1 Korintus 1: 24
Tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.
Renungan:
Yesus: Hikmat dan Kuasa Allah bagi Hidup Kita
Rasul Paulus menuliskan bahwa bagi mereka yang terpanggil, baik orang Yahudi maupun Yunani, Kristus adalah “hikmat Allah dan kuasa Allah.” Ayat ini lahir dalam konteks pergumulan jemaat Korintus yang terpecah karena mengejar kebijaksanaan dunia dan kagum pada kefasihan retorika para filsuf. Bagi sebagian orang Yahudi, salib adalah batu sandungan; bagi orang Yunani, salib dianggap kebodohan. Namun bagi orang yang mengenal Allah, salib justru terbukti sebagai puncak hikmat dan kuasa-Nya.
Paulus ingin menegaskan bahwa hikmat Allah tidak sama dengan kecerdasan, kepintaran, atau logika dunia. Hikmat manusia berusaha naik dan meninggi, tetapi hikmat Allah justru turun, merendah, dan menyelamatkan. Di kayu salib, Allah menyatakan strategi ilahi yang tidak terpikirkan oleh manusia: kemenangan melalui pengorbanan, kemuliaan melalui kerendahan, dan hidup melalui kematian. Seperti yang dikatakan Martin Luther, salib adalah “theologia crucis”, tempat Allah menyatakan diri-Nya bukan dalam kekuasaan duniawi, tetapi dalam kelemahlembutan dan kasih yang rela menderita. Salib adalah titik pertemuan antara apa yang tampak lemah tetapi sesungguhnya kuat, dan apa yang tampak bodoh tetapi sesungguhnya menyimpan hikmat kekal.
Ketika Paulus mengatakan bahwa Kristus adalah “kuasa Allah,” ia ingin menyatakan bahwa keselamatan, pembaruan hidup, dan kemenangan atas dosa tidak berasal dari usaha manusia, melainkan dari karya Kristus. Kuasa Allah bukanlah kuasa yang menekan, melainkan kuasa yang memerdekakan. Karl Barth pernah berkata bahwa Allah menunjukkan kuasa-Nya justru ketika Ia “mencondongkan diri ke bawah untuk menolong manusia yang tidak berdaya.” Inilah kuasa yang menyembuhkan luka terdalam kita, kuasa yang memulihkan relasi yang rusak, dan kuasa yang melepaskan kita dari keputusasaan.
Sebaliknya, ketika Paulus menyebut Kristus sebagai “hikmat Allah,” ia ingin menegaskan bahwa kehidupan yang benar hanya dapat dibangun di atas pola pikir Kristus. Hikmat Allah tidak hanya membuat kita mengetahui kebenaran, tetapi juga menuntun kita menjalani kebenaran itu. Hikmat ini bukan pengetahuan spekulatif, tetapi kebijaksanaan praktis yang membentuk karakter, keputusan, dan cara kita berelasi. Seperti yang sering dikatakan Dietrich Bonhoeffer, “pengetahuan tanpa ketaatan tidaklah berguna; hanya orang yang taat yang memahami.” Hikmat Kristus harus mewujud dalam cara kita mengasihi, mengampuni, bekerja, melayani, dan menghadapi konflik.
Karena itu, renungan atas ayat ini harus membawa kita kepada penerapan yang konkret. Bila Kristus adalah hikmat Allah, maka hidup kita perlu diarahkan pada cara berpikir Kristus. Ini berarti kita memeriksa motivasi kita setiap hari: apakah kita mengambil keputusan berdasarkan ambisi pribadi atau berdasarkan nilai-nilai Injil? Apakah kita membangun relasi dengan semangat Kristus yang merendah dan melayani? Apakah kita menghadapi persoalan hidup dengan pandangan bahwa Allah berkarya melalui kelemahan kita? Hikmat Kristus menolong kita tidak cepat marah, tidak terburu ego, tidak meninggikan diri, tetapi belajar bersabar, lembut, dan tetap setia ketika situasi tidak mudah.
Jika Kristus adalah kuasa Allah, maka kita perlu melekat kepada-Nya dalam doa, firman, dan disiplin rohani. Banyak orang mencari kekuatan dari sumber-sumber dunia: status, uang, relasi, atau jabatan. Tetapi kuasa yang sejati hanya ditemukan dalam persekutuan dengan Kristus. Kuasa itu hadir ketika kita mengampuni orang yang melukai kita, ketika kita memilih jujur di tengah tekanan, ketika kita tetap mengasihi di dalam situasi sulit, dan ketika kita menolak menyerah meski keadaan tidak sesuai harapan. Kuasa Kristus bekerja dalam hati yang berserah, mulut yang bersyukur, dan tangan yang mau melayani.
Salib menunjukkan kepada kita bahwa Allah tidak memilih jalan pintas, tetapi berjalan bersama kita dalam penderitaan, pergumulan, dan proses panjang kehidupan. Karena itu, ketika kita menghadapi masalah, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah tidak hadir. Justru di tempat yang bagi dunia tampak lemah, kuasa Kristus bekerja paling kuat. Di saat kita tidak mengerti jalan hidup kita, hikmat Kristus sedang membentuk kita secara lebih dalam.
Renungan ini mengajak kita untuk hidup dengan kesadaran bahwa identitas kita bukan ditentukan oleh pencapaian, gelar, popularitas, atau opini orang lain, melainkan oleh Kristus yang adalah hikmat dan kuasa Allah. Dialah fondasi kehidupan kita, sumber kekuatan kita, dan arah dari setiap langkah kita. Dengan menjadikan Kristus sebagai hikmat kita, hidup ini menjadi lebih tertata; dengan menjadikan Kristus sebagai kuasa kita, hidup ini menjadi lebih tegar dan penuh pengharapan. Kiranya kita berjalan setiap hari dengan mata yang tertuju kepada salib, tempat di mana hikmat dan kuasa Allah dinyatakan bagi keselamatan dunia.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th
