Renungan Harian Jumat 20 Maret 2026

Renungan Harian

Jumat 20 Maret 2026

 

Nahum 1: 3

TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya.

 

Renungan: “Tuhan yang Sabar, tetapi Tidak Membiarkan”

 

Ada kalanya dalam hidup ini kita merasa Tuhan terlalu lama bertindak. Kita melihat ketidakadilan, melihat orang berbuat salah tetapi seolah tidak terjadi apa-apa. Dalam hati kecil, mungkin kita bertanya: “Apakah Tuhan benar-benar peduli?” Nahum 1:3 membawa kita masuk ke dalam pengenalan yang lebih utuh tentang siapa Tuhan itu. Ia panjang sabar, tetapi Ia juga besar kuasa-Nya, dan Ia tidak membiarkan kesalahan tanpa pertanggungjawaban.

 

Kesabaran Tuhan sering disalahartikan. Kita mengira bahwa karena Tuhan tidak segera menghukum, berarti Ia membiarkan. Kita berpikir bahwa waktu yang berjalan tanpa hukuman adalah tanda bahwa semuanya baik-baik saja. Padahal sesungguhnya, kesabaran Tuhan adalah ruang yang Ia berikan bagi manusia untuk berubah. Ia menunggu, bukan karena Ia lemah, tetapi karena Ia mengasihi. Ia memberi kesempatan, bukan karena Ia tidak adil, tetapi karena Ia rindu manusia kembali kepada-Nya.

 

Namun firman ini juga menegaskan bahwa Tuhan tidak membebaskan orang yang bersalah begitu saja. Ada keadilan yang tidak bisa ditawar. Tuhan bukan hanya Bapa yang mengasihi, tetapi juga Hakim yang benar. Di sinilah kita melihat keseimbangan yang indah sekaligus serius: kasih yang memberi waktu, dan keadilan yang memastikan kebenaran ditegakkan.

 

Dalam kehidupan orang Batak, kita mengenal bagaimana pentingnya keseimbangan antara kesabaran dan ketegasan. Di dalam sebuah kampung (desa, huta), ketika seseorang berbuat salah, para orang tua dan penatua adat tidak langsung menghukum. Mereka menasihati dengan sabar, memberi kesempatan untuk berubah, bahkan menutup kesalahan itu demi menjaga hubungan. Tetapi jika kesalahan itu terus diulang, jika nasihat tidak lagi diindahkan, maka akhirnya adat harus ditegakkan. Bukan karena tidak ada kasih, tetapi justru karena kasih kepada seluruh komunitas, agar kebaikan bersama tetap terjaga.

 

Begitulah Tuhan bekerja dalam hidup kita. Ia sudah begitu sering menegur kita, melalui firman yang kita dengar, melalui suara hati, bahkan melalui peristiwa hidup yang tidak selalu mudah. Tetapi sering kali kita mengabaikannya. Kita merasa masih ada waktu. Kita berkata dalam hati, “Nanti saja berubah, nanti saja bertobat.” Tanpa kita sadari, kita sedang menyalahgunakan kesabaran Tuhan.

 

Nahum juga menggambarkan Tuhan sebagai Dia yang berjalan dalam badai dan angin, dan awan adalah debu kaki-Nya. Gambaran ini menunjukkan bahwa Tuhan berkuasa penuh atas seluruh ciptaan. Artinya, tidak ada yang luput dari kendali-Nya. Kesabaran-Nya bukan karena Ia tidak mampu bertindak, tetapi karena Ia memilih menahan diri. Di balik kesabaran itu, ada kuasa yang besar. Di balik diam-Nya, ada otoritas yang tidak tergoyahkan.

 

Seorang tokoh gereja, Augustinus, pernah berkata, “Kesabaran Tuhan bukanlah izin untuk terus berbuat dosa, melainkan kesempatan untuk bertobat.” Kata-kata ini menolong kita untuk melihat hati Tuhan dengan lebih jernih. Setiap hari yang kita jalani adalah anugerah. Setiap nafas yang kita hirup adalah bukti bahwa Tuhan masih memberi kesempatan.

 

Karena itu, renungan ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan melihat ke dalam diri sendiri. Mungkin bukan orang lain yang perlu kita pikirkan, tetapi diri kita sendiri. Apakah ada sikap, perkataan, atau perbuatan kita yang sebenarnya sudah lama ditegur Tuhan, tetapi belum juga kita tinggalkan? Apakah kita sedang hidup dalam kelonggaran yang kita anggap aman, padahal itu hanyalah kesabaran Tuhan yang sedang menunggu respons kita?

 

Dalam nilai hidup orang Batak, kita diajarkan menjaga hasangapon, hamoraon, dan hagabeon. Tetapi semua itu tidak akan berarti jika kita tidak hidup benar di hadapan Tuhan. Kehormatan sejati bukan hanya di mata manusia, tetapi di hadapan Allah. Dan hidup yang benar dimulai dari hati yang mau merespons kesabaran Tuhan dengan pertobatan yang sungguh.

 

Hari ini, Tuhan masih sabar. Ia masih memberi waktu. Ia masih mengetuk hati kita dengan lembut. Jangan menunggu sampai keadilan-Nya berbicara dengan cara yang lebih keras. Selagi masih ada kesempatan, marilah kita kembali kepada-Nya, memperbarui hidup kita, dan berjalan dalam kebenaran. “Sai tongtong ma hita marroha na imbaru di adopan ni Debata.” Kiranya hati kita senantiasa diperbarui di hadapan Tuhan. Amin.

 

Tuhan Yesus memberkati.

Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *