Renungan Harian Rabu 1 April 2026

Renungan Harian
Rabu 1 April 2026

Maleakhi 1: 6
Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?”

Renungan: “Di Manakah Hormat Itu?”

Dalam perjalanan iman, ada satu hal yang sering hilang tanpa kita sadari: rasa hormat kepada Tuhan. Kita masih datang beribadah, masih berdoa, masih melayani. Namun, di dalam hati, sesuatu bisa menjadi kosong, tidak lagi ada getaran yang sama ketika kita menyebut nama-Nya. Itulah yang menjadi pergumulan dalam Kitab Maleakhi 1:6.

Tuhan berbicara dengan nada yang sangat pribadi: “Jika Aku ini Bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu?” Ini bukan sekadar pertanyaan teologis, melainkan jeritan hati Allah kepada umat-Nya. Ia adalah Bapa, yang mengasihi tanpa syarat. Ia juga Tuhan, yang berdaulat atas hidup manusia. Tetapi umat, bahkan para imam, telah kehilangan sikap hormat itu. Mereka tetap menjalankan ibadah, tetapi hati mereka jauh.

Dalam masa Pra Paskah, ketika kita merenungkan penderitaan Kristus, pertanyaan ini menjadi semakin tajam. Sebab kita tidak hanya berbicara tentang Allah yang jauh di surga, tetapi tentang Allah yang rela turun, menderita, dan menyerahkan diri-Nya di kayu salib. Di dalam diri Yesus Kristus, kita melihat betapa besar kasih Allah kepada manusia. Ia tidak hanya menuntut hormat, Ia terlebih dahulu menunjukkan kasih yang total.

Namun ironisnya, justru di hadapan kasih sebesar itu, manusia sering menjadi biasa saja. Salib yang seharusnya mengguncang hati, kadang hanya menjadi simbol. Penderitaan Kristus yang begitu dalam, kadang hanya menjadi cerita yang kita dengar setiap tahun tanpa perubahan yang nyata. Kita hadir dalam ibadah Passion, tetapi pikiran kita ke mana-mana. Kita menyanyi tentang pengorbanan-Nya, tetapi hidup kita tidak mencerminkan penghormatan kepada-Nya.

Maleakhi mengingatkan bahwa kehilangan hormat kepada Tuhan bukan dimulai dari tindakan besar, tetapi dari sikap hati yang perlahan menjadi dingin. Ketika yang kudus menjadi biasa, ketika yang mulia tidak lagi dianggap berharga, di situlah kita mulai “menghina nama-Nya”, bukan dengan kata-kata, tetapi dengan kehidupan.

Masa Passion adalah undangan untuk kembali. Bukan sekadar kembali ke rutinitas ibadah, tetapi kembali kepada sikap hati yang benar. Hormat kepada Tuhan bukan berarti takut dalam arti menjauh, tetapi takut dalam arti menyadari betapa besar dan kudusnya Dia. Hormat berarti menempatkan Tuhan di pusat hidup, bukan di pinggir. Hormat berarti menyadari bahwa hidup ini bukan milik kita sendiri, tetapi milik Dia yang telah mati dan bangkit bagi kita.

Ketika kita memandang salib, kita seharusnya tidak bisa tetap sama. Salib adalah cermin yang memperlihatkan dosa kita, tetapi sekaligus kasih Allah yang tidak terbatas. Dari situ lahirlah hormat yang sejati, bukan karena terpaksa, tetapi karena tersentuh.

Hari-hari ini, Tuhan masih bertanya: “Di manakah hormat itu?” Pertanyaan itu bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membangunkan. Supaya kita tidak kehilangan makna iman kita. Supaya ibadah kita tidak menjadi kosong. Supaya hati kita kembali hidup di hadapan-Nya.

Kiranya dalam perjalanan menuju salib, kita tidak hanya melihat penderitaan Kristus, tetapi juga memperbarui sikap hati kita. Dan ketika kita kembali menyebut Dia sebagai Bapa dan Tuhan, itu bukan sekadar kata, melainkan pengakuan yang lahir dari hidup yang menghormati-Nya. Amin.

Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *