Ada sebuah lagu lama yang akhir-akhir ini sering muncul di layar ponsel saya.
Di TikTok.
Entah siapa yang pertama kali mengunggahnya.
Vokalis ABBA menyanyikannya dengan suara yang sudah tidak muda lagi,
sementara putranya duduk di sampingnya, memainkan piano dengan tenang.
Tidak ada panggung besar.
Tidak ada sorotan lampu.
Hanya ibu dan anak dalam ruang tamu.
Dan sebuah lagu berjudul Slipping Through My Fingers.
Di sela-sela video itu, sebuah kalimat pendek dari Alkitab terlintas di benak saya:
“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.”
(Lukas 2:19)
Aneh ya.
Di tengah dunia yang ribut, justru video sederhana seperti itu membuat orang berhenti menggulir layar.
Dan di Minggu-minggu Advent ini, lagu itu terasa semakin dekat.
Tentang waktu yang berjalan terlalu cepat.
Tentang momen yang ingin digenggam, tapi selalu lolos.
Tentang kehadiran yang sering kita sadari… setelah ia lewat.
Saya tahu persis kapan Advent dimulai.
Saya hafal urutannya.
Warnanya.
Lagu-lagunya.
Namun jujur saja,
tidak selalu saya mengalami Advent.
Kadang saya hanya melewati Advent.
Lilin dinyalakan.
Ibadah berjalan.
Kalender bergeser ke Minggu berikutnya.
Dan tanpa sadar, hati saya tertinggal…
Advent mengajak kita menunggu.
Tetapi hidup hari-hari ini jarang memberi ruang untuk benar-benar menunggu.
Ada pekerjaan.
Ada pelayanan.
Ada kabar duka, kabar sakit, kabar mendadak.
Dan tentu saja…ponsel yang terus bergetar.
Di tengah semua itu, Tuhan datang.
Bukan dengan notifikasi.
Bukan dengan alarm.
Ia datang dengan cara yang sunyi.
Seperti bayi di palungan.
Seperti lagu lama yang tiba-tiba muncul di TikTok…
pelan, tapi menyentuh.
Di satu sore yang sibuk, ayat lain terlintas di hati saya:
“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah.”
(Mazmur 46:11)
Bukan sebagai perintah keras.
Lebih sebagai undangan lembut.
Advent tidak meminta saya melakukan lebih banyak.
Advent hanya mengajak saya berhenti sebentar.
Duduk.
Menarik napas.
Mengakui bahwa saya lelah.
Mengakui bahwa iman saya juga kadang kelelahan.
Dan mungkin, di saat seperti itulah Tuhan paling dekat.
Minggu-minggu Advent ini berjalan cepat.
Seperti jari-jari yang tidak sanggup menggenggam waktu.
Namun Advent tidak pernah meminta kita menggenggam waktu.
Mungkin Advent hanya ingin kita menyimpan kehadiran Tuhan di hati,
seperti Maria yang menyimpan dan merenungkan.
Supaya ketika Natal tiba,
kita tidak berkata dalam hati:
“Tuhan sudah datang… tetapi aku tidak sempat benar-benar menyambut-Nya.”
Kalau Advent tahun ini terasa biasa saja,
itu tidak apa-apa.
Yang penting, jangan biarkan ia
slipping through our fingers…
tanpa pernah singgah di hati.
Kita tidak bisa memperlambat waktu.
Tetapi kita selalu bisa memperdalam kehadiran.
Advent tidak menunggu kita sempurna,
ia hanya menunggu kita hadir.
Sebelum semuanya kembali luput dari genggaman…..
Jakarta, 17 Desember 2025
Christofel P. Simanjuntak
