“Bukan Kurang Iman, Tapi Kurang Ditemani”

“Bukan Kurang Iman, Tapi Kurang Ditemani”

Dari Data Global ke Hati Jemaat HKBP

o

 

Sebuah data global menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan publik kepada clergy/priests (istilah yang merujuk pada pemimpin agama atau rohaniawan) hanya berada di angka 29%. Angka ini terasa rendah jika dibandingkan dengan profesi lain seperti dokter, ilmuwan, atau guru.

Hal ini menjadi menarik ketika saya menghubungkan dengan pernyataan pimpinan pusat HKBP bahwa hanya sekitar 32% jemaat yang aktif bergereja. Alasan ketertarikan saya adalah karena saya bagian dari majelis pelayanan gereja HKBP.

Dua angka ini memang lahir dari konteks berbeda, tetapi sulit untuk tidak melihat getaran yang sama, yaitu ada jarak yang makin terasa antara gereja dan umatnya.

Pertanyaannya bukan sekadar “mengapa orang tidak percaya”, tetapi lebih dalam: apa yang sedang dirasakan umat tentang gereja dan para pelayannya?

Dengan kemampuan saya yang terbatas sebagai pelayan jemaat, saya mencoba melihatnya perlahan…

Mengapa Kepercayaan Menurun?

1. Jabatan lebih terlihat daripada teladan

 Yesus berkata:

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16)

 Rasul Petrus menegaskan:

“Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.” (1 Petrus 5:3)

Kepercayaan tidak lahir dari gelar rohani atau posisi struktural, tetapi dari hidup yang bisa “dibaca”. Ketika kata tidak sejalan dengan perilaku, khotbah tidak terasa dalam kehidupan, maka kepercayaan perlahan mengikis.

2. Pelayanan terasa jauh dari kehidupan nyata

 Henri Nouwen menulis:

“Kepemimpinan Kristen bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang kerentanan.”

 Yesus memberi teladan sebaliknya:

“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” (Markus 10:45)

Banyak umat tidak mencari pemimpin yang selalu sempurna, tetapi yang jujur, manusiawi, dan mau berjalan bersama. Ketika pelayan tampil terlalu tinggi, terlalu resmi, terlalu tak tersentuh, jarak emosional pun lahir.

3. Gereja terlalu sibuk dengan urusan internal

 Dietrich Bonhoeffer berkata:

“Gereja hanya menjadi gereja ketika ia ada untuk orang lain.”

Konflik, struktur, program, dan politik kecil sering menyedot energi gereja, sementara banyak umat bergumul dengan luka batin, ekonomi, keluarga, dan kesepian. Tidak sedikit yang pergi bukan karena kehilangan iman, tetapi karena merasa tidak lagi ditemani.

Angka sekitar 32% jemaat yang aktif bergereja di HKBP bisa dibaca sebagai tanda bahwa sebagian umat tidak lagi menemukan makna yang menyentuh hidup mereka di dalam gereja.

4. Ketidakkonsistenan kecil yang merusak kepercayaan besar

 Yesus berkata:

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Lukas 16:10)

 Mother Teresa mengingatkan:

“Orang mungkin tidak selalu mendengar apa yang kita katakan, tetapi mereka selalu melihat apa yang kita lakukan.”

Kepercayaan jarang runtuh karena satu kesalahan besar. Ia lebih sering hancur oleh banyak ketidakkonsistenan kecil: janji yang lupa, sikap yang berubah-ubah, pelayanan yang terasa pilih kasih.

Bagaimana Memulihkan Kepercayaan?

 Eugene Peterson menulis:

“Pastor bukanlah pengelola agama, tetapi penjaga jiwa.”

Memulihkan kepercayaan berarti kembali ke inti:

• Dari mengatur menjadi menemani

• Dari menggurui menjadi mendengar

• Dari menjaga citra menjadi merawat jiwa

• Dari sibuk dengan program menjadi hadir dalam pergumulan

Pelayan dipanggil bukan untuk tampak hebat, tetapi untuk setia. Bukan untuk selalu benar, tetapi untuk selalu tulus. Kepercayaan tidak bisa diminta, tidak bisa dipaksa, dan tidak bisa diciptakan lewat strategi. Ia hanya bisa ditumbuhkan lewat relasi yang jujur dan hidup yang selaras.

Penutup

Angka 29% kepercayaan kepada clergy/priests dan 32% keaktifan jemaat bukan sekadar statistik. Ia adalah cermin. Cermin yang mengajak gereja bertanya dengan jujur:

Apakah kami masih menjadi rumah yang hangat?

Apakah pelayanan kami masih terasa sebagai kasih, bukan sekadar kewajiban?

Apakah hidup kami masih bisa dibaca sebagai Injil yang berjalan?

Sebab pada akhirnya, gereja tidak akan bertumbuh oleh karena ia hebat berbicara,

tetapi karena ia setia mengasihi.

Saya teringat seorang jemaat yang pernah berkata pelan,

“Saya tidak berhenti percaya Tuhan, saya hanya lelah berjalan sendirian…..”

Kiranya gereja menjadi tempat di mana tidak seorangpun yang harus berjalan sendirian.

__Soli Deo Gloria

18 Januari 2026

Christofel P. Simanjuntak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *