Ester 4: 14
Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.”
Renungan: “Ketika Diam Bukan Pilihan”
Ester 4:14 berada pada titik paling menegangkan dalam seluruh kitab Ester. Bangsa Yahudi berada di ambang pemusnahan total akibat dekret Haman. Mordekhai, yang memahami bahaya itu, menyampaikan pesan yang bukan sekadar nasihat pribadi kepada Ester, melainkan sebuah seruan iman yang sarat makna teologis dan spiritual. Ayat ini tidak menyebut nama Allah secara eksplisit, namun justru di sanalah kedalaman imannya tampak: Allah bekerja secara tersembunyi, melalui keputusan dan keberanian manusia.
Mordekhai berkata bahwa jika Ester berdiam diri pada saat genting itu, kelepasan dan pertolongan bagi orang Yahudi akan datang dari pihak lain. Pernyataan ini menunjukkan keyakinan yang teguh bahwa rencana Allah tidak mungkin gagal. Keselamatan umat Allah tidak bergantung sepenuhnya pada satu orang. Allah berdaulat penuh, dan Ia mampu memakai cara lain bila satu alat menolak dipakai. Di sini iman tidak dipahami sebagai ketergantungan pasif, melainkan kepercayaan aktif pada kesetiaan Allah terhadap janji-Nya kepada umat pilihan.
Namun keyakinan akan kedaulatan Allah itu tidak dipakai Mordekhai untuk melemahkan tanggung jawab Ester. Justru sebaliknya, ia menajamkan panggilan itu dengan pertanyaan yang menggugah hati: “Siapa tahu, mungkin justru untuk saat seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu?” Pertanyaan ini bukan spekulasi kosong, melainkan undangan untuk melihat hidup dari sudut pandang penyelenggaraan Allah. Posisi Ester sebagai ratu Persia, yang sebelumnya mungkin ia pahami sebagai keberuntungan pribadi, kini ditafsirkan ulang sebagai penugasan ilahi.
Ayat ini mengajarkan bahwa kesempatan dan posisi hidup tidak pernah netral. Setiap peran, jabatan, dan pengaruh yang dimiliki seseorang selalu mengandung tanggung jawab moral dan rohani. Ester tidak dipanggil untuk bertindak demi kenyamanan pribadi, melainkan demi keselamatan banyak orang, sekalipun itu berarti mempertaruhkan nyawanya. Dalam terang iman, “saat seperti ini” menjadi momen ketika keberanian lebih penting daripada rasa aman, dan ketaatan lebih utama daripada perlindungan diri.
Bagi kehidupan orang percaya masa kini, Ester 4:14 menantang kita untuk membaca realitas hidup secara rohani. Ada saat-saat tertentu ketika kita ditempatkan Tuhan di tengah keluarga, gereja, masyarakat, atau pekerjaan, bukan tanpa tujuan. Ketika ketidakadilan, penderitaan, atau kejahatan terjadi di sekitar kita, diam sering kali bukanlah sikap netral, melainkan pilihan yang memiliki konsekuensi. Ayat ini mengingatkan bahwa iman sejati tidak hanya percaya bahwa Tuhan sanggup bekerja, tetapi juga bersedia dipakai Tuhan dalam cara kerja-Nya.
Renungan dari Ester 4:14 mengajak kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita melihat hidup hanya sebagai rangkaian kebetulan, atau sebagai panggilan yang diatur oleh Allah? Ketika tiba “saat seperti ini” dalam hidup kita, beranikah kita melangkah dengan iman, percaya bahwa Tuhan yang memanggil juga Tuhan yang menyertai? Di sanalah iman diuji, dan di sanalah ketaatan menemukan maknanya yang paling dalam.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th
