RENUNGAN HARIAN Rabu 28 Januari 2026

2 Raja-raja 2: 9

Dan sesudah mereka sampai di seberang, berkatalah Elia kepada Elisa: “Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu.” Jawab Elisa: “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu.”

 

Renungan: “Meminta Bagian Ganda Roh Elia”

 

Di Tepi Yordan, Di Ujung Sebuah Pelayanan. Bayangkan dua orang berjalan berdua, seorang nabi tua yang penuh pengalaman iman dan seorang murid yang setia mengikuti dari kota ke kota, dari Gilgal, Betel, Yerikho, sampai ke tepi sungai Yordan. Mereka tahu sesuatu yang besar akan terjadi: Elia akan diambil Tuhan. Namun justru di saat perpisahan itu, terjadilah percakapan yang sangat menentukan masa depan pelayanan Elisa.

 

Setelah keduanya menyeberangi Yordan secara mujizat, Elia berbalik kepada Elisa dan berkata, “Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu.” Ini bukan sekadar basa-basi perpisahan, tetapi undangan ilahi melalui mulut seorang nabi: apa yang sesungguhnya engkau cari? Apa yang paling dalam dari kerinduan hatimu?

 

Elisa tidak meminta umur panjang, tidak meminta kekayaan, tidak meminta nama besar, tidak meminta perlindungan dari musuh. Ia berkata: “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu.” Dalam bahasa Ibrani, “dua bagian” menunjuk pada porsi warisan anak sulung, bagian yang istimewa yang mengungkapkan hubungan ayah–anak, bukan sekadar guru–murid. Elisa, dengan kata lain, berkata: “Izinkan aku menjadi anak rohanimu yang sah, pewaris pelayananmu. Berikan kepadaku bagian rohani yang cukup untuk melanjutkan pekerjaan Allah yang dipercayakan kepadamu.”

 

Permintaan ini bukan ambisi kekuasaan rohani, melainkan kerinduan untuk setia meneruskan pekerjaan Tuhan dengan kapasitas rohani yang memadai. Elisa sadar bahwa konteks pelayanan yang akan ia hadapi penuh kemurtadan, penyembahan berhala, dan ketidaksetiaan. Karena itu ia tidak berani melayani hanya dengan kekuatan sendiri. Ia meminta “dua bagian roh”, artinya: “Tuhan, aku butuh kapasitas rohani yang lebih besar dari diriku sendiri.”

 

“Dua Bagian Rohmu”. Dalam teks Ibrani, permintaan Elisa bisa diterjemahkan kira-kira demikian: “Na’, yĕhî-nā’ pî-šĕnayim bĕrūḥăkā ‘ālai” (“Kiranya menjadi atas aku porsi ganda dari rohmu.”) Beberapa hal penting dari ungkapan ini:

Pertama, “pî-šĕnayim” (secara harfiah “mulut dua”, idiom untuk bagian ganda) dipakai dalam konteks hak waris anak sulung (misalnya dalam Ulangan 21). Ini menegaskan dimensi relasi: Elisa melihat Elia sebagai ayah rohani, dan dirinya sebagai penerus resmi.

Kedua, “rūaḥ” bukan hanya soal kuasa spektakuler, tetapi dinamika hidup Allah yang bekerja melalui seorang nabi: keberanian, kesetiaan, kepekaan mendengar suara Tuhan, dan integritas dalam menyampaikan firman-Nya, apa pun risikonya.

 

Jadi, permintaan Elisa bukan: “Berikan aku dua kali lipat dari yang Engkau punya, supaya aku lebih hebat dari engkau,” melainkan: “Wariskanlah kepadaku porsi rohani yang memadai sebagai anak sulung rohanimu, agar aku sanggup melanjutkan pelayanan yang berat ini.”

 

Apa yang Kita Minta? Pertanyaan Elia, jika dihadirkan ulang, juga datang kepada kita hari ini: “Mintalah apa yang hendak Kulakukan kepadamu.” Jika Tuhan memberikan kesempatan seperti itu kepada kita, apa yang akan kita minta? Sering kali permintaan kita berpusat pada: Keamanan hidup dan kenyamanan materi. Keberhasilan karier dan usaha. Kesehatan dan relasi keluarga yang harmonis. Semua itu tidak salah, dan Tuhan peduli. Tetapi kisah Elisa menantang kita untuk bertanya lebih dalam: Apakah kita juga rindu “dua bagian roh”, yaitu kedewasaan dan kapasitas rohani untuk mengerjakan kehendak Tuhan di tengah zaman yang sulit?

 

Dalam konteks gereja, ini berarti: Lebih rindu dipenuhi Roh Kudus daripada sekadar dipuji orang. Lebih mencari kesetiaan dalam pelayanan daripada posisi dan jabatan. Lebih haus akan kebenaran firman daripada kenyamanan rohani yang dangkal.

 

Elisa tahu: tanpa “dua bagian roh” ia tidak akan mampu mengemban tugas profetis di tengah bangsa yang sedang menyimpang. Demikian juga kita: tanpa pengudusan, penguatan, dan tuntunan Roh Kudus, kita tidak sanggup menjadi saksi Kristus yang konsisten di tengah tekanan zaman, kompromi moral, dan godaan untuk ikut arus.

 

Menjadi “Anak Sulung” Rohani

Permintaan Elisa juga mengajak jemaat untuk melihat diri sebagai “anak-anak rohani” yang dipanggil meneruskan warisan iman, bukan hanya penikmat berkat.

Ada beberapa panggilan penting:

Di keluarga: Orang tua dipanggil menjadi “Elia-Elia kecil” yang mewariskan iman kepada anak-anak, bukan hanya harta. Anak-anak dipanggil menjadi “Elisa-Elisa kecil” yang menghargai dan meneruskan teladan iman orang tua.

Di gereja: Generasi yang lebih tua dipanggil membimbing dan mewariskan pelayanan, bukan mempertahankan semuanya sendiri sampai akhir. Generasi muda dipanggil bukan hanya kreatif, tetapi juga haus akan “dua bagian roh”: karakter, kesetiaan, dan kedalaman rohani.

Di masyarakat: Orang percaya dipanggil hadir sebagai pewaris nilai-nilai Kerajaan Allah: keadilan, kejujuran, belas kasihan. Kita bukan hanya penerima kasih karunia, tetapi penerus misi Allah di dunia.

 

Menjadi “anak sulung rohani” berarti rela memikul tanggung jawab yang lebih besar, menanggung beban pergumulan, dan berani berdiri bagi kebenaran, seperti Elisa yang melanjutkan langkah Elia.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *