Renungan Harian
Senin 7 September 2026
Wahyu 21: 6
Firman-Nya lagi kepadaku: “Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.”
Renungan: Cuma-cuma: Kata yang Paling Sulit Dipercaya Manusia
Coba isi titik-titik ini: “Tidak ada yang gratis di dunia ini, kecuali ________.” Kebanyakan orang akan kesulitan menjawab. Sebab hidup mengajarkan kita, sejak kecil, bahwa segala sesuatu ada harganya. Kasih sayang orang tua yang bersyarat pada nilai rapor. Pertemanan yang berubah dingin begitu kita tidak lagi “berguna”. Bahkan kata “gratis” di etalase toko selalu diikuti tanda bintang kecil, syarat dan ketentuan berlaku.
Jadi ketika Yohanes, di pulau pembuangan Patmos, menerima penglihatan tentang akhir zaman, dan mendengar suara dari takhta berkata sesuatu yang begitu tidak masuk akal bagi telinga manusia, wajar jika kita juga sulit mempercayainya: “Firman-Nya lagi kepadaku: ‘Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Barangsiapa yang haus, kepadanya akan Kuberikan minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.’”(Why. 21:6)
Perhatikan dulu dua kalimat pembukanya. “Semuanya telah terjadi.” Lalu, “Aku adalah Alfa dan Omega.” Ini pengumuman dari Pribadi yang berdiri di luar waktu, yang bagi-Nya masa depan sudah setuntas masa lalu, yang memegang huruf pertama sekaligus huruf terakhir dari seluruh kisah semesta.
Bayangkan kekuasaan sebesar itu. Lalu bayangkan, Pribadi sebesar itu, di kalimat berikutnya, tiba-tiba menunduk dan bertanya kepadamu secara personal: “Kamu haus?”
Ada seorang tokoh dalam sejarah gereja yang menghabiskan bertahun-tahun mencari sesuatu untuk mengisi rasa hausnya, tapi tidak pernah menemukannya, sampai ia berhenti mencari dan menerima yang cuma-cuma.
Namanya Agustinus dari Hippo. Sebelum menjadi salah satu teolog terbesar sepanjang sejarah Kekristenan, masa mudanya penuh pencarian yang gelisah: mengejar kesenangan duniawi, mengejar ambisi karier sebagai pengajar retorika, bahkan berpindah-pindah dari satu aliran filsafat ke aliran lainnya, berharap salah satunya bisa memuaskan kehausan batinnya. Tidak ada yang benar-benar mengenyangkan. Semuanya terasa seperti minum air laut, makin diminum, makin haus.
Titik baliknya terjadi di sebuah taman, saat pergumulan batinnya memuncak. Ia mendengar suara seperti anak kecil berkata, “Ambil dan bacalah.” Ia membuka Alkitab, membacanya, dan saat itulah seluruh pencariannya berhenti. Bertahun-tahun kemudian, dalam bukunya yang terkenal, “Confessiones”, ia menuliskan kalimat yang barangkali paling jujur tentang kehausan manusia yang pernah ditulis: “Engkau telah menciptakan kami bagi diri-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sampai ia beristirahat di dalam-Mu.”
Ia tidak menemukan itu lewat usaha keras mencapai sesuatu. Ia menerimanya, Cuma-cuma, setelah berhenti mencoba mengisi kehausannya dengan caranya sendiri.
Dan yang ditawarkan dalam Wahyu 21:6 pun sama: bukan air yang harus dibeli, diperjuangkan, atau dipantaskan lebih dulu. Cuma-cuma. Dari mulut Alfa dan Omega sendiri, Pribadi yang tidak butuh apa pun darimu, yang tidak akan pernah mengirim tagihan susulan.
Pertanyaannya, kenapa manusia tetap saja mencari air dari sumur-sumur lain, padahal ada tawaran cuma-cuma seperti ini? Sebab menerima sesuatu secara cuma-cuma berarti mengakui: aku tidak sanggup membelinya sendiri. Dan itu, seperti yang dialami Agustinus selama bertahun-tahun, jauh lebih sulit diterima daripada rasa haus itu sendiri.
Jadi hari ini, coba jujur pada diri sendiri satu hal saja: air apa yang selama ini kau coba beli sendiri, padahal Ia sudah menyediakannya cuma-cuma? Sang Alfa dan Omega, yang memegang awal dan akhir segala sesuatu, sedang menunduk hari ini, menatapmu, dan bertanya satu hal sederhana: Kamu haus? Datanglah. Ini cuma-cuma.
Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh
