Lukas 11: 10
Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
Renungan:
“Mengetuk dalam Penantian: Iman yang Tidak Menyerah”
Dalam Minggu Advent II, gereja diajak hidup dalam penantian yang aktif, bukan pasif. Advent bukan sekadar menunggu waktu berlalu, tetapi mengarahkan hati untuk menyambut Allah yang datang, di masa lampau melalui Kristus, di masa kini melalui Roh-Nya, dan di masa depan dalam kemuliaan-Nya.
Yesus dalam Lukas 11:10 menegaskan tiga gerak iman: meminta, mencari, mengetuk. Ketiganya bukan tindakan sesaat, tetapi ritme hidup seorang murid. Ini adalah bahasa kerinduan yang tidak diam; bahasa percaya yang tidak menyerah.
Advent II sering menyoroti seruan Yohanes Pembaptis: “Bertobatlah!”, panggilan untuk membuka jalan bagi Tuhan. Dalam terang itu, “mengetuk” menjadi tindakan pertobatan yang konkret: kita mengetuk pintu hati Allah sambil mengizinkan Allah mengetuk pintu hati kita. Kita mencari kehendak-Nya sambil membiarkan Ia menemukan bagian diri kita yang perlu diubah.
Janji Yesus sederhana sekaligus dalam: pintu akan dibukakan. Artinya, Allah tidak jauh. Ia tidak menutup diri. Ia tidak bermain teka-teki dengan umat-Nya. Pintu kasih karunia terbuka bagi setiap orang yang datang dengan kerinduan yang tulus, bahkan ketika hidup terasa gelap, doa terasa hampa, dan perjalanan iman melelahkan.
Advent mengajarkan bahwa penantian umat bukan sia-sia. Allah yang kita cari adalah Allah yang bergerak mendekat. Pintu yang kita ketuk adalah pintu yang memang disiapkan untuk dibuka. Maka, dalam minggu kedua Advent ini, marilah kita memperbarui ketekunan doa, memperdalam pencarian akan kehendak-Nya, dan berani mengetuk pintu-pintu yang Ia sediakan, dengan keyakinan bahwa Tuhan yang datang adalah Tuhan yang menjawab.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th
