RENUNGAN HARIAN Jumat 9 Januari 2026

Bilangan 6: 24-26
TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.

Renungan:
“Berkat yang Turun dari Hati Allah”

Berkat imam ini bukan hasil kreativitas imam, tetapi kata-kata yang langsung diajarkan Allah kepada Musa untuk disampaikan kepada Harun dan anak-anaknya. Artinya, setiap kali berkat ini diucapkan, jemaat sebenarnya sedang mendengar janji Allah sendiri, bukan sekadar harapan baik dari seorang pendeta.

Di ujung teks (ayat 27), Tuhan berkata: “Demikianlah mereka harus meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka.” Jadi ketika berkat itu diucapkan di akhir ibadah, nama Tuhan “diletakkan” atas jemaat: jemaat pulang bukan hanya dengan perasaan tenang, tetapi dengan identitas baru, milik Allah, disertai Allah.

“Memberkati dan Melindungi”: Allah yang Memberi dan Menjaga
Kata “memberkati” (Ibrani: barak) tidak hanya berarti memberi rezeki atau kelancaran, tetapi mengalirkan kebaikan Allah secara melimpah dalam seluruh dimensi hidup: rohani, emosional, relasi, dan juga kebutuhan jasmani. Kata “melindungi” (Ibrani: shamar) berarti menjaga, mengawasi, seperti penjaga yang terus berjaga di pintu kota; Allah bukan hanya memberi, tetapi juga menjaga agar yang diberikan itu tidak dirusak oleh dosa, kejahatan, atau ketakutan.

Bagi jemaat, ini berarti hidup beriman bukan hanya soal memohon “tambahan berkat”, tetapi belajar percaya bahwa hidup dijaga oleh tangan Allah bahkan ketika situasi tampak mengancam. Ketika pulang dari ibadah dengan berkat ini, jemaat diingatkan bahwa tidak ada langkah yang benar-benar sendirian, karena Allah menyertai dan menjaga di tengah ketidakpastian kerja, keluarga, kesehatan, dan masa depan.

“Menyinari dengan Wajah-Nya”: Allah yang Ramah dan Mengasihi
Gambaran “Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya” memakai bahasa relasi yang sangat lembut: seperti wajah orang tua yang berseri melihat anak yang dikasihinya. Ketika wajah Allah “bersinar”, itu berarti Allah memandang dengan sukacita, penerimaan, dan kehangatan; bukan wajah yang masam, penuh marah, atau jijik.

Dalam tradisi biblis, wajah Allah yang bersinar dikaitkan dengan kasih karunia: kebaikan yang tidak layak kita terima, tetapi tetap Allah berikan. Bagi jemaat yang sering hidup dengan rasa bersalah, takut ditolak, atau merasa “tidak cukup rohani”, berkat ini menyatakan bahwa Allah memandang bukan dengan tatapan menghakimi, tetapi dengan tatapan yang mengangkat dan memulihkan, karena kasih karunia-Nya lebih besar dari kegagalan kita.

“Menghadapkan Wajah dan Memberi Damai”: Allah yang Memperhatikan dan Menyembuhkan
Ungkapan “Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu” berarti Allah mengarahkan perhatian-Nya secara pribadi: Dia tidak berpaling, tidak masa bodoh, tetapi sengaja “menoleh” kepada umat-Nya. Lawannya adalah wajah yang berpaling atau tersembunyi, yang dalam Alkitab melambangkan penghukuman atau penolakan; di sini, justru yang diumumkan adalah perhatian dan kedekatan Allah yang aktif.

Dari perhatian inilah lahir “damai sejahtera” (Ibrani: shalom), yang bukan sekadar perasaan tenang tanpa masalah, tetapi keadaan utuh: hubungan dengan Allah dipulihkan, hati diberi keteguhan, relasi dipersatukan, dan hidup dijalani dalam keutuhan yang perlahan-lahan disembuhkan. Jemaat diingatkan bahwa damai sejati bukan lahir dari situasi ideal, tetapi dari Allah yang hadir mengangkat wajah-Nya dan tinggal menyertai, bahkan di tengah badai hidup.

Makna Liturgis bagi Jemaat Masa Kini
Struktur berkat ini bergerak dari perlindungan, ke kasih karunia, lalu ke damai sejahtera, sebuah gerak pendalaman: Allah bukan hanya menjaga dari luar, tetapi juga mendekat dengan wajah yang penuh kasih, lalu menanamkan damai di dalam batin umat-Nya. Setiap kali jemaat menerima berkat ini di akhir ibadah Minggu, sesungguhnya jemaat diutus kembali ke dunia sebagai umat yang: dijaga, diterangi, dan diperdamaikan oleh Allah.

Karena itu, penutup ibadah dengan Bilangan 6:24-26 bukanlah momen “resmi selesai”, melainkan momen pengutusan: jemaat keluar dari gereja dengan nama Tuhan atas hidupnya, untuk menjadi pembawa berkat, wajah ramah Allah, dan pembawa damai di tengah keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat. Dalam konteks jemaat yang bergumul dengan tekanan ekonomi, konflik keluarga, dan kecemasan zaman, berkat ini mengingatkan: sebelum engkau melangkah ke minggu yang baru, engkau sudah terlebih dahulu diliputi oleh berkat, wajah, dan damai Allah sendiri.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *