8 Langkah Prioritas Pasca-Bencana: Saatnya Serius Memperbaiki Cara Kita Bangkit dari Bencana

8 Langkah Prioritas Pasca-Bencana: Saatnya Serius Memperbaiki Cara Kita Bangkit dari Bencana

Banjir besar, longsor, dan kerusakan infrastruktur di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa minggu terakhir menjadi pengingat yang pahit betapa rapuhnya wilayah ini. Banyak keluarga kehilangan orang yang mereka cintai. Rumah hanyut, jalan terpotong, jembatan runtuh, listrik padam, dan bantuan sulit mencapai warga yang terisolasi.

Bencana memang datang tiba-tiba. Namun cara kita bangkit setelahnya seharusnya tidak dibiarkan berjalan spontan atau tersendat-sendat. Indonesia adalah negara rawan bencana, kita tahu itu, dan setiap kejadian semestinya menjadi pelajaran, bukan sekadar headline yang cepat hilang dari ingatan.

Berdasarkan pengalaman lapangan, kajian nasional, dan panduan internasional, ada delapan langkah penting yang sebenarnya dapat membantu kita pulih lebih cepat dan lebih baik.

1. Penyelamatan dan Pencarian Korban (Search and Rescue)

Fase ini adalah lomba melawan waktu. Di jam-jam pertama, situasi biasanya kacau, akses tertutup, komunikasi terputus, dan informasi datang tidak beraturan. Karena itu operasi SAR harus benar-benar terkoordinasi.

Yang dilakukan:

• Evakuasi korban dari area terjebak

• Cari korban hilang dengan bantuan drone, GPS, atau laporan warga

• Dirikan tenda darurat di posisi aman

• Kolaborasi SAR: Basarnas, TNI/Polri, BPBD, dan relawan

Mengapa krusial:

Sekitar 75% korban meninggal dalam 48 jam pertama bila tidak ditemukan. Detik-detik awal adalah segalanya.

2. Pemulihan Infrastruktur Dasar (lifelines)

Begitu evakuasi berjalan, perhatian berikutnya adalah memastikan akses dasar kembali berfungsi. Tanpa jalan yang bisa dilalui, listrik yang stabil, dan sumber air bersih, hampir tidak mungkin bantuan berjalan dengan benar.

Langkah cepat:

• Buka akses jalan meski hanya satu jalur

• Pasang jembatan darurat

• Hidupkan listrik bertahap

• Sediakan air bersih dan sanitasi sementara

• Surutkan genangan dengan pompa besar

Ini yang menentukan apakah bantuan sampai tepat waktu atau tidak.

3. Manajemen Pengungsian & Kesehatan Lingkungan

Tempat pengungsian sering menjadi ‘bencana kedua’. Ruang sempit, sanitasi kurang, dan kelelahan membuat warga rentan sakit.

Fokus utama:

• Tempatkan tenda dengan jarak cukup

• Prioritaskan kelompok rentan

• Distribusi makanan dan air bersih terjadwal

• Pemantauan medis & psikososial

• Pengelolaan sampah dan limbah

Catatan:

Sebagian besar masalah pasca-bencana muncul dari sanitasi buruk dan penyakit menular.

4. Validasi Kerusakan & Pendataan Dampak (Damage & Loss Assessment)

Pendataan sangat menentukan jalannya pemulihan.

Tanpa data yang rapi, bantuan akan salah sasaran atau terhambat.

Yang didata:

• Rumah rusak (ringan–berat–hanyut)

• Infrastruktur utama

• Pertanian, mata pencaharian, UMKM

• Korban luka, meninggal, dan pengungsi

• Sekolah, rumah ibadah, fasilitas publik

Pendataan harus satu sistem dan tidak berjalan sendiri-sendiri.

5. Mitigasi Darurat untuk Mencegah Bencana Susulan

Inilah bagian yang paling sering diabaikan. Padahal banjir dan longsor susulan kerap lebih berbahaya dibanding kejadian pertama.

Tindakan penting:

• Pemasangan early warning sederhana

• Pembersihan sungai dan saluran air

• Pemasangan bronjong darurat

• Relokasi sementara bagi kawasan paling rawan

Langkah kecil bisa menyelamatkan banyak nyawa.

6. Pemulihan Jangka Panjang (Rehabilitation & Reconstruction)

Banyak yang mengira fase ini sekadar membangun kembali. Padahal yang harus dilakukan adalah membangun lebih baik, bukan hanya lebih cepat.

Langkah pemulihan:

• Rumah harus mengikuti standar SNI tahan banjir/longsor

• Infrastruktur diaudit geoteknik

• Relokasi untuk zona merah permanen

• Rehabilitasi DAS & hutan penyangga

• Perbaikan tata ruang berbasis risiko

Membangun cepat boleh, asal tidak mengulang kesalahan yang sama.

7. Pemulihan Ekonomi Warga

Kerusakan ekonomi sering lebih panjang usianya dibanding fisik bangunan.

Yang bisa dilakukan:

• Cash for work

• Program padat karya

• Bantuan alat usaha dan pertanian

• Kredit lunak untuk UMKM

• Pendampingan ekonomi komunitas

Orang tidak hanya butuh selamat hari ini, tetapi juga kehidupan ke depan.

8. Pembelajaran dari Bencana (Lesson Learned)

Setiap bencana harus melahirkan perubahan:

• peta rawan baru,

• rencana kontingensi baru,

• SOP baru,

• pendidikan kebencanaan bagi masyarakat.

Seperti dikatakan peneliti bencana:

“Bencana hanya terjadi sekali. Yang terjadi berulang adalah kelalaian manusia.”

Sumatera adalah wilayah dengan curah hujan tinggi dan morfologi kompleks. Banjir dan longsor mungkin tidak bisa dihapus dari sejarah, tetapi korban jiwa bisa diminimalkan jika kita tidak mengulang kesalahan yang sama.

Jakarta, 10 Desember 2025

St. Christofel P. Simanjuntak

Praktisi K3L Konstruksi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *