Renungan Harian Jumat 24 April 2026

Renungan Harian

Jumat 24 April 2026

 

Kolose 2: 6 – 7

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.

 

Renungan: “Berakar, Dibangun, dan Melimpah Syukur: Resep Hidup yang Tak Tergoyahkan”

 

Saudara yang dikasihi, pernahkah kita melihat pohon besar yang tumbuh di tepi jurang? Badai bisa datang, angin kencang bisa menerpa, tetapi pohon itu tetap berdiri kokoh. Rahasianya bukan terletak pada seberapa besar batangnya, melainkan seberapa dalam akarnya mencengkeram tanah.

 

Rasul Paulus memberikan resep kehidupan yang serupa kepada jemaat di Kolose, sebuah kehidupan yang tidak mudah goyah oleh arus zaman atau badai penderitaan. Nasihatnya mengalir begitu indah sebagaimana ayat di atas.

 

Mari kita renungkan, ayat ini dibuka dengan sebuah fondasi yang tak tergantikan: “Kamu telah menerima Kristus Yesus.” Ini adalah titik awal segalanya. Iman kita bukanlah hasil usaha kita menjangkau Tuhan, melainkan respons penerimaan atas anugerah yang telah diberikan. Kristus bukan sekadar guru moral atau pemberi berkat, melainkan “Tuhan”, Pemilik, Penguasa, dan Tuan atas seluruh kehidupan kita. Keselamatan adalah menerima Pribadi Kristus itu sendiri.

 

Dari fondasi inilah, Paulus menggerakkan hati kita pada empat tindakan yang saling terhubung, ibarat akar, batang, kekuatan, dan buah dari sebatang pohon kehidupan:

 

Pertama, “Hiduplah tetap di dalam Dia: berakar di dalam Dia.”

Iman kita bukanlah cangkokan yang ditempelkan secara artifisial. Iman adalah kehidupan di mana kita sebagai ranting harus tinggal melekat pada Pokok Anggur yang sejati. Akar memiliki dua fungsi sederhana namun vital: menyerap dan mencengkeram. Berakar dalam Kristus berarti kita tak henti menyerap sari-sari rohani dari Firman-Nya, dari doa, dan dari persekutuan intim dengan-Nya. Di tengah dunia yang kering oleh materialisme dan nilai-nilai yang serba instan, jangan heran jika jiwa kita sering terasa haus. Itu pertanda akar kita harus lebih dalam mendekap Yesus. Saat akarnya dalam, pencengkeraman kita pada kebenaran akan semakin kuat, sehingga saat “angin” pengajaran sesat atau badai masalah datang, kita tidak ikut tumbang.

 

Kedua, “Dibangun di atas Dia.”

Setelah akar tertanam, selanjutnya kita harus bertumbuh ke atas. Paulus mengganti metafora pertanian menjadi metafora arsitektur. Kristus bukan hanya tanah yang subur, tetapi juga Batu Penjuru dan Fondasi yang kokoh. Setiap doa, pelayanan, dan ketaatan kita adalah “batu bata” yang sedang ditata oleh Sang Arsitek Agung di atas fondasi pengenalan akan Kristus. Patut kita ingat: jika kita membangun hidup di atas fondasi karir, popularitas, atau harta, maka bangunan itu tidak lebih dari rumah di atas pasir. Hanya mereka yang dibangun di atas Kristus yang akan berdiri tegak saat penghakiman dan ujian hidup tiba.

 

Ketiga, “Bertambah teguh dalam iman.”

Kata yang Paulus gunakan di sini mengandung arti dikuatkan atau dikukuhkan, layaknya sebuah kontrak hukum yang disahkan. Semakin kita berakar dan dibangun, semakin “legal” dan kuat status iman kita di hadapan realita. Iman yang teguh bukanlah iman yang tanpa keraguan, melainkan iman yang terus memilih percaya sekalipun keraguan itu ada. Iman itu dikuatkan oleh “ajaran yang telah diajarkan”, yaitu Injil yang sejati. Di era di mana begitu banyak suara gaduh berusaha merevisi kebenaran, kita dipanggil untuk kembali pada kemurnian pengajaran Kristus, bukan pada tren rohani yang meninabobokan.

 

Keempat, “Hatimu melimpah dengan syukur.”

Inilah mahkotanya. Akar (menyerap), bangunan (bertumbuh), dan keteguhan hati (daya tahan) akan menghasilkan buah yang alami: hati yang meluap-luap dalam ucapan syukur. Syukur adalah barometer kesehatan rohani kita. Ketika kita hidup di luar Kristus, kita adalah pribadi yang suka mengeluh dan menuntut. Namun, ketika kita berakar dalam Dia, kita menyadari bahwa segala sesuatu adalah kasih karunia. Syukur bukan hanya ekspresi saat kita menerima apa yang kita inginkan, melainkan pengakuan bahwa di dalam Kristus, kita sudah memiliki segalanya.

 

Saudara, di mana akarmu tertancap hari ini? Apakah pada hal-hal duniawi yang sementara, ataukah semakin dalam menghujam di dalam kasih dan Firman Kristus? Seberapa besar kapasitas syukurmu hari ini? Mari kita lepaskan mentalitas “kekurangan” dan mulai menghitung berkat, karena melimpahnya syukur adalah tanda paling jernih bahwa akar hidup kita benar-benar berada di dalam Dia. Amin.

 

Tuhan Yesus memberkati.

Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *