1 Tawarikh 4: 10
Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: “Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!” Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.
Renungan: “Doa yang melampaui nama dan masa lalu”
Di tengah deretan silsilah yang tampak biasa dan membosankan di 1 Tawarikh 4, penulis tiba-tiba berhenti sejenak untuk menyoroti satu sosok: Yabes. Ia bukan raja, bukan pahlawan perang, bukan tokoh besar dengan prestasi spektakuler. Yang membuatnya dicatat hanyalah satu hal: ia berseru kepada Allah Israel. Di dunia kita yang sangat menghargai angka, gelar, dan pencapaian, kisah singkat ini mengingatkan bahwa di hadapan Tuhan, yang paling berharga bukan reputasi, melainkan hati yang datang dan berseru dengan sungguh-sungguh.
Yabes lahir dari konteks luka. Namanya sendiri terkait dengan “kesakitan”; setiap kali orang menyebut namanya, seakan-akan sejarah pedih itu diulang kembali. Banyak orang percaya pun membawa “nama batin” serupa: masa kecil yang penuh konflik, kata-kata tajam orang tua, kegagalan yang memalukan, atau pengalaman dilukai dalam pelayanan. Tanpa disadari, semua itu membentuk cara kita memandang diri: merasa rendah, tidak layak, atau selalu curiga bahwa hidup akan berakhir buruk. Namun Yabes menunjukkan jalan yang lain. Ia tidak sibuk meratapi nama dan latar belakangnya; ia memilih datang kepada Allah dan menjadikan Dia, bukan lukanya, sebagai penentu arah hidupnya. Inilah undangan bagi kita: mungkin kita tidak bisa menghapus masa lalu, tetapi kita bisa memilih kepada siapa kita bersandar hari ini.
Doa Yabes sangat singkat tetapi kaya: ia memohon berkat, perluasan daerah, penyertaan tangan Tuhan, dan perlindungan dari malapetaka. Ia berani meminta berkat “berlimpah-limpah”, bukan karena serakah, melainkan karena sadar bahwa sumber berkat sejati hanya Allah, dan bahwa berkat itu dimaksudkan untuk menopang hidup dalam panggilan. Ia meminta Tuhan memperluas daerahnya, yang dalam konteks sekarang dapat berarti memperluas kapasitas hati, tanggung jawab, dan dampak hidup kita di keluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Di tengah kecenderungan hidup seminimal mungkin dan mencari zona nyaman, doa ini mengajak kita bertanya: apakah kita masih rindu dipakai lebih luas oleh Tuhan, meski itu bisa berarti memikul lebih banyak tanggung jawab dan belajar lebih dalam?
Di saat yang sama, Yabes sadar bahwa perluasan tanpa penyertaan akan menjadi beban. Karena itu ia berseru: “Kiranya tangan-Mu menyertai aku.” Ia tahu kemajuan sejati bukan hanya pertambahan peluang, tetapi juga kedalaman pengalaman berjalan bersama Allah. Betapa banyak dari kita yang merasa lelah bukan semata-mata karena pekerjaan terlalu banyak, melainkan karena dijalani seolah-olah kita sendiri yang harus mengatur dan mengendalikan segalanya. Doa Yabes mengundang kita kembali menyadari tangan Tuhan yang menuntun di balik rapat, perjalanan, kelas, pelayanan, tugas rumah tangga, dan setiap pergumulan kecil yang sering kita anggap sepele. Lalu ia memohon perlindungan: dijauhkan dari malapetaka, agar kesakitan tidak menimpanya. Ia tidak romantis terhadap penderitaan; ia jujur mengakui bahwa hidup itu rapuh. Di tengah berita tentang kekerasan, penyakit, krisis ekonomi, dan konflik sosial, kita pun diundang berdoa demikian: meminta Tuhan menjaga, bukan hanya secara lahiriah, tetapi juga menjaga hati kita agar tidak hancur oleh kepahitan dan kejahatan.
Bagian yang mungkin paling melegakan adalah penutupnya yang sangat sederhana: “Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.” Alkitab tidak memaparkan teknik khusus, tidak menyebut jumlah pengulangan doa, tidak memberi rumus. Yang ditekankan bukan formula doa, melainkan relasi: Allah Israel yang hidup, setia, dan berbelas kasihan, merespons seruan seorang yang datang dengan hati yang jujur. Di tengah tren menjadikan Doa Yabes sebagai “metode cepat” mendapatkan berkat, teks ini mengajak kita kembali ke inti: doa bukan jimat, melainkan perjumpaan. Yang membuat doa itu berarti bukan keindahan kata-katanya, tetapi kepada siapa doa itu diarahkan dan bagaimana hati kita bersandar kepada-Nya.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th
