EDISI MEI 2026  ·  KEBAKTIAN BULANAN KAUM BAPAK & KELUARGA

BERITA PERSEKUTUAN

SEKSI AMA HKBP RESSORT SLIPI

EDISI MEI 2026  ·  KEBAKTIAN BULANAN KAUM BAPAK & KELUARGA

 

PDT. JAU DOLOKSARIBU SERUKAN KEMBALINYA PERAN BAPA

“Bapa yang Hadir dan Mengasihi Keluarga”

Khotbah Eksposisi Efesus 6:4 Hidupkan Kembali Tugas Imamat Kepala Keluarga

 

Poster undangan Kebaktian Bulanan Kaum Bapak HKBP Slipi — Kamis, 7 Mei 2026

JAKARTA, 7 Mei 2026 — Suasana ibadah yang khidmat sekaligus penuh kehangatan persekutuan menyelimuti gedung Gereja HKBP Ressort Slipi pada Kamis malam, 7 Mei 2026. Kebaktian Bulanan Kaum Bapak dan Keluarga HKBP Slipi yang diselenggarakan oleh Seksi Ama mengangkat tema yang sangat aktual dan menyentuh nurani: “Bapa yang Hadir dan Mengasihi Keluarga,” bersumber dari Surat Efesus 6:4. Wijk VI dan Wijk VII bertindak sebagai tuan rumah pelayanan, dan acara diawali dengan makan malam bersama pukul 18.30 WIB sebelum memasuki ibadah utama.

Sebagai pengkhotbah hadir Pdt. JAU Doloksaribu, M.Min. — pendeta senior yang dikenal luas di lingkungan HKBP karena ketajaman analisis pastoral dan kepedulian mendalam terhadap pembinaan keluarga Kristen. Dengan gaya penyampaian yang lugas, sistematis, dan diperkaya rujukan Alkitab yang berlimpah, beliau membentangkan satu pertanyaan menggugah di hadapan jemaat: “Bapa yang bagaimanakah kita di tengah keluarga kita?”

Pokok-Pokok Pengajaran

“Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”

— Efesus 6:4 —

 

  1. Realitas Degradasi Moral Kaum Bapa

Membuka khotbahnya, Pdt. JAU Doloksaribu memotret kenyataan yang tidak terbantahkan: dalam lima puluh tahun terakhir telah terjadi degradasi moral kaum bapa di berbagai bidang kehidupan — di rumah tangga, di gereja, dan di masyarakat. Pria yang seharusnya berperan sebagai kekasih dan suami bagi istrinya serta bapa bagi seisi rumahnya, kian banyak yang justru mengabaikan panggilan dan peranannya sebagai imam keluarga.

Fenomena ini, ditegaskan beliau, terjadi merata — di pedesaan, di wilayah transisi, hingga di perkotaan; di dalam negeri maupun di seluruh dunia. Padahal status sebagai bapa dan suami pada hakikatnya adalah status kehormatan (the dignity of fatherhood and husbandhood). Sayangnya, dalam kenyataan sehari-hari, ada empat tipe bapa atau suami yang kita jumpai dalam rumah tangga.

Empat Tipe Suami / Bapa dalam Rumah Tangga

Tipe Deskripsi Karakteristik
Pertama Suami / Bapa yang dicintai dan dirindukan Anggota keluarga selalu menanti kepulangannya. Kehadirannya menjadi sumber sukacita, perlindungan, dan teladan.
Kedua Suami / Bapa yang dibutuhkan Hanya dicari ketika ada kebutuhan praktis — uang, izin, atau bantuan teknis. Kehadirannya bersifat fungsional, bukan relasional.
Ketiga Suami / Bapa yang diabaikan Hadir atau tidak hadir tidak membuat perbedaan. Ketika keluarga menghadapi masalah, tidak ada yang dapat diharapkan darinya — baik pikiran maupun tindakan.
Keempat Suami / Bapa pengganggu Justru menjadi sumber ketakutan. Bila tidak hadir, semua bersukacita; bila hadir, suasana menjadi mencekam.

 

“Pertanyaan reflektif yang harus dijawab oleh setiap kaum bapa: Suami atau bapa yang manakah saya di mata istri dan anak-anak saya?”

— Pdt. JAU Doloksaribu, M.Min.

  1. Krisis Global Kaum Pria yang Kehilangan Jati Diri

Mengutip Edwin Louis Cole dalam bukunya On Becoming a Real Man, Pdt. JAU memaparkan peta krisis kaum pria secara global: krisis kepemimpinan di Amerika Serikat, krisis ekonomi di Amerika Latin, pengangguran di Inggris, kecenderungan generasi muda Italia yang lebih mengidolakan tokoh mafia dibanding tokoh agama dan industri, depresi yang melanda Skotlandia, mentalitas “Pria Macho” di Australia dan Amerika Tengah, sistem matriarkat yang merundung Filipina, naiknya angka homoseksualitas, kekerasan rumah tangga di Nigeria, hingga gerakan feminis radikal yang mengusung panji “I hate Straight”.

Semuanya — demikian Pdt. JAU menyimpulkan — bersumber dari satu krisis tunggal: kaum pria yang kehilangan jati dirinya. Cole merangkum kenyataan ini dalam kalimat tajam yang dikutip ulang malam itu:

“So many fathers, but so few parents. Begitu banyak ayah, namun begitu sedikit yang sungguh-sungguh menjadi orang tua.”

— Edwin Louis Cole

  1. Memahami Perbedaan: Kunci Harmoni Rumah Tangga

Mengapa kita disebut suami dan bapa? Karena kita menikah dan memiliki rumah tangga. Dan kita menikah dengan pribadi yang berbeda. Seluruh ciptaan, dalam keanekaragamannya, dipandang Allah “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31), karena dalam perbedaan itulah terkandung keserasian, keselarasan, kesesuaian, dan kerukunan.

Untuk menggambarkan perbedaan itu, Pdt. JAU mengutip kerangka analisis John Gray dalam Men Are from Mars, Women Are from Venus, yang menyajikan perbandingan tegas antara karakter dasar pria dan wanita:

Aspek Laki-laki / Suami Wanita / Istri
Kebutuhan Utama Rasa Hormat (Ef. 5:22-23, 33) Dikasihi (Ef. 5:22, 33)
Cara Berpikir Rasional Emosional
Yang Diutamakan Prestasi dan karier Rasa aman
Gaya Bicara Garis besar Detail dan rinci
Orientasi Waktu Masa depan Masa silam
Menghadapi Masalah Menyendiri (gua pribadi) Curhat dan berbagi
Sumber Motivasi Merasa dibutuhkan Merasa dihargai

 

Pemahaman atas perbedaan ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirayakan. Dari sinilah harmoni rumah tangga lahir — bukan dari penyamaan, tetapi dari penghormatan terhadap perbedaan yang dirancang Allah sendiri.

  1. Panggilan Suami terhadap Istri

Memasuki bagian inti yang bersifat aplikatif, Pdt. JAU menggariskan tiga panggilan utama seorang suami sebagaimana diajarkan Surat Efesus pasal 5:

  1. Saling merendahkan hati satu sama lain di dalam takut akan Kristus (Efesus 5:21). Penundukan timbal balik ini adalah dasar dari relasi suami-istri Kristen.
  2. Mengasihi istri dan menyerahkan diri baginya — dalam bahasa Batak disebut manghopkop, paradoken (Efesus 5:25). Kasih suami bukan kasih yang menuntut, melainkan kasih yang memberi sampai habis.
  3. Mengasihi istri sama seperti dirinya sendiri (Efesus 5:28-29), karena suami dan istri telah menjadi satu daging (Efesus 5:31).
  4. Panggilan Bapa terhadap Anak-Anaknya

Selanjutnya, Pdt. JAU menguraikan tiga panggilan kunci seorang bapa terhadap anak-anaknya:

  1. Mengajarkan anak-anak untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa, roh, dan kekuatannya — berulang-ulang, di segala waktu, tempat, dan keadaan (Ulangan 6:4-5, 7).
  2. Mendidik anak-anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4) — bukan dengan amarah yang membangkitkan kepahitan, tetapi dengan kesabaran yang membentuk karakter.
  3. Mengajarkan nilai-nilai Kristiani sebagai fondasi hidup yang tidak akan dapat dirampas oleh siapapun di kemudian hari.
  4. Tugas Imamat Am di Tengah Keluarga

Bagian yang paling teologis sekaligus paling membakar semangat malam itu adalah penegasan tentang “imamat am orang percaya” (Keluaran 19:6; 1 Petrus 2:9; Wahyu 1:6). Setiap orang yang sudah dibaptis dan disidi adalah imam — meskipun bukan setiap orang dipanggil menjadi pendeta, penginjil, atau sintua. Dalam rangka pengakuan inilah setiap orang tua, khususnya kaum bapa, diberi mandat menunaikan tugas imamat di tengah keluarganya sendiri.

Sembilan Wujud Tugas Imamat Bapa dalam Keluarga

1) Sebagai pemimpin yang ditaati istrinya (1 Petrus 3:6-7) — bukan suami yang dipimpin oleh anak (Yesaya 3:4-5, 12) atau oleh istri seperti Ahab oleh Izebel (1 Raja-Raja 21).  2) Memimpin keluarganya beribadah kepada Tuhan (Yosua 24:15).  3) Mendidik dan mengajar anak-anaknya (Ulangan 6:4-7; Amsal 22:6; Efesus 6:4; Kolose 3:21) supaya mereka takut akan Tuhan dan hidup berhikmat (Mazmur 111:10).  4) Membangun tubuh Kristus (Efesus 4:12) supaya keluarganya dewasa dalam iman (Efesus 4:13).  5) Menjadi tempat bertanya bagi istrinya (1 Korintus 14:35).  6) Mendoakan keluarga, baik di tempat dekat maupun jauh (1 Korintus 7:3-4).  7) Memenuhi kebutuhan keluarga (1 Timotius 5:8).  8) Menjadi gembala yang baik bagi keluarga (Yohanes 10:11-13), bahkan rela memberi nyawa baginya.  9) Menjadi teladan iman dan karakter di mata seisi rumahnya (1 Timotius 4:12).

  1. Kepribadian yang Diperlukan untuk Tugas Imamat

Untuk menunaikan tugas mulia ini, demikian Pdt. JAU menegaskan, dibutuhkan kaum bapa dengan kepribadian yang utuh: iman yang teguh kepada Allah, Kitab Suci, dan panggilannya; kedewasaan sosial (1 Timotius 3:1); serta kecerdasan intelektual, emosional, fisik, dan spiritual (Lukas 10:27).

Karena itu kaum bapa perlu melengkapi diri dengan kebiasaan beribadah (1 Timotius 4:8), pengetahuan dan penghayatan firman Allah (1 Timotius 4:13, 18), serta memohon pimpinan Roh Kudus (Galatia 5:25) dengan buah-buah Roh (Galatia 5:22-24). Beliau mengingatkan dengan tegas: jangan sekali-sekali mendukakan Roh Kudus (Efesus 4:29-30) atau memadamkan Roh (1 Tesalonika 5:19).

  1. Delapan Dimensi Kesehatan yang Harus Dijaga

Sebagai puncak khotbahnya, Pdt. JAU menyajikan delapan dimensi kesehatan yang harus didoakan dan diupayakan setiap kaum bapa secara seimbang. Kedelapan dimensi ini, beliau tegaskan, sama pentingnya — tidak ada yang lebih utama dibanding yang lain.

No. Dimensi Aspek Rujukan Firman
1 Hati Emosional Filipi 4:4
2 Jiwa / Roh Spiritual 1 Timotius 4:8
3 Akal Budi Intelektual 1 Timotius 4:13
4 Tubuh Fisik 1 Timotius 4:7; 1 Kor. 9:24-27
5 Keuangan Ekonomi Filipi 4:11-13
6 Rumah Tangga Relasi keluarga Kolose 3:18-21
7 Masyarakat Sosial Roma 12:18; Ibrani 12:14
8 Pekerjaan Karier Markus 10:42-45

 

Kelalaian pada salah satu dimensi, ditegaskan beliau, akan menggerogoti yang lain. Bapa yang kuat secara karier tetapi runtuh secara emosional, atau bapa yang aktif di gereja tetapi mengabaikan rumah tangganya — keduanya gagal memenuhi panggilan utuh sebagai imam keluarga.

Sesi Tanya Jawab: Pendalaman Praktis Bersama Jemaat

Setelah penyampaian khotbah, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang sangat dinamis dan reflektif. Tiga sintua senior tampil mengangkat pertanyaan tajam yang menyentuh persoalan riil di tengah kehidupan keluarga Batak Kristen masa kini.

Pertanyaan Pertama — St. AY Sinaga: Nilai Agama vs. Nilai Adat

St. AY Sinaga membuka sesi diskusi dengan pertanyaan yang selalu aktual di kalangan jemaat HKBP: bagaimana kita harus memposisikan nilai-nilai (value) menurut ajaran agama Kristen dengan nilai-nilai menurut adat Batak? Tidak jarang dalam praktik kehidupan sehari-hari, kedua nilai ini terasa berbenturan — antara tuntutan iman dan tuntutan adat.

Menjawab pertanyaan ini, Pdt. JAU Doloksaribu memberikan penjelasan teologis yang seimbang. Beliau menegaskan bahwa adat Batak adalah warisan budaya yang luhur dan bukan musuh iman. Banyak nilai adat justru sejalan dengan ajaran Alkitab — penghormatan kepada orang tua (Hamoraon), kerukunan keluarga (Holong), kesetiaan persaudaraan (Marsiamin-aminan), dan tanggung jawab sosial (Dalihan Na Tolu). Nilai-nilai ini patut dipelihara dan diwariskan.

Namun, beliau melanjutkan, ketika nilai adat berbenturan dengan firman Tuhan, maka sebagai orang Kristen kita wajib menempatkan firman Tuhan di atas adat — bukan adat di atas firman. Pengkhotbah mengingatkan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan atas segala kebudayaan (Christ above culture), tetapi sekaligus hadir di dalam kebudayaan untuk menebus, memurnikan, dan menyempurnakannya (Christ in culture). Adat yang membawa beban berlebihan, mendorong utang yang menjerat, atau menggantikan kepercayaan kepada Tuhan dengan ritual semata — itulah yang harus direformasi dengan terang Injil. Sebaliknya, adat yang membangun karakter, menjaga persekutuan, dan memuliakan Tuhan harus terus dilestarikan.

“Adat Batak adalah baju yang indah, tetapi Kristus adalah tubuh kita. Baju harus menyesuaikan tubuh, bukan tubuh yang dipaksa menyesuaikan baju.”

— Pdt. JAU Doloksaribu, M.Min.

Pertanyaan Kedua — St. M. Gultom: Peran Orang Tua Dahulu vs. Sekarang

St. M. Gultom mengajukan pertanyaan kontekstual yang menyentuh perubahan struktur keluarga modern: apa perbedaan peran orang tua di zaman dahulu — ketika keluarga memiliki banyak anak, lima hingga sepuluh orang — dengan peran orang tua di zaman sekarang yang hanya memiliki dua atau tiga anak? Apakah pola pengasuhan yang berhasil di masa lalu masih relevan untuk diterapkan hari ini?

Pdt. JAU mengakui bahwa pertanyaan ini sangat penting karena menyentuh perubahan paradigma pengasuhan antargenerasi. Di masa lalu, dengan jumlah anak yang banyak, orang tua cenderung menjalankan kepemimpinan kolektif: anak yang lebih tua membantu mendidik adik-adiknya (sistem kakak-adik mendidik), perhatian dibagi rata namun tidak mendalam pada satu individu, dan pendidikan lebih banyak melalui keteladanan dan disiplin yang konsisten. Anak-anak belajar mandiri sejak dini karena tidak mungkin bergantung total kepada orang tua.

Sekarang, dengan dua atau tiga anak saja, situasinya berbalik. Orang tua memiliki kapasitas memberi perhatian individual yang jauh lebih besar — namun di sinilah letak bahaya barunya. Beliau memperingatkan munculnya beberapa pola yang harus diwaspadai: pertama, pengasuhan yang terlalu protektif sehingga anak kehilangan kemandirian; kedua, ekspektasi berlebihan yang menjadikan anak sebagai “proyek prestasi” orang tua; dan ketiga, kompensasi materi yang berlebihan untuk menggantikan kehadiran emosional yang minim.

Solusinya, demikian Pdt. JAU, adalah kembali kepada prinsip dasar Ulangan 6:4-7 — mengajarkan firman Tuhan berulang-ulang di segala waktu dan keadaan. Berapa pun jumlah anak yang dimiliki, esensinya tetap sama: orang tua adalah pendidik utama dan pertama dalam iman dan karakter. Yang berubah hanyalah strategi, bukan substansi. Di zaman dahulu kekuatan ada pada disiplin dan keteladanan; di zaman sekarang, kekuatan ada pada kualitas relasi dan komunikasi yang mendalam. Tetapi keduanya memiliki tujuan yang sama: melahirkan anak-anak yang takut akan Tuhan.

Pertanyaan Ketiga — St. Erwin Tobing: Suami yang “di Bawah Ketiak” Istri

St. Erwin Tobing mengajukan pertanyaan yang langsung menyentuh realita yang sering ditemui dalam rumah tangga modern: apa latar belakang penyebab fenomena suami yang “berada di bawah ketiak istri” — yakni suami yang kehilangan otoritas kepemimpinan dan didikte oleh istrinya — dan bagaimana cara mengatasinya secara biblis dan praktis?

Menjawab pertanyaan tajam ini, Pdt. JAU menyajikan analisis multi-dimensi tentang akar masalahnya. Pertama, dari sisi pembentukan karakter, banyak suami sejak kecil tidak diajarkan untuk mengambil keputusan dan bertanggung jawab. Mereka tumbuh sebagai pria yang pasif, takut konflik, dan menghindari tanggung jawab kepemimpinan. Kedua, dari sisi spiritual, banyak suami tidak menjalankan tugas imamatnya — tidak memimpin doa keluarga, tidak menjadi tempat bertanya bagi istri (1 Korintus 14:35), tidak akrab dengan firman Tuhan — sehingga otoritas spiritualnya runtuh dengan sendirinya.

Ketiga, dari sisi ekonomi, ada kalanya istri yang lebih sukses secara karier atau lebih dominan secara finansial menjadikan suami merasa kecil dan menyerahkan kendali. Keempat, dari sisi psikologis, ada suami yang sengaja melepas kemudi karena lebih nyaman tidak memikul tanggung jawab — sikap yang oleh pengkhotbah disebut “lari dari panggilan kebapaan”. Beliau merujuk pada contoh Alkitab: Adam yang pasif ketika Hawa digoda ular (Kejadian 3:6) dan Raja Ahab yang tunduk pada manipulasi Izebel (1 Raja-Raja 21) — keduanya adalah peringatan keras tentang akibat suami yang kehilangan kepemimpinan rohani.

Untuk solusinya, Pdt. JAU menggariskan empat langkah pemulihan yang konkret. Pertama, pemulihan kehidupan doa pribadi — suami harus kembali menjadi penyembah Tuhan secara pribadi sebelum dapat memimpin keluarga. Kedua, mengambil kembali tugas imamat dengan memimpin ibadah keluarga, doa makan, dan diskusi firman secara konsisten. Ketiga, membangun komunikasi yang sehat dengan istri — bukan dengan otoritarianisme atau pemberontakan, tetapi dengan kasih yang tegas (Efesus 5:25). Suami harus belajar berkata “tidak” dengan kasih, dan berkata “ya” dengan komitmen. Keempat, mencari komunitas pendukung — persekutuan kaum bapa seperti yang dijalankan Seksi Ama HKBP Slipi inilah yang menjadi sarana saling menguatkan dalam panggilan kebapaan.

“Suami yang berada di bawah ketiak istri bukan istri yang salah — itu adalah suami yang menolak panggilannya. Pemulihannya tidak dimulai dengan menuntut istri tunduk, tetapi dengan suami yang kembali bertekuk lutut di hadapan Tuhan.”

— Pdt. JAU Doloksaribu, M.Min.

Sesi tanya jawab ditutup dengan tepuk tangan apresiasi dari seluruh peserta. Diskusi yang mengalir selama hampir satu jam ini meninggalkan banyak permenungan — bukan hanya bagi para penanya, tetapi bagi seluruh kaum bapa yang hadir malam itu.

Dokumentasi Persekutuan

Foto bersama Pdt. JAU Doloksaribu, M.Min. dengan kaum bapa, ibu, dan keluarga jemaat HKBP Slipi seusai Kebaktian Bulanan — Kamis, 7 Mei 2026.

Suasana penuh sukacita terpancar dari foto bersama yang diabadikan seusai kebaktian malam itu. Tampak Pdt. JAU Doloksaribu — mengenakan jubah pendeta hitam dengan kerah putih khas HKBP — berdiri di tengah jemaat, mendekap Alkitab di tangannya. Di sebelahnya berdiri Ibu Pendeta yang mengenakan blus hijau zaitun, didampingi pendeta jemaat dan para majelis Ressort yang setia melayani.

Di sekeliling pengkhotbah, puluhan kaum bapa dari Wijk VI dan Wijk VII bersama anggota keluarga berdiri rapat — mengenakan beragam batik, kemeja, dan busana resmi yang memancarkan keteguhan iman dan kehangatan persekutuan. Latar belakang salib kayu di altar bersama dua layar bertuliskan “Ressort Slipi” menjadi saksi diam atas momen pengabdian malam itu. Foto ini bukan sekadar dokumentasi — ia adalah potret sebuah komunitas iman yang berkomitmen meneguhkan peran kaum bapa sebagai imam dan teladan dalam keluarga.

Refleksi Penutup

Kebaktian Bulanan Kaum Bapak dan Keluarga HKBP Slipi edisi Mei 2026 ini meninggalkan kesan mendalam. Khotbah Pdt. JAU Doloksaribu bukan sekadar paparan teologis, tetapi sebuah seruan profetis bagi kaum bapa untuk pulang — pulang ke panggilan asali sebagai imam keluarga, sebagai pemimpin yang melayani, dan sebagai teladan iman bagi anak-cucu.

Dalam dunia yang semakin menjauhkan kaum pria dari jati dirinya, gereja dipanggil untuk meneguhkan kembali martabat kebapaan. Dan martabat itu tidak diukur dari prestasi karier atau warisan harta, melainkan dari kehadiran yang penuh kasih di tengah keluarga.

Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh majelis pelayan, dilanjutkan saling berjabat tangan penuh sukacita, dan sesi foto bersama. Para kaum bapa pulang bukan hanya membawa berkat firman, melainkan juga komitmen baru: untuk hadir, mengasihi, dan mengimami keluarga masing-masing.

 

Selamat Menjadi Suami dan Bapa yang Dirindukan Keluarga.

HORAS!

 

Pengkhotbah  ·  Pdt. JAU Doloksaribu, M.Min.

Tuan Rumah Pelayanan  ·  Wijk VI dan Wijk VII

Penyelenggara  ·  Seksi Ama HKBP Ressort Slipi

Liputan oleh Tim Media HKBP Slipi  ·  Edisi Mei 2026