di tengah jemaat, banyak orang merasakan penghiburan dan pengharapan yang datang dari Tuhan.

_Soli Deo Gloria

Jakarta, 22 Desember 2025

Christofel P. Simanjuntak

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *