RENUNGAN HARIAN Senin 17 November 2025

Markus 9: 35

Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”

Renungan: 

“Menjadi Besar dengan Jalan yang Kecil”

Markus 9:35 berkata: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Ayat ini muncul di tengah percakapan yang jujur namun memalukan: para murid sedang bertengkar tentang siapa yang paling besar. Mereka berjalan bersama Yesus, belajar dari-Nya setiap hari, tetapi hati mereka tetap penuh dengan ambisi manusiawi, keinginan untuk dipandang lebih tinggi daripada yang lain. Yesus tidak memarahi mereka, tetapi mengubah cara mereka memahami makna “besar” dan “mulia”.

Ayat ini adalah sebuah revolusi rohani. Dunia mendefinisikan kebesaran sebagai posisi, gelar, dan kekuasaan. Tetapi Yesus mendefinisikan kebesaran sebagai kerendahan hati, kerelaan mengalah, dan keberanian mengutamakan orang lain. Dunia menganggap yang besar adalah yang duduk di atas; Yesus berkata yang besar adalah mereka yang memilih tempat paling rendah. Dunia mengagumi yang dilayani; Yesus memuliakan yang melayani. Dengan satu kalimat, Yesus membongkar seluruh sistem nilai yang selama ini menguasai cara manusia berpikir tentang kehormatan.

Menjadi “yang terakhir” bukan berarti tidak berarti, bukan pula menjadi lemah dan minder. “Yang terakhir” berarti memilih jalan kasih yang tidak mencari sorotan. Ini adalah sikap batin yang tidak menuntut perhatian, tidak merasa berhak, dan tidak mendominasi. Yesus sendiri adalah contoh paling nyata. Dia adalah Tuhan, tetapi datang sebagai manusia yang sederhana. Dia adalah Raja, tetapi membasuh kaki murid-murid-Nya. Dia adalah Juru Selamat, tetapi memilih salib, bukan takhta dunia. Yesus menunjukkan bahwa kemuliaan sejati tidak pernah datang dari posisi, melainkan dari pengorbanan.

Ketika Yesus berkata, “hendaklah ia menjadi pelayan dari semuanya,” Ia sedang mengajarkan bahwa pelayanan bukan pekerjaan sampingan, tetapi inti menjadi murid Kristus. Pelayanan bukan hanya aktivitas, tetapi identitas. Pelayanan mengubah cara kita memandang orang lain: bukan sebagai saingan, tetapi sebagai sesama yang harus dicintai; bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai jiwa yang harus ditolong. Pelayanan juga mengubah cara kita memandang diri sendiri: bukan sebagai pusat dunia, tetapi sebagai alat kasih Allah bagi orang lain.

Ayat ini sekaligus menjadi cermin bagi kehidupan gereja. Banyak konflik dalam pelayanan muncul bukan karena kurangnya kemampuan, tetapi karena perebutan posisi, penghargaan, dan pengakuan. Markus 9:35 mengingatkan kita bahwa pelayanan sejati tidak pernah tumbuh dari ambisi, tetapi dari kerendahan hati. Gereja berdiri bukan oleh mereka yang ingin menjadi besar, tetapi oleh mereka yang mau menjadi kecil demi Kristus. Pelayan yang sejati adalah mereka yang siap mengalah, siap mendengar, siap berkorban, dan tidak tersinggung ketika namanya tidak disebut atau jasanya tidak dilihat.

Renungan ini juga menyentuh kehidupan pribadi kita. Dalam keluarga, kita sering ingin dimengerti tetapi jarang mau mengerti. Di pekerjaan, kita ingin dihargai tetapi jarang mau menghargai. Dalam masyarakat, kita ingin diprioritaskan tetapi jarang mau memprioritaskan. Yesus menantang kita membalikkan cara hidup itu: menjadi besar dengan cara merendahkan diri, menjadi utama dengan cara mengutamakan orang lain, menjadi mulia dengan cara melayani.

Markus 9:35 bukan sekadar ajaran etika, tetapi undangan untuk mengalami transformasi hati. Ketika kita memilih menjadi pelayan, kita sedang mengikuti jejak Kristus. Ketika kita mau menjadi yang terakhir, kita sedang meniru hati-Nya. Dan ketika kita hidup demikian, kita sedang menunjukkan kepada dunia bahwa Kerajaan Allah berbeda dari dunia ini: di mana yang paling rendah justru paling besar, dan yang paling melayani justru paling menyerupai Kristus.

Kiranya renungan ini menolong kita untuk melihat kembali motivasi kita dalam bekerja, melayani, dan berrelasi. Biarlah kerinduan menjadi besar digantikan oleh kerinduan untuk lebih seperti Kristus. Sebab hanya mereka yang bersedia turun ke tempat yang paling rendah yang akan diangkat oleh Allah ke tempat yang paling mulia.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *