Renungan Harian
Jumat 19 Juni 2026
2 Korintus 5:7
“sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat”
Renungan: “Melangkah Tanpa Melihat: Iman di Era Serba Kasatmata”
Kita adalah generasi yang terobsesi dengan visibilitas. GPS melacak setiap langkah kita, ponsel merekam setiap momen, dan keputusan hidup dibuat berdasarkan data yang bisa diukur. “Aku harus lihat dulu, baru percaya” menjadi mantra modern. Namun, apa yang terjadi ketika kabut kehidupan turun, ketika hasil doa belum terlihat, jalan keluar belum tampak, dan setiap arah terlihat sama gelapnya? Di sanalah definisi iman yang sesungguhnya diuji.
Rasul Paulus, yang tidak asing dengan penderitaan dan ketidakpastian, menuliskan kalimat yang pendek namun menusuk zaman: “Sebab hidup kami ini adalah hidup karena iman, bukan karena penglihatan” (2 Korintus 5:7).
Kata Yunani untuk hidup (atau lebih tepatnya “berjalan”) adalah peripateo, yang berarti gaya hidup sehari-hari, langkah demi langkah yang berulang. Paulus tidak berbicara tentang momen krisis saja; ia berbicara tentang ritme harian. Setiap langkah orang percaya diatur oleh iman, keyakinan pada realitas yang tidak kasat mata, bukan oleh penglihatan (eidos), yaitu apa yang tampak secara lahiriah. Ayat ini berada di tengah pembahasan Paulus tentang kerinduan akan tubuh surgawi dan kepastian bahwa kematian bukanlah akhir. Iman adalah mata yang menembus tirai kefanaan dan melihat apa yang belum bisa diverifikasi oleh panca indera.
Perhatikan, Paulus tidak mengatakan “kami menolak realitas.” Ia tidak menyuruh kita menyangkal penyakit, keuangan yang menipis, atau hubungan yang retak. Tetapi ia mengatakan bahwa ada lapisan realitas yang lebih tinggi dan lebih permanen, yaitu janji dan karakter Allah. Apa yang terlihat bersifat sementara; apa yang tidak terlihat bersifat kekal (2 Korintus 4:18). Iman bukanlah lompatan buta ke dalam absurditas; iman adalah berjalan dengan percaya pada Pribadi yang telah membuktikan kesetiaan-Nya di atas salib.
Mulailah melatih “otot iman” dalam keputusan-keputusan kecil. Ketika kecemasan muncul dan pikiran kita menuntut bukti bahwa semuanya akan baik-baik saja, berhentilah sejenak dan katakan: “Tuhan, aku tidak bisa melihat ujung jalan ini, tetapi aku percaya Engkau memegang tanganku.” Jangan tunggu badai besar; latihlah berjalan dalam kabut tipis terlebih dahulu. Catatlah berkat-berkat kecil yang tidak terduga setiap hari sebagai pengingat bahwa Allah bekerja di balik layar.
“Penglihatan berkata ‘ini faktanya,’ tetapi iman berkata ‘itu belum seluruh ceritanya.’ Berjalanlah dengan iman, maka suatu hari engkau akan berbalik dan melihat bahwa setiap langkah gelapmu telah diatur oleh Tangan yang tidak pernah melepaskan.”
Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh
