- Renungan Harian
Rabu 29 April
2 Tesalonika 2: 15
Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.
Renungan: Berpegang Teguh di Tengah Dunia yang Berubah
Dalam kehidupan yang terus berubah, manusia sering kali kehilangan pegangan. Nilai-nilai bergeser, kebenaran menjadi relatif, dan apa yang dahulu dianggap prinsip kini mudah ditinggalkan. Dalam situasi seperti itu, firman Tuhan melalui Rasul Paulus memberikan satu seruan yang tegas: berdirilah teguh dan berpeganglah.
Jemaat di Tesalonika saat itu menghadapi kebingungan iman. Mereka diguncang oleh ajaran-ajaran yang menyesatkan tentang hari Tuhan. Ada ketakutan, ada keraguan, bahkan mungkin ada yang mulai goyah. Di tengah kondisi itu, Paulus tidak sekadar memberikan informasi teologis, tetapi juga arah hidup: tetap berdiri dan tetap berpegang.
Berdiri teguh berarti tidak mudah digoyahkan oleh arus. Iman bukan sekadar perasaan yang naik turun, tetapi sebuah komitmen yang kokoh. Seperti pohon yang akarnya dalam, ia tetap berdiri meskipun diterpa angin. Demikian juga orang percaya, ia tidak ditentukan oleh situasi, tetapi oleh kebenaran yang ia pegang.
Namun Paulus tidak berhenti pada “berdiri teguh.” Ia menambahkan: berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima. Ini penting. Keteguhan iman bukan berasal dari diri sendiri, tetapi dari kebenaran firman Tuhan yang diwariskan. Ajaran itu disampaikan baik secara lisan maupun tertulis, menunjukkan bahwa iman Kristen berakar pada tradisi yang hidup dan firman yang terjaga.
Di zaman sekarang, banyak “ajaran baru” yang tampak menarik, tetapi tidak semuanya benar. Ada ajaran yang menyesuaikan diri dengan keinginan manusia, bukan kehendak Tuhan. Karena itu, berpegang pada ajaran yang benar berarti kembali kepada firman Tuhan sebagai dasar hidup. Bukan sekadar tahu, tetapi memegangnya erat: menjadikannya arah, ukuran, dan dasar keputusan.
Renungan ini mengajak kita untuk bertanya: apa yang sedang kita pegang hari ini? Apakah kita berpegang pada firman Tuhan, atau pada opini dunia? Apakah iman kita kokoh, atau mudah berubah sesuai keadaan?
Menjadi orang percaya bukan berarti hidup tanpa tantangan. Justru di tengah tantangan itulah keteguhan diuji. Tetapi kita tidak berjalan sendiri. Tuhan yang memanggil kita juga yang memampukan kita untuk tetap berdiri dan tetap berpegang.
Maka, di tengah dunia yang terus berubah, mari kita menjadi pribadi yang tidak mudah goyah. Berdirilah teguh. Peganglah firman Tuhan. Sebab hanya di dalam kebenaran-Nya, hidup kita menemukan arah yang pasti dan pengharapan yang teguh. Amin
Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh
