Kisah Para Rasul 9: 17
Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.”
Renungan:
“Tangan yang Membuka Mata”
Perjumpaan Ananias dan Saulus adalah momen yang terasa tidak masuk akal. Saulus dikenal sebagai penganiaya jemaat, dan Ananias tahu betul reputasinya. Tetapi justru kepada orang itulah Tuhan mengutus Ananias. Bukan untuk menghakimi, bukan untuk berdebat, tetapi untuk menumpangkan tangan, tanda penerimaan, pemulihan, dan kasih.
Ananias tetap melangkah walau hatinya mungkin gentar. Ia belajar bahwa ketaatan kepada Tuhan lebih kuat daripada rasa takut. Dan ketika ia masuk ke rumah itu, kata pertama yang keluar dari mulutnya bukanlah teguran, melainkan sapaan lembut: “Saulus, saudaraku.” Dalam satu kalimat, tembok permusuhan runtuh. Ananias memilih melihat Saulus bukan berdasarkan masa lalunya, tetapi berdasarkan karya Allah yang sedang dimulai dalam dirinya.
Melalui tangan Ananias, mata Saulus terbuka kembali. Tuhan bisa saja menyembuhkan Saulus tanpa perantara manusia, tetapi Ia memilih memakai tangan yang berani melangkah, mulut yang berani menyapa, dan hati yang berani percaya. Menakjubkan: pemulihan besar itu lahir dari ketaatan yang sederhana.
Begitu juga kita. Sering Tuhan menempatkan kita di hadapan orang yang sulit kita dekati, entah karena luka lama, perbedaan pendapat, atau rasa tidak nyaman. Namun justru di situlah Tuhan mengajar kita untuk menjadi Ananias: melangkah lebih dekat, bukan menjauh; mengulurkan tangan, bukan menutup diri; melihat dengan mata kasih, bukan kecurigaan.
Dan ketika kita berani melakukan itu, bukan hanya orang lain yang dipulihkan. Kita pun melihat kembali, melihat bagaimana Tuhan bekerja lewat keberanian kecil kita, membuka mata kita untuk memahami bahwa kasih selalu lebih kuat daripada ketakutan.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th
