Ulangan 6: 5
Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
Renungan:
“Kasih Total: Menata Hati, Jiwa, dan Kekuatan bagi Allah”
Kasih kepada Tuhan dalam Ulangan 6:5 adalah panggilan untuk menyerahkan seluruh keberadaan, identitas, dan energi hidup, secara total dan tanpa cadangan kepada Allah yang satu-satunya. Ayat ini bukan sekadar perintah moral, tetapi respons perjanjian terhadap Allah yang telah menyatakan diri dan kasih-Nya lebih dahulu.
Ulangan 6 muncul setelah Allah membebaskan Israel dari Mesir dan membawa mereka ke ambang Tanah Perjanjian. Kasih yang diminta di ayat 5 bertolak dari karya Allah yang lebih dahulu mengasihi dan menyelamatkan umat-Nya. Sebelum diminta mengasihi, Israel diingatkan: TUHAN itu esa, satu-satunya Allah, bukan sekadar “nomor satu” di antara allah-allah lain. Artinya, relasi dengan TUHAN bukan relasi kontraktual dingin, melainkan relasi perjanjian yang eksklusif, seperti komitmen pernikahan yang utuh dan tak terbagi.
“Dengan segenap hati”: pusat emosi dan kehendak
Istilah “segenap hati” menunjuk pada pusat kepribadian: pikiran, kehendak, dan emosi. Para penafsir Yahudi klasik menekankan bahwa hati yang mengasihi Allah adalah hati yang tidak terbagi, tidak terbelah antara Allah dan berhala-berhala lain, entah berhala literal ataupun berhala modern seperti status, uang, dan diri sendiri. Kasih dengan segenap hati berarti: Allah menjadi sumber dan arah semua keputusan terdalam, bukan hanya “pertimbangan salah satu”. Integritas batin: tidak hidup dengan dua wajah: manis dalam liturgi, tetapi pahit, korup, dan kompromistis di ruang privat.
Secara reflektif, hati yang terpecah tampak ketika ibadah terlihat hidup, tetapi dalam keheningan, yang menguasai pikiran justru kecemasan akan materi, pengakuan manusia, dan ambisi pribadi. Mengasihi dengan segenap hati mengajak untuk menata kembali pusat gravitasi batin: dari diri kepada Allah, dari ego kepada kehendak-Nya.
“Dengan segenap jiwa”: identitas, rasa aman, dan eksistensi
“Jiwa” dalam teks ini menunjuk pada seluruh dimensi hidup: nafas, identitas, keinginan terdalam, bahkan kesediaan mempertaruhkan hidup. Kasih dengan segenap jiwa berarti: Rasa aman eksistensial tertambat pada Allah, bukan pada peran, jabatan, atau pencapaian. Kesediaan menderita, kehilangan, bahkan jika perlu mati, demi kesetiaan kepada Allah.
Secara reflektif, banyak orang percaya mengaku mengasihi Tuhan, tetapi rasa aman terdalam bersandar pada hal-hal yang rapuh: gaji, reputasi, komunitas yang menerima, atau sistem yang menguntungkan dirinya. Ketika semuanya goyah, iman ikut runtuh. Mengasihi dengan segenap jiwa menelanjangi ketergantungan-ketergantungan palsu itu dan mengarahkan kita kembali pada Allah sebagai satu-satunya sandaran yang tidak runtuh ketika segala yang lain runtuh.
“Dengan segenap kekuatan”: energi, sumber daya, dan struktur hidup
“Kekuatan” dapat dimengerti sebagai seluruh kapasitas: energi fisik, waktu, kemampuan, pengaruh, dan bahkan harta (mammon, hepeng, arta). Beberapa rabi menafsirkan “segenap kekuatanmu” sebagai cara menggunakan semua yang dimiliki, termasuk harta, untuk melayani kepentingan Allah di dunia. Dalam bahasa praktis, ini berarti: cara menggunakan waktu menjadi cermin kasih: prioritas rohani, pelayanan, dan pekerjaan yang dikerjakan sebagai ibadah, bukan sekadar rutinitas. Cara mengelola tubuh dan tenaga: kesehatan, ritme istirahat, dan kerja diatur agar tubuh tetap menjadi alat yang layak bagi kehendak Allah, bukan alat eksploitasi diri. Cara memakai harta dan kompetensi: bukan hanya untuk menumpuk kenyamanan, tetapi untuk menopang pelayanan, keadilan sosial, dan kesaksian Kerajaan Allah.
Secara reflektif, banyak orang berhenti pada kasih yang sentimental: perasaan hangat ketika bernyanyi atau tersentuh saat mendengar khotbah. Kasih dengan segenap kekuatan memaksa pertanyaan konkret: bagaimana jadwal, anggaran, dan energi harian benar-benar berubah karena Allah dikasihi?
Menata ulang seluruh hidup
Ulangan 6:5 tidak berdiri sendiri; konteks ayat 6–9 menunjukkan bahwa kasih ini mengalir ke ritme harian, pendidikan keluarga, dan simbol-simbol hidup. Kasih kepada Allah menjadi kurikulum, gaya hidup, dan “budaya rumah”.
Dengan demikian, Ulangan 6:5 mengundang setiap orang percaya memasuki disiplin rohani yang menyentuh akar: menata ulang apa yang dikasihi, di mana rasa aman bertumpu, dan bagaimana seluruh kekuatan hidup dihabiskan. Kasih yang total ini bukan beban moralistik, tetapi respons yang wajar terhadap Allah yang telah lebih dahulu menyatakan diri sebagai satu-satunya Tuhan dan penebus hidup.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th
