Renungan Harian Rabu 24 Juni 2026

Renungan Harian
Rabu 24 Juni 2026

Efesus 3: 20
Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,

Renungan: “Allah Tidak Pernah Kehabisan Ide tentang Hidupmu”

Di era kecerdasan buatan, para engineer merancang sistem AI dengan parameter tertentu, batas kemampuan yang sudah ditetapkan sejak awal. Betapapun canggihnya, AI tetap terkurung dalam batas yang diprogram manusia. Ia tidak bisa melakukan lebih dari yang dirancang untuknya.

Kita sering memperlakukan Allah seperti itu. Kita datang dalam doa dengan ‘parameter’ yang sudah kita tetapkan sendiri: “Tuhan, tolong berikan pekerjaan itu.” “Tuhan, sembuhkan penyakitku dalam waktu tiga bulan.” “Tuhan, cukupkan kebutuhanku bulan ini.” Doa-doa yang sah, tetapi tanpa sadar, kita sedang memprogram batas bagi Allah yang tidak mengenal batas.

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” Dalam bahasa Yunani, Paulus menggunakan kata huperekperissou, sebuah kata superlativ berlapis tiga yang tidak ada padanannya dalam bahasa lain. “Perissos” berarti berlimpah-limpah. “Ek-perissos” berarti meluap keluar. “Huper-ek-perissos” berarti “melampaui semua yang meluap keluar”. Tidak ada kamus manusia yang cukup untuk menampung makna kata ini.

Paulus seolah kehabisan kata. Maka ia menumpuk tiga lapis intensitas sekaligus untuk menggambarkan satu kenyataan: “Allah bekerja di luar jangkauan imajinasi terbaik manusia.” Yang lebih mengejutkan bukan hanya ‘seberapa besar’ Allah bisa bekerja, tetapi ‘di mana’ Ia bekerja: “di dalam kita.” Bukan di langit yang jauh. Bukan pada generasi yang akan datang. Melainkan di dalam diri orang percaya yang bahkan masih bergumul, masih ragu, masih luka. Kuasa itu sudah berdiam di sana, menunggu dilepaskan melalui iman.

Apa yang dapat kita petik dari ayat renungan ini:
Pertama, ‘perluas doamu’. Jika selama ini kamu hanya berani meminta “cukup,” mulailah berani meminta “berlimpah”, bukan untuk keserakahanmu, tetapi untuk kemuliaan-Nya dan berkat bagi sesama.
Kedua, ‘percayakan skenario yang kamu anggap mustahil’. Pernikahan yang retak, karier yang buntu, tubuh yang sakit, hubungan yang putus, itu bukan akhir cerita. Itu justru panggung di mana Allah paling sering menampilkan keajaiban-Nya.
Ketiga, ‘ingat bahwa kuasa-Nya sudah ada di dalam kamu sekarang.’ Kamu tidak perlu menunggu kondisi sempurna untuk melihat Allah bekerja. Ia sudah bekerja, bahkan saat kamu belum menyadarinya.

“Allah tidak membutuhkan situasimu yang ideal. Ia hanya membutuhkan imanmu yang sungguh, dan dari situlah Ia akan melakukan hal-hal yang bahkan tidak pernah masuk dalam doamu yang terpanjang sekalipun.” Lepaskan kendali atas skenario hidupmu. Berikan kepada Allah yang ‘tidak pernah kehabisan ide, tidak pernah kehabisan cara, dan tidak pernah kehabisan kuasa’, untuk hidupmu.

Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh