Renungan Harian
Rabu 25 Maret 2026
Zefanya 2: 3
Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN.
Renungan: “Kembali Mencari Tuhan dengan Hati yang Rendah”
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, kita sedang berada dalam masa Pra-Paskah, sebuah perjalanan rohani yang mengajak kita untuk tidak sekadar mengingat penderitaan Yesus Kristus, tetapi juga memeriksa hidup kita dengan jujur. Dalam perjalanan ini, firman Tuhan dari Kitab Zefanya 2:3 datang seperti suara yang lembut namun dalam: “Carilah TUHAN… carilah keadilan, carilah kerendahan hati…”
Firman ini tidak berbicara kepada orang luar, tetapi kepada umat Tuhan sendiri. Artinya, ini adalah panggilan bagi kita—yang mungkin sudah lama beribadah, sudah lama percaya—namun tanpa sadar mulai menjauh dalam hati.
Seringkali kita merasa sudah mencari Tuhan. Kita berdoa, kita datang ke gereja, kita melayani. Tetapi firman ini mengajak kita untuk bertanya lebih dalam: Apakah kita sungguh-sungguh mencari Tuhan, atau hanya menjalani kebiasaan rohani? Mencari Tuhan berarti kita rindu hidup dekat dengan-Nya. Bukan hanya di bibir, tetapi dalam keputusan hidup kita. Dalam cara kita memperlakukan orang lain. Dalam kejujuran kita. Dalam kerendahan hati kita.
Itulah sebabnya firman ini melanjutkan: “Carilah keadilan, carilah kerendahan hati.”
Artinya, iman kita tidak boleh berhenti di dalam gereja. Iman harus terlihat dalam hidup sehari-hari. Ketika kita berlaku tidak adil, ketika kita menyakiti orang lain, ketika kita hidup dalam kesombongan—di situlah sebenarnya kita sedang berhenti mencari Tuhan.
Saudara-saudari, masa Pra-Paskah adalah waktu untuk kembali. Bukan kembali secara fisik, tetapi kembali dengan hati. Kita belajar dari Tuhan kita, Yesus Kristus, yang berjalan menuju salib dengan kerendahan hati. Ia tidak mempertahankan hak-Nya, tetapi merendahkan diri-Nya. Jalan salib adalah jalan kerendahan hati.
Maka pertanyaannya bagi kita hari ini: Apakah kita mau merendahkan hati di hadapan Tuhan? Mengakui bahwa kita masih sering salah, masih sering jatuh, dan sungguh membutuhkan kasih karunia-Nya?
Firman ini juga berkata: “Mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN.”
Kata “mungkin” ini bukan membuat kita ragu, tetapi justru mengajar kita untuk rendah hati. Bahwa keselamatan bukan karena kita layak, tetapi karena kasih karunia Tuhan. Seperti yang pernah dikatakan oleh Augustine of Hippo: “Allah lebih dekat kepada kita daripada diri kita sendiri, tetapi hati yang sombong tidak dapat merasakan kedekatan itu.” Dan juga John Calvin berkata: “Tidak ada pintu masuk kepada Allah tanpa kerendahan hati.”
Saudara-saudari, inilah panggilan bagi kita hari ini: Kembali mencari Tuhan, bukan dengan kesombongan rohani, tetapi dengan hati yang lembut dan rendah. Mungkin kita sudah jauh. Mungkin kita sudah mulai dingin. Tetapi hari ini Tuhan masih membuka jalan. Kembalilah kepada-Nya. Carilah Dia dengan sungguh-sungguh. Hiduplah dalam keadilan dan kerendahan hati. Karena di dalam Dia, selalu ada harapan. Amin.
Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh
