RENUNGAN HARIAN Senin 26 Januari 2026

 

1 Raja-raja 2: 3

Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju,

 

Renungan:

“Hidup Menurut Jalan Tuhan”

 

Bayangkan seorang ayah yang sudah tua, napasnya mulai berat, dan ia tahu waktunya di dunia tidak akan lama lagi. Ia memanggil anaknya mendekat, bukan untuk membagi harta atau tanah, tetapi untuk menitipkan satu pesan yang paling penting dalam hidupnya. Itulah kira-kira suasana ketika Daud berbicara kepada Salomo dalam ayat ini. Di ujung hidupnya, setelah melewati banyak jatuh-bangun: dari kemenangan besar sampai dosa yang memalukan, Daud mengerti satu hal: yang menopang hidup bukan kekuatan, bukan kepandaian, bukan strategi politik, tetapi kesetiaan berjalan di jalan Tuhan.

 

Menariknya, Daud tidak berkata, “Salomo, bangunlah tentara yang kuat, kumpulkanlah emas sebanyak-banyaknya, perluaslah wilayah kekuasaanmu.” Ia justru menekankan: “Lakukan kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu. Hiduplah menurut jalan-Nya. Pegang perintah-perintah-Nya.” Seolah-olah Daud ingin berkata, “Kalau engkau mau sungguh-sungguh berhasil, mulailah bukan dari takhta, tetapi dari hatimu di hadapan Allah.” Bagi Daud, keberhasilan sejati bukan pertama-tama soal apa yang tampak di luar, tetapi bagaimana relasi seseorang dengan Tuhan di dalam.

 

Kalimat “hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya” sangat sederhana, tetapi dalam. Hidup menurut jalan Tuhan berarti bukan sekadar tahu firman, melainkan membiarkan firman itu mengatur langkah. Kita mungkin rajin mendengar khotbah dan membaca Alkitab, tetapi pertanyaan lebih dalamnya: apakah firman itu ikut menentukan cara kita mengambil keputusan? Apakah itu mempengaruhi cara kita bekerja di kantor, mengelola keuangan, memperlakukan pasangan dan anak, serta melayani di gereja? Hidup menurut jalan Tuhan berarti membiarkan Tuhan memegang setir, bukan hanya duduk sebagai penumpang cadangan.

 

Di zaman sekarang, ukuran keberhasilan mudah sekali bergeser. Media sosial mengajarkan bahwa orang yang “berhasil” adalah yang fotonya paling indah, liburannya paling jauh, makanannya paling mewah, dan pencapaiannya paling banyak dipamerkan. Dunia kerja mengajarkan bahwa yang berhasil adalah yang paling cepat naik jabatan, paling besar penghasilannya, atau paling berpengaruh. Tidak ada yang salah dengan jabatan, harta, atau prestasi; tetapi firman ini mengingatkan bahwa semua itu bukan pusatnya. Di mata Tuhan, orang yang benar-benar berhasil adalah orang yang setia, sekalipun mungkin tidak terkenal, tidak viral, dan tidak dipuji banyak orang.

 

Mungkin ada jemaat yang saat ini sedang berada di persimpangan jalan. Ada yang harus memutuskan pekerjaan: tetap di tempat yang sekarang dengan gaji pas-pasan tapi hati tenang, atau pindah ke tempat baru dengan penghasilan besar tetapi menuntut kompromi dengan kejujuran. Ada orang tua yang pusing memikirkan masa depan anak: ingin mengejar sekolah terbaik, tetapi di satu sisi bergumul bagaimana menanamkan iman dalam dunia yang penuh godaan dan relativisme. Ada pelayan gereja yang lelah, merasa pelayanannya tidak terlihat, sementara orang lain yang baru sebentar sudah dipuji dan ditonjolkan.

 

Dalam semua persimpangan itu, firman hari ini datang seperti suara Daud kepada Salomo yang berbisik juga kepada kita: “Yang terutama, hiduplah menurut jalan Tuhan.” Artinya, ketika kita memilih, kita bertanya bukan hanya, “Mana yang paling menguntungkan?” tetapi, “Mana yang paling setia?” Ketika kita mengatur waktu, kita bertanya bukan hanya, “Mana yang paling nyaman?” tetapi, “Mana yang paling memuliakan Tuhan?” Ketika kita terluka oleh orang lain, kita bertanya bukan hanya, “Apa yang saya rasa pantas mereka terima?” tetapi, “Apa yang Tuhan kehendaki saya lakukan?”

 

Dalam teologi, kitab Raja-raja berulang kali menilai para raja dengan ukuran yang sangat sederhana: “Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN” atau “Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN.” Bukan seberapa kuat negaranya, bukan seberapa lama ia memerintah, tetapi apakah ia berjalan menurut jalan Tuhan. Pola yang sama berlaku dalam hidup kita. Mungkin di bumi, orang hanya melihat angka: gaji, gelar, jabatan, jumlah pengikut. Tetapi di hadapan Tuhan, ukuran yang dipakai adalah kesetiaan. Ada orang yang di mata dunia tampak kecil dan biasa-biasa saja, namun di mata Tuhan ia besar, karena hari demi hari ia memilih untuk menaati-Nya.

 

Menariknya, ilmu psikologi dan manajemen juga melihat bahwa orang yang hidup berdasarkan nilai yang jelas dan kokoh, cenderung lebih tahan menghadapi tekanan. Ketika seseorang membuat keputusan bukan hanya karena ikut arus, tetapi karena berpegang pada nilai yang ia yakini benar, hidupnya lebih berakar dan tidak mudah diombang-ambingkan. Bagi kita yang percaya, nilai tertinggi itu adalah kehendak Tuhan sendiri. Saat kita menjadikan firman sebagai dasar hidup, kita tidak hanya menjadi “orang baik”, tetapi orang yang berakar di dalam Allah. Di situlah letak “keberuntungan” dan “keberhasilan” yang dijanjikan ayat ini: bukan sekadar hal-hal enak yang kita dapat, melainkan hidup yang dipegang, diarahkan, dan disertai oleh Tuhan, bahkan ketika jalan yang ditempuh terjal dan menanjak.

 

Karena itu, renungan sederhana untuk kita hari ini adalah: mungkin kita tidak bisa mengendalikan semua hal dalam hidup: ekonomi bisa naik-turun, kesehatan bisa terganggu, orang bisa mengecewakan kita. Tetapi satu hal ini ada di dalam jangkauan pilihan kita setiap hari: maukah kita hidup menurut jalan Tuhan? Maukah kita menjadikan firman-Nya sebagai kompas, bukan sekadar hiasan? Maukah kita lebih rindu disebut Tuhan “setia” daripada disebut dunia “sukses”?

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *