Renungan Harian
Rabu 18 Maret 2026
Mikha 6: 8
“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Renungan: “Menyiapkan Hati Menyambut Jalan Salib”
Ada masa-masa tertentu dalam perjalanan iman di mana kita tidak langsung berbicara tentang perayaan, tetapi tentang persiapan hati. Kita sedang berjalan menuju peringatan kematian dan kebangkitan Tuhan, sebuah perjalanan rohani yang seharusnya tidak dilewati dengan tergesa-gesa. Kita diajak untuk berhenti, diam, dan melihat ke dalam diri.
Di tengah suasana seperti itu, firman Tuhan dari Mikha 6:8 datang dengan sangat sederhana, tetapi sekaligus menembus hati. Tuhan tidak memberikan daftar panjang tentang apa yang harus kita lakukan. Ia tidak berbicara tentang ritual yang rumit. Ia hanya mengatakan apa yang baik dan yang Ia kehendaki: berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan-Nya.
Pertama, berlaku adil. Ini bukan konsep besar yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Justru ini sangat dekat: cara kita berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Dalam masa persiapan ini, kita diajak untuk jujur melihat diri. Mungkin ada kata-kata yang pernah melukai, sikap yang tidak adil, atau keputusan yang merugikan orang lain. Persiapan rohani tidak bisa dilepaskan dari keberanian untuk membereskan hal-hal seperti ini. Hati yang siap adalah hati yang bersedia berdamai, dengan sesama dan juga dengan dirinya sendiri.
Lalu, mencintai kesetiaan. Bukan sekadar setia karena kewajiban, tetapi karena hati kita sungguh mengasihi Tuhan. Sering kali iman kita berjalan seperti rutinitas: berdoa, beribadah, melayani, tetapi tanpa kehangatan relasi. Masa ini mengundang kita untuk kembali menyalakan kasih itu. Bukan tentang seberapa banyak yang kita lakukan, tetapi seberapa dalam kita berjalan bersama Tuhan. Kesetiaan yang lahir dari cinta akan membuat hubungan itu hidup kembali, bukan kering dan formal.
Dan yang ketiga, hidup dengan rendah hati di hadapan Tuhan. Inilah dasar dari semuanya. Kerendahan hati berarti kita berhenti berpura-pura kuat. Kita berani mengakui bahwa kita terbatas, sering gagal, dan sangat membutuhkan Tuhan. Dalam keheningan, kita membuka diri apa adanya. Tidak ada yang disembunyikan. Tidak ada yang ditutupi. Kita datang dengan hati yang jujur dan siap dibentuk.
Akhirnya, firman ini mengajak kita menyadari bahwa persiapan menyambut karya keselamatan Tuhan bukan dimulai dari luar, tetapi dari dalam. Bukan soal apa yang terlihat, tetapi apa yang terjadi di hati. Ketika hati mulai dibenahi, relasi dipulihkan, kesetiaan dihidupkan kembali, dan kerendahan hati ditumbuhkan, di situlah kita sedang benar-benar berjalan menuju perayaan yang sejati.
Kiranya perjalanan ini tidak kita jalani dengan terburu-buru, tetapi dengan kesungguhan. Sebab hati yang dipersiapkan dengan sungguh-sungguh akan mampu mengalami makna yang jauh lebih dalam ketika saat itu tiba. Amin.
Tuhan Yesus memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh
