RENUNGAN HARIAN Jumat 21 November 2025

Matius 20: 28

Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.

Renungan:

“Hidup untuk Melayani, Bukan Dilayani”

Matius 20:28 berkata, “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Ayat ini adalah inti dari hati Yesus dan inti dari panggilan hidup setiap orang percaya. Ketika murid-murid sedang memperdebatkan soal kedudukan dan kehormatan, Yesus justru membawa mereka kembali kepada pusat Injil: pelayanan yang lahir dari kerendahan hati dan pengorbanan.

Yesus menyebut diri-Nya “Anak Manusia”, bukan gelar yang penuh kemuliaan tetapi gelar yang menyatakan bahwa Ia masuk ke dalam realitas manusia. Ia tidak menuntut kenyamanan surgawi di dunia, dan tidak mencari penghormatan manusia. Ia datang untuk melayani. Inilah yang membuat kehidupan Yesus begitu berbeda dari pemimpin-pemimpin dunia. Dunia mengajarkan bahwa siapa yang kuat, dialah yang berhak dilayani; siapa yang berkuasa, dialah yang harus dihormati. Tetapi Yesus membalikkan semuanya: kuasa sejati lahir dari hati yang mau mengangkat sesamanya, bukan dari tangan yang menekan mereka.

Ketika Yesus berkata bahwa Ia datang “untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan,” Ia memperlihatkan bahwa pelayanan sejati tidak berhenti pada perbuatan baik, tetapi sampai pada totalitas pengorbanan. Yesus tidak sekadar menolong; Ia memberikan hidup-Nya. Inilah fondasi kekristenan—bahwa keselamatan kita bukan dari usaha kita, tetapi dari pelayanan dan pengorbanan Yesus yang paling dalam. Ia tidak hanya mengajarkan tentang kasih, tetapi Ia mengasihi sampai tuntas.

Dalam kehidupan sehari-hari, ayat ini memanggil kita untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kita hidup untuk dilayani atau untuk melayani? Banyak orang mungkin tidak meminta tempat terhormat seperti anak-anak Zebedeus, tetapi sering kali hati kita masih ingin diakui, dihargai, atau dianggap penting. Ketika kita merasa tersinggung, ketika kontribusi kita tidak disebut, ketika kerja keras kita tidak dipuji—di sana terlihat motif hati yang sebenarnya. Yesus mengundang kita untuk berjalan di jalan yang berbeda: jalan pelayanan yang diam-diam, yang tidak menuntut balas, yang lahir dari syukur karena kita terlebih dahulu telah dilayani oleh Kristus.

Hidup melayani bukan berarti kita mengorbankan diri tanpa arah. Yesus melayani karena Ia tahu tujuan-Nya: menebus manusia. Pelayanan kita pun menemukan makna ketika kita mengarahkan seluruh hidup untuk memuliakan Tuhan dan membawa sesama semakin dekat kepada-Nya. Ketika kita menghibur yang lemah, ketika kita mendengar dengan tulus, ketika kita menjadi jembatan perdamaian, ketika kita membantu tanpa menuntut balasan—di situlah kita mencerminkan wajah Kristus.

Renungan ini akhirnya membawa kita kepada satu kesadaran penting: kita hanya dapat benar-benar melayani bila kita terlebih dahulu menyadari bahwa Kristus sudah terlebih dahulu melayani kita. Kita tidak memberi dari kekosongan, tetapi dari kelimpahan kasih yang telah Ia curahkan. Semakin kita menerima kasih Kristus, semakin kita mampu memberi diri bagi orang lain.

Kiranya Matius 20:28 menjadi cermin bagi hidup kita setiap hari. Bukan untuk mengejar dihormati, tetapi untuk menghadirkan Kristus melalui pelayanan yang rendah hati. Bukan untuk menuntut dilayani, tetapi untuk mengikuti Dia yang telah memberikan nyawa-Nya bagi banyak orang. Dengan demikian, hidup kita menjadi kesaksian bahwa kasih Kristus nyata dalam tindakan, bukan hanya dalam kata.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *