Mazmur 91: 4
Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.
Renungan:
“Perlindungan di Bawah Sayap-Nya”
Gambaran ini memancarkan kelembutan dan kekuatan sekaligus. Pemazmur menghadirkan Allah seperti induk burung yang meneduhkan anak-anaknya di bawah sayapnya. Gambar yang sederhana namun sarat makna: di sanalah ada kehangatan, perlindungan, dan ketenangan. Dalam dunia yang penuh ancaman, di mana bahaya sering datang tanpa peringatan, Mazmur 91 mengingatkan bahwa tempat aman sejati bukan pada kekuatan kita, melainkan pada hadirat Allah sendiri.
“Sayap-Nya” bukan sekadar lambang perlindungan fisik, melainkan tanda kedekatan yang intim. Untuk bisa berada “di bawah sayap-Nya,” seseorang harus mendekat, percaya, dan menyerah. Perlindungan Allah tak bisa dirasakan dari jauh; ia dialami oleh mereka yang memilih untuk tinggal dalam kehadiran-Nya.
Ketika kita memasuki masa Advent, ayat ini memperoleh makna yang semakin dalam. Advent adalah waktu penantian, bukan penantian pasif, melainkan penantian yang percaya. Kita menantikan Sang Mesias, yang datang bukan hanya membawa perlindungan dari bahaya, tetapi menghadirkan kehadiran Allah sendiri di tengah manusia. Dalam Kristus, Allah tidak lagi menudungi kita dari jauh; Ia datang dan tinggal di antara kita, menjadi tempat perlindungan yang hidup.
Bayangkan, di kandang yang sederhana, di tengah dunia yang keras dan penuh kekuasaan manusia, hadir Sang Bayi yang menjadi wujud nyata dari sayap Allah yang meneduhkan. Kristus adalah kesetiaan Allah yang menjadi daging: kesetiaan yang menjadi perisai dan pagar tembok bagi umat-Nya sepanjang masa.
Di masa penantian ini, gereja diajak untuk kembali berlindung di bawah sayap-Nya. Bukan dengan ketakutan, tetapi dengan keyakinan bahwa kasih dan kesetiaan Tuhan tetap nyata. Ia datang di masa lalu, Ia hadir hari ini, dan Ia akan datang kembali membawa kepenuhan damai sejati. Maka, sambil kita menantikan kedatangan-Nya, marilah kita tinggal di bawah sayap kasih-Nya, tempat di mana rasa aman bukan ilusi, melainkan janji yang diteguhkan oleh kesetiaan Allah sendiri.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th
