Matius 2: 11
“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.”
Renungan:
“Membuka Harta Hati di Hadapan Kristus”
Natal telah lewat. Suara nyanyian sukacita mulai mereda, lampu dan hiasan perlahan akan diturunkan, dan banyak orang kembali pada rutinitas biasa. Namun bagi orang beriman, hari-hari setelah Natal justru adalah masa refleksi, masa untuk menghayati dengan tenang arti kelahiran Yesus Kristus: Sang Terang yang datang ke dalam kegelapan hidup manusia.
Perikop tentang kehadiran orang-orang Majus mengingatkan kita bahwa Natal bukan hanya tentang perayaan, tetapi tentang perjumpaan. Orang Majus datang dari Timur, suatu perjalanan jauh, melelahkan, dan penuh risiko. Namun mereka digerakkan oleh satu kerinduan yang suci: menemukan Dia yang lahir sebagai Raja. Mereka tidak berhenti pada tanda bintang; mereka terus melangkah hingga sampai di hadapan Kristus. Itulah gambaran dari iman yang hidup, iman yang tidak puas dengan pengetahuan tentang Tuhan, tetapi rindu bertemu secara pribadi dengan-Nya.
Ketika mereka melihat Anak itu bersama Maria, mereka sujud dan menyembah. Tindakan ini sangat sederhana, namun sarat makna. Mereka tidak menyembah di istana, melainkan di sebuah rumah yang sederhana. Mereka tidak berhadapan dengan seorang raja berpakaian megah, melainkan bayi mungil di pelukan ibunya. Inilah inti iman Kristen: kita percaya kepada Tuhan yang hadir dalam kesederhanaan, yang kemuliaan-Nya justru tampak dalam kerendahan.
Orang-orang Majus tidak hanya menyembah, tetapi juga membuka tempat harta mereka. Ini menandakan bahwa penyembahan sejati selalu disertai dengan pemberian diri. Emas, kemenyan, dan mur bukan hanya persembahan simbolis, tetapi juga gambaran siapa Yesus itu:
Emas melambangkan keilahian dan kemuliaan-Nya sebagai Raja. Kemenyan menggambarkan fungsi-Nya sebagai Imam Agung yang mempersembahkan doa dan pengantara bagi umat manusia. Mur melambangkan penderitaan dan kematian-Nya sebagai Penebus dosa. Melalui persembahan ini, orang Majus seolah berkata: “Kami mengenal siapa Engkau dan kami menyerahkan hidup kami untuk Engkau.”
Memasuki akhir tahun, ayat ini mengundang kita bertanya secara jujur: apa yang akan kita persembahkan kepada Kristus ketika melangkah ke tahun yang baru? Natal telah membawa sukacita, tetapi setelah sukacita itu, Tuhan menanti respons dari hati kita. Mungkin “emas” kita adalah hasil kerja keras, kemampuan, atau berkat materi yang kita kelola selama ini. “Kemenyan” kita adalah doa dan penyembahan—ketekunan spiritual yang meneguhkan iman. Sedangkan “mur” kita bisa berupa luka batin, kegagalan, atau dosa yang kita serahkan untuk disembuhkan.
Menjelang tahun baru, banyak orang membuat resolusi. Namun firman ini mengingatkan: sebelum membuat rencana hidup, datanglah lebih dulu untuk menyembah. Biarlah arah hidup kita diperbaharui seperti orang Majus yang “menempuh jalan lain” setelah bertemu Yesus (ay. 12). Setiap perjumpaan sejati dengan Tuhan akan selalu mengubah arah hidup.
Tuhan tidak mencari persembahan mewah, tetapi hati yang terbuka, taat, dan bersyukur. Di hadapan Tuhan, yang berharga bukanlah apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya. Dalam kasih dan anugerah Kristus, kita diajak untuk mengakhiri tahun lama dengan pengampunan dan memulai tahun baru dengan ketaatan.
Kiranya kita pun seperti orang Majus, tekun mencari Kristus, berani meninggalkan kenyamanan, dan rela membuka “harta hati” untuk diberikan kepada-Nya. Ketika kita menyembah-Nya dengan hati yang tulus, kehidupan kita akan menjadi persembahan yang harum di hadapan Allah.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th
