Jejak Iman di Mesir
Reportase Perjalanan Rohani Keluarga Wiston Manihuruk – Cairo, 19 Februari 2026
Tanggal 19 Februari 2026 menjadi awal perjalanan rohani keluarga Wiston Manihuruk menuju Tanah Suci. Pesawat yang membawa rombongan mendarat di Bandara Internasional Cairo, Mesir — sebuah kota yang selama ribuan tahun menjadi saksi peradaban, konflik, dan sejarah keselamatan.
Hari pertama di Cairo tidak hanya diisi dengan kunjungan wisata sejarah, tetapi dengan perjalanan reflektif menyusuri tempat-tempat yang memiliki makna spiritual: dari monumen perdamaian dunia, gereja umat sederhana, hingga lokasi yang menurut tradisi menjadi tempat pengungsian Yesus kecil.

Monumen Perdamaian Mesir–Israel: Rekonsiliasi dalam Sejarah Dunia
Perhentian pertama rombongan adalah kawasan monumen yang berkaitan dengan Presiden Mesir Anwar Sadat, tokoh yang menandatangani Perjanjian Damai Mesir–Israel tahun 1978.
Monumen ini berdiri sebagai simbol rekonsiliasi di kawasan Timur Tengah yang lama dilanda konflik. Selain mengenang prajurit yang gugur, tempat ini juga menandai keberanian politik untuk memilih damai.
Bagi keluarga Manihuruk, kunjungan ini menjadi pembuka perjalanan rohani: iman Kristen tidak dapat dipisahkan dari panggilan untuk menjadi pembawa damai. Dokumentasi foto keluarga di lokasi ini memperlihatkan suasana khidmat, seolah perjalanan ini dimulai dengan doa bagi dunia.

Gereja Sampah di Manshiyat Naser: Iman di Tengah Keterbatasan
Dari monumen modern, rombongan bergerak menuju kawasan Manshiyat Naser, dikenal sebagai “Garbage City”, tempat komunitas Kristen Koptik hidup dari mengelola sampah kota Cairo.
Di kawasan ini berdiri Gereja St. Simon, gereja besar yang dipahat langsung di tebing batu. Meski berada di lingkungan sederhana, gereja ini mampu menampung ribuan jemaat.
Kunjungan ke tempat ini memberi kesan mendalam bagi rombongan. Gereja ini menunjukkan bahwa iman dapat bertumbuh kuat di tengah keterbatasan. Dokumentasi foto memperlihatkan keluarga berdiri di pelataran gereja dengan latar tebing batu, menggambarkan kontras antara kesederhanaan lingkungan dan kekuatan iman komunitas setempat.
⸻
Gereja Abu Serga: Jejak Pengungsian Yesus di Mesir
Salah satu titik paling berkesan dalam perjalanan hari itu adalah kunjungan ke Gereja St. Sergius dan Bacchus, dikenal sebagai Abu Serga, di kawasan Old Cairo.
Menurut tradisi Gereja Koptik, ruang bawah tanah gereja ini diyakini sebagai tempat tinggal sementara Maria, Yusuf, dan Yesus kecil ketika mereka melarikan diri ke Mesir untuk menghindari ancaman Raja Herodes, sebagaimana dicatat dalam Injil Matius 2:13.
Ruang bawah tanah gereja itu sederhana, dengan dinding batu tua dan altar kecil. Namun justru kesederhanaan itu menghadirkan suasana sakral yang kuat.
Foto dokumentasi keluarga di depan prasasti gereja memperlihatkan momen reflektif. Tidak ada pose wisata, melainkan ekspresi hening — menandai kesadaran bahwa mereka sedang berdiri di tempat yang diyakini pernah menjadi perlindungan bagi Sang Juruselamat.
⸻
Gereja Tua di Old Cairo: Warisan Kekristenan Awal
Masih di kawasan Old Cairo, rombongan mengunjungi beberapa gereja tua Koptik yang menjadi saksi perkembangan Kekristenan sejak abad-abad awal.
Lorong sempit, tembok batu kuno, dan ikon-ikon gereja membawa rombongan merasakan atmosfer gereja mula-mula. Tempat ini memperlihatkan bagaimana iman Kristen telah hidup di Mesir selama berabad-abad, bahkan sebelum banyak gereja berdiri di Eropa.
Dokumentasi foto di dalam gereja memperlihatkan ikon-ikon kuno dan interior bersejarah, menggambarkan kesinambungan iman dari generasi ke generasi.
l
Gereja Gantung: Gereja yang Berdiri di Atas Sejarah
Kunjungan berikutnya adalah ke Gereja Gantung (Hanging Church), salah satu gereja tertua di Cairo.
Gereja ini dibangun di atas benteng Romawi kuno Babylon, sehingga tampak seolah melayang di udara. Selama berabad-abad gereja ini menjadi pusat kepemimpinan Gereja Koptik.
Tangga panjang menuju pintu gereja menjadi salah satu spot dokumentasi keluarga. Foto di tangga tersebut melambangkan perjalanan iman yang berdiri di atas fondasi sejarah gereja
Malam di Tepi Sungai Nil: Penutup Hari Pertama
Perjalanan hari pertama diakhiri dengan menginap di hotel di tepi Sungai Nil.
Dari balkon hotel, rombongan memandang sungai yang telah menjadi sumber kehidupan Mesir sejak zaman kuno. Cahaya kota memantul di permukaan air, menciptakan suasana tenang.
Foto malam hari memperlihatkan panorama Nil dan skyline Cairo, menutup dokumentasi hari pertama perjalanan.
Di tempat ini keluarga mengakhiri hari dengan doa syukur — menyadari bahwa perjalanan Holyland bukan hanya perjalanan geografis, tetapi perjalanan hati.
⸻
Kesimpulan Reportase
Hari pertama di Cairo memperlihatkan bahwa perjalanan rohani tidak dimulai di Yerusalem, tetapi bahkan sejak Mesir:
• monumen perdamaian mengingatkan panggilan rekonsiliasi
• gereja di kawasan sederhana menunjukkan ketahanan iman
• Abu Serga mengingatkan bahwa Yesus pernah menjadi pengungsi
• gereja-gereja tua menunjukkan kesinambungan iman
• Sungai Nil menjadi simbol pemeliharaan Tuhan sepanjang sejarah
Perjalanan menuju Tanah Suci baru saja dimulai, namun makna rohani telah terasa sejak langkah pertama di Mesir.

