Renungan Harian
Senin 30 Maret 2026
Zakharia 1: 3
Sebab itu katakanlah kepada mereka: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Kembalilah kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN semesta alam, maka Akupun akan kembali kepadamu, firman TUHAN semesta alam.
Renungan: “Kembalilah kepada-Ku”
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, masa Pra Paskah adalah masa yang membawa kita masuk ke dalam suasana hening dan reflektif. Kita diajak untuk tidak hanya melihat ke luar, kepada kesibukan, pekerjaan, dan rutinitas, tetapi terutama melihat ke dalam hati kita sendiri. Dalam suasana seperti inilah firman Tuhan dari Zakharia 1:3 berbicara dengan begitu kuat dan pribadi: “Kembalilah kepada-Ku… maka Aku akan kembali kepadamu.”
Firman ini sederhana, tetapi sangat dalam. Ini bukan sekadar ajakan, melainkan panggilan kasih dari Allah kepada umat-Nya yang mulai menjauh. Pada zaman nabi Zakharia, umat Tuhan sedang dalam keadaan yang tidak ideal. Mereka telah mengalami pembuangan, mereka tahu siapa Tuhan, tetapi hati mereka tidak sepenuhnya lagi tertuju kepada-Nya. Mereka hidup, tetapi tanpa keintiman dengan Tuhan.
Bukankah keadaan ini sering juga menjadi gambaran hidup kita? Kita tidak meninggalkan Tuhan sepenuhnya, tetapi perlahan-lahan hati kita menjauh. Doa menjadi kering. Firman Tuhan tidak lagi menjadi kerinduan. Ibadah dijalani, tetapi tanpa perjumpaan yang hidup dengan Tuhan. Kita masih dekat secara lahiriah, tetapi jauh secara batiniah.
Di tengah keadaan seperti itu, Tuhan tidak tinggal diam. Ia tidak langsung menghukum. Ia tidak langsung meninggalkan umat-Nya. Sebaliknya, Tuhan datang dengan satu panggilan yang penuh kasih: “Kembalilah kepada-Ku.” Kata “kembali” ini sangat penting. Ini berarti bahwa sebenarnya kita pernah dekat dengan Tuhan. Kita pernah berjalan bersama-Nya. Kita pernah merasakan kasih-Nya. Tetapi dalam perjalanan hidup, kita menyimpang. Kita memilih jalan sendiri. Kita lebih mengikuti keinginan hati daripada kehendak Tuhan. Namun yang indah adalah: Tuhan tidak menutup pintu. Ia tidak berkata, “Sudah terlambat.” Ia justru membuka jalan pulang.
Pertobatan dalam firman ini bukan sekadar penyesalan. Bukan hanya merasa bersalah. Pertobatan adalah keberanian untuk berbalik arah. Seperti seseorang yang sadar bahwa ia telah salah jalan, lalu berhenti, berbalik, dan mulai berjalan kembali ke arah yang benar.
Masa Pra Paskah adalah waktu yang Tuhan berikan untuk melakukan hal itu. Ini adalah kesempatan untuk jujur kepada diri sendiri dan kepada Tuhan. Apa yang harus kita tinggalkan? Dosa apa yang selama ini kita pelihara? Sikap apa yang harus diubah? Relasi apa yang perlu dipulihkan? Tetapi firman Tuhan tidak berhenti pada perintah. Ada janji yang luar biasa menyertainya: “Maka Aku akan kembali kepadamu.” Ini adalah jaminan kasih Tuhan. Setiap langkah kita menuju Tuhan, akan disambut oleh langkah Tuhan mendekat kepada kita. Tuhan tidak menunggu dengan tangan terlipat. Ia menyambut dengan tangan terbuka.
Inilah hati Allah yang kita lihat juga dalam perjalanan menuju salib. Dalam diri Yesus Kristus, kita melihat Allah yang tidak hanya memanggil manusia untuk kembali, tetapi Allah yang datang sendiri mencari manusia. Salib adalah bukti bahwa Tuhan sungguh-sungguh rindu memulihkan hubungan dengan kita.
Karena itu, perjalanan Pra Paskah bukan hanya tentang mengenang penderitaan Kristus, tetapi tentang mengalami pemulihan hubungan dengan-Nya. Kita diajak untuk tidak hanya melihat salib dari jauh, tetapi mendekat dengan hati yang bertobat. Amin.
Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh
